Teknologi
tidak dapat terlepas dengan kehidupan manusia. Perannyapun sangat dominan,
selama manusia mempunyai kesulitan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dan
berusaha memecahkannya, maka disitulah teknologi akan menjadi solusi. Teknologi
komunikasi dan informasi(TIK) adalah topik yang selalu hangat dan berkembang
mengikuti perkembangan teknologi. Kebutuhan manusia akan informasi yang aktual
dan mudah diakses, menjadi landasan bagi perkembangan teknologi komunikasi dan
informasi.
Istilah
teknologi informasi mulai populer di akhir tahun 70‑an. Pada masa sebelumnya istilah teknologi informasi
biasa disebut teknologi komputer atau pengolahan data elektronis(electronic data processing). Teknologi informasi didefinisikan sebagai teknologi
pengolahan dan penyebaran data menggunakan perangkat keras(hardware) dan
perangkat lunak(software), komputer, komunikasi, dan elektronik digital.[1]
Peranan
teknologi informasi pada aktivitas manusia saat ini memang begitu besar.
Teknologi informasi telah menjadi fasilitas utama bagi kegiatan berbagai sektor
kehidupan dimana memberikan andil besar terhadap perubahan–perubahan yang
mendasar pada struktur operasi dan manajemen organisasi, pendidikan,
trasportasi, kesehatan dan penelitian.
Bahkan
teknologi informasi menjadi salah satu faktor terjadinya konstruksi sosial. Tahap
pertama adalah konstruksi pembenaran, sebagai suatu bentuk konstruksi media
massa yang terbangun di masyarakat yang cenderung membenarkan apa saja yang ada
(tersaji) di media massa sebagai sebuah realitas kebenaran. Dengan kata lain,
informasi media massa sebagai otoritas sikap untuk membenarkan sebuah kejadian.
Tahap kedua adalah kesediaan dikonstruksi oleh media massa, yaitu sikap generik
dari tahap pertama. Bahwa pilihan seseorang untuk menjadi pembaca media massa
adalah karena pilihannya untuk bersedia pikiran-pikirannya dikonstruksi oleh
media massa. Tahap ketiga adalah menjadikan konsumsi media massa sebagai
pilihan konsumtif, dimana seseorang secara habit tergantung pada media massa.
Media massa adalah bagian kebiasaan hidup yang tak bisa dilepaskan. Pada
tingkat tertentu, seseorang merasa tak mampu beraktivitas apabila apabila ia
belum membaca koran[2].
Di
dunia pendidikan sejarah, teknologipun memiliki konstribusi yang besar.
Digitalisasi arsip, artefak, ataupun benda kuno lainnya memungkinkan para
sejarawan melakukan penelitian, tanpa langsung tinjauan ke lapangan. Selain itu
litertatur yang disediakan oleh Jurnal online memperbanyak pustaka yang kita
miliki. Namun realitanya, dalam proses penelitian tersebut tidak luput dari
praktek kecurangan. Banyaknya orang yang mempublikasikan makalahnya, membuat
para peneliti asal copy-paste hasil karya orang lain. Hal tersebut yang membuat
pengguna menjadi malas dalam mencari sumber primer.
Solusi
yang ditawarkan teknologi informasi dan komunikasi tentunya dapat menguntungkan
bahkan dapat memberi kerugian bagi pengguna. Tergantung kita selaku pengguna
menggunakannya dengan bijak. ARS
[full_width]


No comments:
Post a Comment