Pengaruh Eropa Dan Dampaknya Bagi Pembaharuan Di
Dunia Islam
Menurut Albert Hourain dalam Bukunya
Arabic Throught Liberal Age, perkembangan
yang terjadi di Eropa dalam berbagai Aspek memberikan dampak yang signifikan
bagi dunia Islam yang pada saat itu tengah mengejar ketertinggalannya dalam
bidang sains, teknologi, politik dan militer. Memasuki abad ke-18
kekuatan umat Islam yakni tiga kerajaan besar Ustmani, Safawi, dan Mughal
Mengalami kemerosotan dihadapan Imperialisme Eropa. Kekalahan Ustmani pada
pertempuran Wina 1683 melawan Austria dan jatuhnya Mesir ke tangan Perancis
1798 telah membuka mata bangsa Eropa bahwa kerajaan ini mulai tertinggal jauh.
Jatuhnya Mughal pada 1857 menandai
runtuhnya kekuatan politik Islam di India ke tangan Inggris, sementara kerajaan Safawi tengah terjadi
perebutan kekuasaan yang tak terkendali sejak wafatnya Syah Abbas pada
pertengahan abad ke-17. Sementara Bangsa Eropa telah memperluas hegemoninya di
dunia Islam di Afrika Utara, Timur tengah dan bahkan ke Asia Tenggara. Oleh karena itu tak
bisa dipungkiri lagi ide-ide Eropa telah masuk ke dunia Islam dan menjadi stimulus bagi gerakan pembaharuan di dunia Islam
dalam berbagai aspek politik, sains, teknologi, sosial, dan pendidikan. Namun
saya disini akan memaparkan beberapa fase
masuknya ide-ide Eropa ke dunia Islam dari abad
ke-18 sampai pertengahan abad ke-20 menurut Albert Hourain.
Fase pertama
yaitu 1780 M-1798 M adalah masa dimana munculnya kesadaran diantara para
cendikiawan Muslim akan tertinggalnya Islam dimata Bangsa Eropa. Pada fase
ini banyak pusat-pusat peradaban Islam
contohnya Mesir dan Instanbul mulai menerima pengaruh-pengaruh Eropa. Di mesir
ketika ditakhlukan oleh Napoleon Bonaparte dari Perancis tidak hanya menjadi
bagian dari koloni Perancis tapi menjadi tempat dimana pengaruh Eropa dan Islam
berusaha bersinergi. Sekalipun
Napoleon menaklukan negri Piramid ini ia bersama bawahannya Kleber membangun
instusi pendidikan D’Egypte sebagai sarana pendidikan Modern ala Eropa di
Mesir. Lembaga ini dibuka untuk semua kalangan bahkan Napoleon dan Kleber
memperbolehkan para ulama dan ilmuwan muslim untuk bergabung dalam lembaga
pendidikan dan riset ilmu pasti, alam, seni, teknik dan kedokteran ini.
Diharapkan para ilmuwan muslim dan orientalis Perancis dapat bekerjasama dan
saling bertukar dalam bidang intelektual untuk kemajuan diantara keduanya.
Al-Jabarti menjadi saksi pada masa
ini, sementara di Instanbul telah terjadi pula perkembangan yang signifikan
dalam tubuh militer dan pendidikan Turki Ustmani, Sultan Mahmud II melakukan
modernisasi struktur kemiliteran Ustmani dengan mengundang dua perwira Perancis,
yaitu Comte De Rochefort dan Comte De Bonneval untuk mengajari pasukan Ustmani
menggunakan meriam modern. Pasukan Jannisaries
yang sebelumnya menjadi bagian penting dalam militer Ustmani dibubarkan
karena sering melakukan pemberontakan, konspirasi, dan menghambat kemajuan lalu
diganti dengan pasukan baru mengikuti gaya Eropa. Sementara dalam bidang
pendidikan sekolah modern gaya Eropa mulai dibangun disamping Enderun atau Madrasah Islam Ustmani
sebagai sarana pendidikan dan pengiriman para pelajar muslim ke Paris dan
London untuk menempuh dan mempelajari kemajuan Inggris dan Perancis.
Fase
II dimulai dari 1798 ditandai dengan munculnya pasukan bangsa Eropa seperti
Italia, Spanyol, dan Perancis di Afrika Utara melakukan imperialisme dan kolonialisme di Mesir, Aljazair,
Tunisia, Maroko dan Libya. Hal yang kedua adalah disamping negara-negara
tersebut menjadi musuh bagi Islam, mereka juga menjadi model contoh bagi
peradaban Islam untuk mengejar ketertinggalannya. Instanbul dan Edirne mulai
meniru tata kota di Eropa dalam segi arsitektur dan kota kosmopolitan, gaya
pasukan dan persenjataan Eropa mulai ditiru Turki Ustmani dan Mughal. Munculnya para pelajar
Muslim yang lebih maju pemikirannya dibanding orang tuanya. Sementara para
tokoh pada zaman ini adalah Muhammad Ali Pasya yang mulai memperbaharui system
pendidikan Mesir meniru Perancis dan Italia dengan membangun sekolah teknik, kedokteran,
pertambangan dan sekolah militer yang lebih modern. Pengiriman para pelajar
Mesir ke Eropa juga turut dilakukannya demi memajukan Mesir namun ia tetap
mengawasi para pelajar tersebut agar tidak terpengaruh pemikiran politik Eropa
yang ia benci.
Para
tokoh pembaharu yang ada pada zaman ini berusaha meyakinkan para orang-orang Jumud (kolot) bahwa sekalipun mereka
mengikuti perkembangan dan kemajuan yang dicapai Eropa, mereka tetap menjadi muslim
dan tidak menentang ajaran Islam sendiri. Dengan kata lain mengambil nilai
positif yang baru tetapi tetap menjaga yang lama, yakni Islam. Fase ini
berakhir pada tahun 1802 M. Berikutnya
adalah fase
ketiga (1802-1870) adalah masa yang
sangat pesat perkembangannya di dunia Islam. Revolusi industri 1823 mulai
memberikan dampaknya tidak hanya di Eropa tapi bagi dunia Islam banyak
kota-kota besar di negara-negara Islam mulai menjadi kota-kota padat industri..
Banyak para Pembaharu Islam seperti Rasyid
Ridha dan Muhammad Abduh mulai berusaha mengintegrasikan kemajuan Eropa dengan
ajaran-ajaran Islam dan dimuat pada majalah Al-Manar.
Bahkan
Rasyid Ridha dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang kolot adalah yang
menyebabkan umat Islam tertinggal oleh Eropa padahal pada zaman klasik dan pertengahan
Eropa yang justru tertinggal. Dengan menggunakan Hadist dan Al-Quran tanpa
penafsiran yang benar-benar otentik mereka menghambat kemajuan Islam dengan
menganggap setiap yang berasal dari Eropa adalah produk kafir dan harus
ditolak. Sementara Muhammad Iqbal melakukan pembaharuan dengan menyatakan bahwa
jalan hidup sufi yang meninggalkan kehidupan dunia hanya untuk beribadah pada Allah
adalah salah karena justru akan menyebabkan tertinggalnya peradaban islam dan sufistik
justru bukanlah produk murni dari islam itu sendiri.
Faham
Nasionalisme Eropa juga mulai menyebar di dunia Islam, contohnya India atas
dasar kesamaan nasib, bangsa, dan ras yang terjajah, Muslim dan Hindu bersatu
untuk mengusir penjajah Inggris pada 1857 M sekalipun perlawanan mereka dapat
dipadamkan oleh pihak Inggris. Sistem Millet
modern Turki Ustmani juga memicu berbagai tindakan Nasionalisme atas nama bangsa
dan ras di wilayah-wilayah kekuasaannya hingga 1870 M. lalu banyak perubahan
sosial terjadi pula, banyak para tokoh pembaharu berusaha menggabungkan sistem
sosial sekular Eropa dengan Sosial Islam. Sekalipun sistem sosial sekuler
diterapkan nilai-nilai Islam tetap ada hingga menciptakan masyarakat Islam yang
modern.
Fase
yang terakhir berlangsung 1870-1946
menandai berakhirnya Penetrasi Eropa ke dunia Islam dan unggulnya Eropa dalam
berbagai bidang. Dengan munculnya Amerika dan Uni Soviet sebagai dua negara Super Power, pada masa ini mulai
negar-negara Islam bangkit kembali sebagai kekuatan baru Pasca perang Dunia I
dan II. Mesir, Indonesia, Iran dan Republik Turki adalah contoh dari beberapa
negara yang memiliki penduduk muslim yang besar, meskipun beberapa dari negara
tersebut tidak mendeklarasikan sebagai negara Islam yang secara penuh
menerapkan syariat Islam, dan perindustrian minyak menjadi pendongrak
negara-negara Islam seperti Irak, lalu Iran menjadi negara pengguna tekonologi nuklir.
Jadi begitulah kiranya beberapa fase masuknya
ide-ide Eropa yang nantinya menjadi batu loncatan bagi peradaban Islam untuk
melakukan gerakan pembaharuan untuk mengejar kemajuan Eropa dan menyainginya.
Ahmad Fachri Huseini
[full_width]
[full_width]


No comments:
Post a Comment