Episode 1
Senja
ini aku duduk didepan komputer jinjingku didalam kamarku yang kebetulan
lampunya mati, senja ini lampu yang mati aku gantikan dengan lampu kecil
berwarna merah mirip lampion. Suasana kamar yang remang-remang dengan cahaya
merah lampu lampion memunculkan banyak inspirasi dikepalaku. Inspirasi ini
muncul dari kegalaun hati yang selalu saja timbul saat aku sendiri.
Kegalauan
hati disenja hari selalu tertuju pada sosok perempuan disana, yang disetiap
akhir pekan aku dan dia jarang berjumpa
muka. Karena setiap akhir pekan ia pasti pulang kerumah orang tuanya dikota.
Disenja hari ini, hatiku seperti senja-senja yang lalu, merasa ada yang
mengikatku dengan tali besar dan kuat. Disetiap senja akal yang tak tau
posisinya dimana selalu melayang-layang terbang tak tentu arah karena
memikirkan dia. Beruntung disenja kali ini dihadapan lampion merah akalku ku
ikat dengan hatiku yang kuat karena akalku ini selalu berusaha melepaskan diri
dari tali yang besar dan kuat tadi.
Entah
perempuan disana merasa seperti apa? Yang jelas dihadapan lampion merah ini aku
berfikir bahwa aku gila, aku rela mengikatkan diriku erat kepada tali yang
besar dan kuat tadi. Aku rela sakit bahkan aku rela diikat hingga tali atau aku
yang putus. Dihadapan lampion merah dikamar berukuran tiga kali dua meter ini
aku merasa salah besar mengorbankan kata-kata yang seharusnya menjadi wakil
dari perasaan yang ada di hati. Aku tidak pernah menyatakan suatu frasa yang
mungkin dianggap luar biasa atau menjadi sebuah kepastian jika diucapkan yaitu Aku Cinta Padamu.
Aku
tidak mengucapkan frasa sakti itu pada dia, aku berperilaku layaknya seorang
yang sudah mengucapkan frasa sakti itu. Aku mendekatinya, memanggil namanya
dengan panggilan spesial, mengkhawatirkan keadaanya, dan masih banyak lagi.
Namun akhir-akhir ini aku merasa rugi, dan menyesal, ternyata frasa sakti itu
memang mesti keluar dari mulut ini. Padahal banyak pertanyaan yang muncul
dbenak ku.
“Apa mesti diucapkan, toh itu Cuma sepenggal
kalimat yang belum tentu kalimat itu bisa dinyatakan, sudah banyak contohnya
manusia dengan mudah berkata namun tak ada bukti?”
Tapi lagi-lagi
aku hanya beridealisme dengan tidak mengucapkan frasa sakti itu, hingga
akhirnya memang mesti aku ucapkan. Frasa sakti itu kembali mengancamku, banyak
orang bertanya padaku
“hey apa kamu sudah jadiaan sama dia?” banyak sekali pertanyaan seperti ini di
layangkan kepadaku. Selain sebagai simbol pengakuan diriku dan dirinya ternyata
kesaktiannya sanggup menjadi legitimasi untuk umum, “seperti proklamasi saja”
begitu hatiku berkata.
Dengan
sekian banyaknya buku yang aku baca hingga aku terpengaruh pada satu kalimat
yang berkata seperti ini “kata hanyalah simbol, ketika diucapkan sesungguhnya
makna yang ada dalam pikiran atau hati akan berkurang artinya”. Itu yang
menjadi prinsipku saat ini, tidak perlu berkata “aku rela berbuat apapun
untukmu” langsung saja bertindak melakukan hal yang bisa membantu dia. Tapi
banyak orang yang tidak mengerti dengan prinsipku ini, mungkin saja aku yang
salah atau mereka yang salah.
Mungkin
saja perempuan disana tidak seperti Hayati dalam Film “Tenggelamnya Kapal Van
derwijk” yang jatuh cinta pada Zaenudin, tidak juga seperti Keydo dalam novel
karangan Tati elmir yang terpukau dan jatuh cinta pada Kinang, apalagi seperti
Annelis dalam novel “Bumi Manusia” karangan Pramoedya Anantatoer yang jatuh
cinta pada pribumi yang bernama Minke. Perempuan disana sedang kena sialnya
karena mesti bertemu dengan ku, laki-laki kampung yang tak tau tata krama.
Kembali
aku mengingatkan didepan lampion merah ini aku mengetik sepenggal cerita untuk
aku persembahkan padamu, yang aku tak rela kamu dipanggil wanita, aku tak rela
jika orang menyakitimu, aku lebih rela kamu menyakitiku seperti layaknya aku
terikat tali, aku lebih memilih putus karena tali itu bukan aku yang memutus
tali itu. Untuk perempuan disana yang aku maksud dengan tali besar dan kuat itu
adalah cinta. Aku rela mati karena cinta, bukan aku yang mematikan cinta.
Bila
hingga enggkau baca sepenggal cerita ini belum saja percaya apa yang aku
rasakan ini tak mengapa, hingga nantinya aku harus mati terikat tali. Setelah
aku selesai mengarang cerita ini lampu lampion merah itu aku matikan dan aku
nyalakan kembali lampu dikamarku sebagai tanda bahwa tidak sampai disini cerita
kita.
IH


No comments:
Post a Comment