April 25, 2016

Pengaruh Eropa Dan Dampaknya Bagi Pembaharuan Di Dunia Islam


Pengaruh Eropa Dan Dampaknya Bagi Pembaharuan Di Dunia Islam


            Menurut Albert Hourain dalam Bukunya Arabic Throught Liberal Age, perkembangan yang terjadi di Eropa dalam berbagai Aspek memberikan dampak yang signifikan bagi dunia Islam yang pada saat itu tengah mengejar ketertinggalannya dalam bidang sains, teknologi, politik dan militer. Memasuki abad ke-18 kekuatan umat Islam yakni tiga kerajaan besar Ustmani, Safawi, dan Mughal Mengalami kemerosotan dihadapan Imperialisme Eropa. Kekalahan Ustmani pada pertempuran Wina 1683 melawan Austria dan jatuhnya Mesir ke tangan Perancis 1798 telah membuka mata bangsa Eropa bahwa kerajaan ini mulai tertinggal jauh.
            Jatuhnya Mughal pada 1857 menandai runtuhnya kekuatan politik Islam di India ke tangan Inggris, sementara kerajaan Safawi tengah terjadi perebutan kekuasaan yang tak terkendali sejak wafatnya Syah Abbas pada pertengahan abad ke-17. Sementara Bangsa Eropa telah memperluas hegemoninya di dunia Islam di Afrika Utara, Timur tengah dan bahkan ke Asia Tenggara. Oleh karena itu tak bisa dipungkiri lagi ide-ide Eropa telah masuk ke dunia Islam dan menjadi stimulus bagi gerakan pembaharuan di dunia Islam dalam berbagai aspek politik, sains, teknologi, sosial, dan pendidikan. Namun saya disini akan memaparkan beberapa fase masuknya ide-ide Eropa ke dunia Islam dari abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-20 menurut Albert Hourain.
            Fase pertama yaitu 1780 M-1798 M adalah masa dimana munculnya kesadaran diantara para cendikiawan Muslim akan tertinggalnya Islam dimata Bangsa Eropa. Pada fase ini banyak pusat-pusat peradaban Islam contohnya Mesir dan Instanbul mulai menerima pengaruh-pengaruh Eropa. Di mesir ketika ditakhlukan oleh Napoleon Bonaparte dari Perancis tidak hanya menjadi bagian dari koloni Perancis tapi menjadi tempat dimana pengaruh Eropa dan Islam berusaha bersinergi. Sekalipun Napoleon menaklukan negri Piramid ini ia bersama bawahannya Kleber membangun instusi pendidikan D’Egypte sebagai sarana pendidikan Modern ala Eropa di Mesir. Lembaga ini dibuka untuk semua kalangan bahkan Napoleon dan Kleber memperbolehkan para ulama dan ilmuwan muslim untuk bergabung dalam lembaga pendidikan dan riset ilmu pasti, alam, seni, teknik dan kedokteran ini. Diharapkan para ilmuwan muslim dan orientalis Perancis dapat bekerjasama dan saling bertukar dalam bidang intelektual untuk kemajuan diantara keduanya.
            Al-Jabarti menjadi saksi pada masa ini, sementara di Instanbul telah terjadi pula perkembangan yang signifikan dalam tubuh militer dan pendidikan Turki Ustmani, Sultan Mahmud II melakukan modernisasi struktur kemiliteran Ustmani dengan mengundang dua perwira Perancis, yaitu Comte De Rochefort dan Comte De Bonneval untuk mengajari pasukan Ustmani menggunakan meriam modern. Pasukan Jannisaries yang sebelumnya menjadi bagian penting dalam militer Ustmani dibubarkan karena sering melakukan pemberontakan, konspirasi, dan menghambat kemajuan lalu diganti dengan pasukan baru mengikuti gaya Eropa. Sementara dalam bidang pendidikan sekolah modern gaya Eropa mulai dibangun disamping Enderun atau Madrasah Islam Ustmani sebagai sarana pendidikan dan pengiriman para pelajar muslim ke Paris dan London untuk menempuh dan mempelajari kemajuan Inggris dan Perancis.
Fase II dimulai dari 1798 ditandai dengan munculnya pasukan bangsa Eropa seperti Italia, Spanyol, dan Perancis di Afrika Utara melakukan imperialisme dan kolonialisme di Mesir, Aljazair, Tunisia, Maroko dan Libya. Hal yang kedua adalah disamping negara-negara tersebut menjadi musuh bagi Islam, mereka juga menjadi model contoh bagi peradaban Islam untuk mengejar ketertinggalannya. Instanbul dan Edirne mulai meniru tata kota di Eropa dalam segi arsitektur dan kota kosmopolitan, gaya pasukan dan persenjataan Eropa mulai ditiru Turki Ustmani dan Mughal. Munculnya para pelajar Muslim yang lebih maju pemikirannya dibanding orang tuanya. Sementara para tokoh pada zaman ini adalah Muhammad Ali Pasya yang mulai memperbaharui system pendidikan Mesir meniru Perancis dan Italia dengan membangun sekolah teknik, kedokteran, pertambangan dan sekolah militer yang lebih modern. Pengiriman para pelajar Mesir ke Eropa juga turut dilakukannya demi memajukan Mesir namun ia tetap mengawasi para pelajar tersebut agar tidak terpengaruh pemikiran politik Eropa yang ia benci.
Para tokoh pembaharu yang ada pada zaman ini berusaha meyakinkan para orang-orang Jumud (kolot) bahwa sekalipun mereka mengikuti perkembangan dan kemajuan yang dicapai Eropa, mereka tetap menjadi muslim dan tidak menentang ajaran Islam sendiri. Dengan kata lain mengambil nilai positif yang baru tetapi tetap menjaga yang lama, yakni Islam. Fase ini berakhir pada tahun 1802 M. Berikutnya adalah fase ketiga (1802-1870) adalah masa yang sangat pesat perkembangannya di dunia Islam. Revolusi industri 1823 mulai memberikan dampaknya tidak hanya di Eropa tapi bagi dunia Islam banyak kota-kota besar di negara-negara Islam mulai menjadi kota-kota padat industri.. Banyak para Pembaharu Islam seperti Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh mulai berusaha mengintegrasikan kemajuan Eropa dengan ajaran-ajaran Islam dan dimuat pada majalah Al-Manar.
Bahkan Rasyid Ridha dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang kolot adalah yang menyebabkan umat Islam tertinggal oleh Eropa padahal pada zaman klasik dan pertengahan Eropa yang justru tertinggal. Dengan menggunakan Hadist dan Al-Quran tanpa penafsiran yang benar-benar otentik mereka menghambat kemajuan Islam dengan menganggap setiap yang berasal dari Eropa adalah produk kafir dan harus ditolak. Sementara Muhammad Iqbal melakukan pembaharuan dengan menyatakan bahwa jalan hidup sufi yang meninggalkan kehidupan dunia hanya untuk beribadah pada Allah adalah salah karena justru akan menyebabkan tertinggalnya peradaban islam dan sufistik justru bukanlah produk murni dari islam itu sendiri.
Faham Nasionalisme Eropa juga mulai menyebar di dunia Islam, contohnya India atas dasar kesamaan nasib, bangsa, dan ras yang terjajah, Muslim dan Hindu bersatu untuk mengusir penjajah Inggris pada 1857 M sekalipun perlawanan mereka dapat dipadamkan oleh pihak Inggris. Sistem Millet modern Turki Ustmani juga memicu berbagai tindakan Nasionalisme atas nama bangsa dan ras di wilayah-wilayah kekuasaannya hingga 1870 M. lalu banyak perubahan sosial terjadi pula, banyak para tokoh pembaharu berusaha menggabungkan sistem sosial sekular Eropa dengan Sosial Islam. Sekalipun sistem sosial sekuler diterapkan nilai-nilai Islam tetap ada hingga menciptakan masyarakat Islam yang modern.
Fase yang terakhir berlangsung 1870-1946 menandai berakhirnya Penetrasi Eropa ke dunia Islam dan unggulnya Eropa dalam berbagai bidang. Dengan munculnya Amerika dan Uni Soviet sebagai dua negara Super Power, pada masa ini mulai negar-negara Islam bangkit kembali sebagai kekuatan baru Pasca perang Dunia I dan II. Mesir, Indonesia, Iran dan Republik Turki adalah contoh dari beberapa negara yang memiliki penduduk muslim yang besar, meskipun beberapa dari negara tersebut tidak mendeklarasikan sebagai negara Islam yang secara penuh menerapkan syariat Islam, dan perindustrian minyak menjadi pendongrak negara-negara Islam seperti Irak, lalu Iran menjadi negara pengguna tekonologi nuklir. Jadi begitulah kiranya beberapa fase masuknya ide-ide Eropa yang nantinya menjadi batu loncatan bagi peradaban Islam untuk melakukan gerakan pembaharuan untuk mengejar kemajuan Eropa dan menyainginya.



Ahmad Fachri Huseini

[full_width]
LKISSAH
LKISSAH

Forum Pecinta Ilmu Sosial dan Sejarah

No comments:

Post a Comment