April 10, 2016

Cinta Lampion Merah

Episode 1         



          Senja ini aku duduk didepan komputer jinjingku didalam kamarku yang kebetulan lampunya mati, senja ini lampu yang mati aku gantikan dengan lampu kecil berwarna merah mirip lampion. Suasana kamar yang remang-remang dengan cahaya merah lampu lampion memunculkan banyak inspirasi dikepalaku. Inspirasi ini muncul dari kegalaun hati yang selalu saja timbul saat aku sendiri.
          Kegalauan hati disenja hari selalu tertuju pada sosok perempuan disana, yang disetiap akhir pekan aku dan  dia jarang berjumpa muka. Karena setiap akhir pekan ia pasti pulang kerumah orang tuanya dikota. Disenja hari ini, hatiku seperti senja-senja yang lalu, merasa ada yang mengikatku dengan tali besar dan kuat. Disetiap senja akal yang tak tau posisinya dimana selalu melayang-layang terbang tak tentu arah karena memikirkan dia. Beruntung disenja kali ini dihadapan lampion merah akalku ku ikat dengan hatiku yang kuat karena akalku ini selalu berusaha melepaskan diri dari tali yang besar dan kuat tadi.
          Entah perempuan disana merasa seperti apa? Yang jelas dihadapan lampion merah ini aku berfikir bahwa aku gila, aku rela mengikatkan diriku erat kepada tali yang besar dan kuat tadi. Aku rela sakit bahkan aku rela diikat hingga tali atau aku yang putus. Dihadapan lampion merah dikamar berukuran tiga kali dua meter ini aku merasa salah besar mengorbankan kata-kata yang seharusnya menjadi wakil dari perasaan yang ada di hati. Aku tidak pernah menyatakan suatu frasa yang mungkin dianggap luar biasa atau menjadi sebuah kepastian jika diucapkan yaitu Aku Cinta Padamu.
          Aku tidak mengucapkan frasa sakti itu pada dia, aku berperilaku layaknya seorang yang sudah mengucapkan frasa sakti itu. Aku mendekatinya, memanggil namanya dengan panggilan spesial, mengkhawatirkan keadaanya, dan masih banyak lagi. Namun akhir-akhir ini aku merasa rugi, dan menyesal, ternyata frasa sakti itu memang mesti keluar dari mulut ini. Padahal banyak pertanyaan yang muncul dbenak ku.
“Apa mesti diucapkan, toh itu Cuma sepenggal kalimat yang belum tentu kalimat itu bisa dinyatakan, sudah banyak contohnya manusia dengan mudah berkata namun tak ada bukti?”
Tapi lagi-lagi aku hanya beridealisme dengan tidak mengucapkan frasa sakti itu, hingga akhirnya memang mesti aku ucapkan. Frasa sakti itu kembali mengancamku, banyak orang bertanya padaku
“hey apa kamu sudah jadiaan sama dia?”  banyak sekali pertanyaan seperti ini di layangkan kepadaku. Selain sebagai simbol pengakuan diriku dan dirinya ternyata kesaktiannya sanggup menjadi legitimasi untuk umum, “seperti proklamasi saja” begitu hatiku berkata.
          Dengan sekian banyaknya buku yang aku baca hingga aku terpengaruh pada satu kalimat yang berkata seperti ini “kata hanyalah simbol, ketika diucapkan sesungguhnya makna yang ada dalam pikiran atau hati akan berkurang artinya”. Itu yang menjadi prinsipku saat ini, tidak perlu berkata “aku rela berbuat apapun untukmu” langsung saja bertindak melakukan hal yang bisa membantu dia. Tapi banyak orang yang tidak mengerti dengan prinsipku ini, mungkin saja aku yang salah atau mereka yang salah.
          Mungkin saja perempuan disana tidak seperti Hayati dalam Film “Tenggelamnya Kapal Van derwijk” yang jatuh cinta pada Zaenudin, tidak juga seperti Keydo dalam novel karangan Tati elmir yang terpukau dan jatuh cinta pada Kinang, apalagi seperti Annelis dalam novel “Bumi Manusia” karangan Pramoedya Anantatoer yang jatuh cinta pada pribumi yang bernama Minke. Perempuan disana sedang kena sialnya karena mesti bertemu dengan ku, laki-laki kampung yang tak tau tata krama.
          Kembali aku mengingatkan didepan lampion merah ini aku mengetik sepenggal cerita untuk aku persembahkan padamu, yang aku tak rela kamu dipanggil wanita, aku tak rela jika orang menyakitimu, aku lebih rela kamu menyakitiku seperti layaknya aku terikat tali, aku lebih memilih putus karena tali itu bukan aku yang memutus tali itu. Untuk perempuan disana yang aku maksud dengan tali besar dan kuat itu adalah cinta. Aku rela mati karena cinta, bukan aku yang mematikan cinta.

          Bila hingga enggkau baca sepenggal cerita ini belum saja percaya apa yang aku rasakan ini tak mengapa, hingga nantinya aku harus mati terikat tali. Setelah aku selesai mengarang cerita ini lampu lampion merah itu aku matikan dan aku nyalakan kembali lampu dikamarku sebagai tanda bahwa tidak sampai disini cerita kita. 

IH
LKISSAH
LKISSAH

Forum Pecinta Ilmu Sosial dan Sejarah

No comments:

Post a Comment