April 02, 2016

Respon Pemuda Terhadap Relevansi Demokrasi Di Indonesia

     Ditengah era Globalisasi yg terus bergulir dihadapan manusia Indonesia. Disitulah mereka melihat langsung berbagai peristiwa yang melibatkan segenap bangsanya dalam menjalankan fungsi negara yang berasaskan demokrasi Pancasila. Sudah sejak berdirinya negara ini menganut sistem demokrasi dengan gaya memimpin dan pemimpin yang berbeda-beda.
      Peristiwa yang bergulir dinegara ini takluput dari pengamatan bangsanya sendiri dimana kaum muda sebagai bagian dari bangsa merespon demokrasi sebagai sistem politik negaranya. Dilihat pada era sekarang demokrasi berjalan cacat, kerusakan timbul dimana-mana, yang populer adalah munculnya tindakan korupsi struktural.
    Demokrasi yang sudah berjalan 70 tahun belum bisa membuktikan dasar filosfinya yaitu, keadilan ada ditangan rakyat, malah yang terjadi rakyat tertindas dan demokrasi dikuasi golongan elit semata. Kekecewaan anak bangsa termanifestasikan dalam beragam bentuk respon. Menyuarakan suara lewat media, membuat forum dan mengkaji demokrasi, hingga pada organisasi berbasis agama.
    Demokrasi selalu dikaitkan dengan latar historis Yunani kuno yaitu filusuf Aristoteles, dan dalam ajaran Islam selalu dikaitkan dengan Piagam Madinah. Keterikatan historis yang mengokohkan demokrasi hingga saat ini. Di Indonesia demokrasi dianggap jauh lebih baik saat reformasi berhasil digulirkan sejak tahun 1998, dan pemudalah sebagai aktor utama yang tersorot media pada peristiwa ini.
      Demokrasi yang bergulir saat ini menimbulkan banyak sekali hal-hal baru yang mungkin belum ada pada masa Orde Baru. Munculnya partai politik, kebebasan pers, dan kebebasan berpendapat menjadi sedikit bagian dari banyak hal yang terlahir dari reformasi. Arus sejarah Indonesia yang menganut hingga dihadapkan persoalan-persoalan baru tentang demokrasi, hingga saat ini kesaktian yang tersirat dan diharapkan bangsa akan demokrasi belum juga terwujudnya yaitu kehidupan yang adil bagi seluruh rakyatnya.
      Pada forum diskusi LKISSAH, Rabu 23 Maret 2016 lalu, dua narasumber yang berbeda latar belakang yaitu Emha S.Asror dan Fajrul Falah mendiskusikan dan mengkaji demokrasi di negara ini. Emha sebagai narasumber yang banyak menimba ilmu di Forum Mahasiswa Ciputat (FORMACI) menganalisis demokrasi lewat kacamata sejarah. Dimana secara singkat Emha mengatakan bahwa demokrasi sebagai suatu sistem politik masih sangat relevan untuk negara ini, dengan analisis gerak sejarah yang Ia paparkan kepada audiens dimana sepanjang sejarah manusia, demokrasi adalah sistem politik yang cukup sukses untuk sebuah negara dalam menjalankan fungsinya. Disisi lain narasumber Fajrul Falah dengan latar belakangnya sebagai Ketua Kordinator Kampus Gerakan Mahasiswa Pembebasan di UIN Syarif Hidayatullah, memaparkan bahwa demokrasi jelas sudah tidak relevan dengan banyak bukti aktual yang disajikan pada audiens, korupsi, tindakan yang melanggar syariat agama, dan keterpurukan ekonomi menjadi contoh utama.
     Fajrul Falah mengatakan bahwa Khilafah adalah sistem yang tepat untuk bangsa dan negara ini. Al-qur'an dan hadits sebagai sumber nilainya, sebagaimana yang diajarkan nabi Muhammad SAW. Dalam diskusi ini terjadi interaksi yang dinamis, artinya pemuda masih peduli dengan keberlangsungan hidup bangsa dan negaranya meski dalam pandangan yang berbeda. Maka sudah menjadi hak semua orang menentukan nasib negaranya, dengan mengedepankan kesepakatan dan kepentingan bersama. IH

[full_width]
LKISSAH
LKISSAH

Forum Pecinta Ilmu Sosial dan Sejarah

No comments:

Post a Comment