April 10, 2016

Aku Benci Hujan



Rintik hujan turun ke alam ini, memberi energi ke Muka Bumi. Secara perlahan, tak tertahankan. Dia terus turun tanpa pedulikan orang-orang yang berjalan. Terkadang ringan, terkadang deras tak tertahankan. Agak menjengkelkan tapi itulah yang aku suka tentang hujan.
Kenangan, beberapa Pujangga yang sempat aku singgahi bukunya berkata seperti ini, “hujan itu 90 persen adalah kenangan, dan sisanya adalah cairan. Awalnya tak kumengerti apa maksudya, apalagi siratan maknanya, yang kutahu hujan itu menenangkan. Tak perduli apa yang dia hadapi, dia selalu mengalir tanpa tapi.
Januari, hujan turun amat deras. Saat seperti ini yang aku suka, memandang jendela tanpa duka, merasakan harmoni yang amat dalam. Meluapkan hal-hal kelam, terkadang di temani coklat hangat yang menemani kala hujan turun dengan pekat. Sayangnya bukan itu yang akan di bicarakan, apalagi kuterangkan. Karena di bulan ini aku akhirnya "Memahami" apa itu Kenangan.
Pulang, kala itu aku sedang berteduh menunggu angkutan yang tak kunjung datang. "sial" gerutuku dalam hati. Seorang Laki-laki juga sedang bersamaku kala itu. Ya benar, laki-laki inilah yang akhirnya menjadi "tambahan" dalam kisah ini. Tanpa tedeng aling-aling kau mengajakku berbicara bak kawan lama. Sekedar salam perkenalan sebagai pembuka.

"Kamu Mahasiswi?" dia memulai.
"Iya, Tahu darimana? jawabku.
"Haha, hanya feeling saja" jawabnya sambil terkekeh.
"Memangnya kamu kuliah dimana? " dia bertanya lagi.
"Dekat kok, di kampus seberang masjid itu"
"Benarkah? kebetulan sekali aku juga disana! "jawabnya terkejut”.

Begitulah, percakapan terus berjalan, tanpa kesenjangan sampai sang waktu yang akhirnya memisahkan.
Bergulir sekian lama, kita akhirnya semakin akrab, tak sekedar saling sapa di dunia nyata, terkadang kita saling sapa di dunia maya, kegembiraan itulah yang kau ukir dalam perasaan. Kau temani hari-hari sampai kita lupakan diri. Kurasakan saat itu adalah kenyamanan yang tak pernah terpikirkan akan perpisahan.
Sempat kau katakan padaku suatu waktu.

"Tak terasa, kita semakin dekat ya" dia memulai.
"Iya, kamuu benar" Sambarku.
"Hei, kamu tahu Edelweis?" tanyanya Tiba-tiba.
"Tahu, kenapa tiba-tiba?".
"Iya, bunga itu aneh tau. Walau begitu dia amat cantik dan sangat eksotik".
"Lalu?" tanyaku tak sabaran.
"Ya, seperti kamu"
"Apaan sih kamu" jawabku tersipu.

Edelweis adalah bunga khas pegunungan, walaupun dia aneh, dirinya penuh kecantikan, itulah yang kau katakan, kau samakan aku dengan kembang itu. Gombalan yang membuatku tersipu. Nyaman, rasa itu yang aku rasakan. Semakin terukir dalam perasaan, semakin lekat dalam ingatan. Pesonamu kadang buatku kagum, pesonamu kadang buatku terpingkal-pikal, kau bagai Chris tatum. Aktor Hollywood yang banyak membuat khalayak kagum.
Dia, saat itu kita sedang bersenda gurau,  seperti biasa kau buatku kagum dan bahagia kala diri parau. Tiba-tiba seorang perempuan datang menghampiri. Kau kenalkan dia sebagai teman. Aku tak merasakan keanehan, apalagi kejanggalan, aku menyambut salamnya seperti orang kebanyakan.
Sampai aku sadari. Bahwa "dia" adalah peretak hubungan...
Januari, satu tahun lama kita bersama, lalui waktu dengan suka, jalani hidup tanpa duka, tanpa sedikitpun rasakan Lara. Tapi itu hanya Ekspektasi. Hanya ada dalam anganku sendiri, tak pernah ada di dalam kau punya hati.
Sampai kau mengajakku bicara, di tempat pertama kali kita berjumpa

"Aku minta maaf" ucapmu.
"Untuk apa?" jawabku bingung.
"Untuk segalanya".
"Aku benar-benar tidak mengerti”.
"Maaf, seminggu lagi aku akan menikah "jawabnya dengan suara yang ditahan.
Bagai pohon dibelah halilintar, hatiku terguncang dan bergetar. Sampai diri ini hampir di ambang sadar.
"Kau pasti berbohong" Sangkalku.
"Aku bersunguh-sungguh".
"Tuhan, kenapa bisa begini" hatiku berbisik.
"Maaf, Aku tak bisa terus disini. Masih banyak yang harus aku siapkan".
".....".
"Terimakasih untuk Kenangan. Yang kini tinggal angan" Jawabnya sambil berlalu.
Meninggalkan aku. Yang tenggelam lama oleh Rindu...
Hancur. Semua Ingatan yang ada hancur lebur. Kau campakan aku dengan mudahnya, Bagai mayat yang memang pantas untuk dikubur. Tanpa salam perpisahan, tanpa pernah merasa mengukir ingatan. Kau buang aku kedalam kegelapan, menangis. Aku menangis sejadi-jadinya, bagai ditusuk oleh banyak senjata, seperti dirajam karena zina. Masih terngiang di telinga ini. Bualanmu tentang masa depan kita nanti, kau memujiku seakan aku seorang Bidadari. Aku tak mengerti. Bagaimana mungkin kau nikahi "dia" yang bahkan belum pernah bersandar padamu sepenuh hati. Bagaimana mungkin kau jatuh ke pelukanya dan jatuh hati?.
Hujan turun dengan perlahan, tak tertahankan. Dia terus turun tanpa pedulikan Orang-orang yang berjalan, terkadang ringan, terkadang deras tak tertahankan. Dia membawa kembali ingatan yang telah di campakan, dia kumpulkan semua angan, bercampur menjadi elegi dan menghangatkan, mengingatkanku pada dirimu dan membuatku akhirnya memahami "Kenangan".
"Aku Benci Hujan..."

Nasrullah Alif


LKISSAH
LKISSAH

Forum Pecinta Ilmu Sosial dan Sejarah

No comments:

Post a Comment