April 15, 2016

Balada Pastur dan Pelacur

Roma, 1890

Seorang Pria muda berjalan, Menyusuri jalan yang mulai temaram. Diapitnya sebuah Buku yang amat mulia, Yang berisikan ajaran Cinta kasih dari Yang Maha Esa. Tanpa pernah dia lepaskan, Apalagi dia Campakan. Buku itu selalu menempel denganya, Bahkan dengan jiwanya, Yang mana dia telah Ikrarkan sehidup semati mendalami ajaran Kasihnya.

Malam ini dia ingin berjumpa, Menuju ke sebuah tempat di pinggiran Kota. Bukan Rumah ibadah ataupun tempat suci lainya, Hanya rumah peyot serta Tua. Dibawanya bunga serta makanan hangat, Yang ditujukan kepada pemilik Alamat.

Diketuknya
pintu dengan hati-hati.
"Tok, Tok, Tok" Ketukan awal.
"....".
"Tok, Tok, Tok" Kedua kali mencoba.
Pintupun terbuka perlahan, Sang empu rumah keluar dengan pertanyaan.
"Siapa disana?" Ucapnya.
"Aku benito, Membawakanmu sesuatu" Balas pemuda.
"Benito..." Ucap pemilik rumah dengan bergetar.
"Iya, Ini aku lisa" Balas si pemuda.
"Sudah berapa kali kubilang! Jangan pernah datangi aku lagi!".
"Tapi aku Menyayangimu Lisa! Tuhanpun tahu akan itu!" Sambar Benito.
"Apa yang akan khalayak katakan?! Jika Pastur dan Pelacur saling mencintai! Tak mungkin Benito!" Ucap lisa penuh isak.

Malam itu, Ketika para manusia sedang terlelap. Tanpa pernah memikirkan kerisauan, Membuang kepenatan yang telah menguap. Sang Waktu memutar kembali masa itu, Kala Gibran dan Elweis masih remaja lugu. Saat dimana rasa sayang mengalahkan bisu, Saat dimana Cinta menjadi candu, Saat dimana mereka merasa Bak Raja dan Ratu. Kala dulu mereka meceritakan hal sama, Mengulangnya dengan bahagia, Tanpa pernah berpikir akan luka.

Roma, 1883.

16 Tahun, Umur dimana para remaja mulai "Memahami" makna dari kasih sayang. Masa dimana para remaja mulai bersolek untuk menggaet lawan jenisnya, Agar terpesona padanya. Berbeda dengan "Mereka". Sekalipun tak pernah melirik, Apalagi tertarik. Benito berasal dari kaum terpelajar. Keluarganya adalah setengah Bangsawan, Yang sekilas memang terlihat dari Kharismanya yang menawan. Sedangkan Lisa berasal dari keluarga sederhana, Yang amat menjungjung tinggi kesopanan dan tata krama.

Tak sengaja. Itu mungkin kata yang tepat menggambarkan perjumpaan mereka, Yang sangat di Luar duga. Kala itu Sekolah akan mengadakan Ujian kenaikan, Untuk mengukur Kemampuan murid kebanyakan. Mereka dipertemukan pada mata pelajaran yang sama, Pada waktu yang sama pula. Sang Pencipta Melirik mereka. Di aturlah Skenario indah sedimikian rupa, Yang membuat mereka saling jatuh hati, Seperti moyang mereka Adam dan Hawa. Skenario itu berjalan amat mulus, Mengitari mereka sepeti janur benang yang amat Halus.

Puncaknya telah tiba, Seketika saat Lisa hampir tertimpa tumpukan meja. Benito berlari ke arahnya, menarik tubuh mungilnya. Bak Rama yang akan selalu melindungi Sinta. Awalnya biasa saja, Tanpa ada yang sama sekali Peka. Sampai akhirnya Tuhan tumbuhkan Rasa itu dengan kejamnya, Perlahan menyeliputi Hatinya, Menyingsingkan Fajar dalam pikiranya. Sampai mereka Sadar bahwa mereka telah Jatuh ke Pelukan Makhluk bernama "Cinta".

Nikmat tiada kata, Menggoreskan dalam dada. Terukir romantis dalam pikiran mereka, Terhanyut Kasih dalam Rasa. Menghantam Ombak kegalauan, Menghalangi Ombak kegelisahan. Mereka terus mengukir apa yang Pujangga sebut "Romansa".

Takdir berkata lain, Menghembuskan mereka jauh ke antah berantah, Berpisah ke Dimensi lain. Tertimpa Fitnah yang Amat Kejam, Keluarga Lisa dihabisi dalam satu Malam, Menyisakan kepiluan yang amat dalam. Keadaan yang memilukan itu berlanjut, Sampai akhirnya mereka berpisah, Hilang tak berbekas. Seperti Tembakau habis tersundut. Sang "Rama" tidak bisa menyelamatkan "Sinta".


Roma, 1890

"Maafkan Aku lisa. Sekali lagi aku mohon maafkan aku" Ucap Benito getir.
"Aku maafkan selalu benito, Selalu aku maafkan kau!" Balas Lisa terisak.
"Tapi Takdirlah yang memberikan Janur ini, Yang akhirnya membuat kita berpisah" Sambung lisa.
"Aku tahu, Tidakkah kau inginkan kita kembali kala dulu Lisa..".
"Sejatinya, Aku mau Benito! Tapi Aku ini Hina! Aku bukanlah Gadis desa lugu seperti dahulu!"
"Aku Hanya Wanita Jalang! Yang beruntung bisa menemukan Pria yang dulu dia Kasihi.." Lisa Tersedu.
"Aku mencintaimu, Itu berarti: kamu, kamu, kamu dan hanya kamu seorang." (1Ptr. 3:7).
"Benito..."
"Aku mencintaimu, Seperti Bapa mencintai Kita Anaknya lisa" Ucap Benito menahan sesak.

Berpeluklah dua insan yang dibatasi garis Norma, Yang setelah sekian lama berpisah kini kembali merajut Benang mereka. Seakan Waktu mematuhi mereka, Menghentikan sejenak Jarum Jam yang memutari Umat Manusia.

Sayang beribu sayang, Sekali lagi Skenario Tuhan tak terduga. Rajutan mereka perlahan mengendur, Memisahkan mereka lagi dengan teratur. Sang Pastur di Dakwa oleh Dewan Gereja karena melanggar Norma, Berzina dengan Pelacur Cantik Lisa. Hancur dan Melebur semua kepercayaan Masyarakat kepadanya, Tak meninggalkan segala Sisa.

"Dengan ini, Dewan Gereja menyatakan Pastur Besar Benito bersalah. Dengan dakwaan Berzina dengan melakukan perbuatan tercela dengan Pelacur Lisa".
"Tok, Tok, Tok..." Suara Palu Bergetar seiring dengan Dakwaan yang dijatuhkan kepadanya.

Begitulah, Lalu dibawalah benito ke Alun-alun kota. Di tontonlah Pendakwaan ini oleh Massa, Yang ingin melihat akhir dari Sang Pastur Muda dengan si Pelacur Hina.

"Mati saja Kau!"
"Bakar Saja!"
"Dasar Bajingan!"

Suara Massa makin menggema, Mengalahkan Segala suara yang ada. Diseretnya Benito dan Lisa ke atas Panggung eksekusi. Diberilah kesempatan kepada Benito dan Lisa untuk berbicara untuk Terakhir kalinya. Sebelem dieksekusi di Depan Gerumunan Massa.

"Apa pesan terakhirmu, Pastur lagi Pelacur?" Tanya Algojo.
"Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7) Ucap Benito dan Lisa parau.

Saat itu, Kala itu, Masa itu. Kembali lagi terulang seperti dulu. Sang Waktu Menghentikan Alur Jarum Jam dan Membuat dua Insan itu saling menatap untuk Terakhir Kalinya, Untuk Sekian Kalinya. Meleburkan segala Asa dan Upaya, Mencampurkan Kasih dan juga Cita.

"Grazie di tutto Lisa" Benito ucapkan dengan tangisan tersendunya.
"Untukmu juga , Il mio amore" Jawab Lisa dengan Tersenyum.

Bersatulah Jiwa dua Insan, Menuju Surga yang telah diberkati Oleh Tuhan. Menjalani kehidupanya tanpa halangan, Tanpa adanya lagi akan Rasa Kenangan. Melebur satu menjadi Satu Angan.

"Amore...."


Grazie di tutto : Terima kasih untuk semuanya.
Il mio amore : Cintaku.
Amore: Cinta.

Nasrullah Alif
[full_width]
LKISSAH
LKISSAH

Forum Pecinta Ilmu Sosial dan Sejarah

No comments:

Post a Comment