July 24, 2016

Seekor Nyamuk

(Sumber Foto: headforthehillsvhs.com)

Kalau boleh memilih, aku tak ingin dilahirkan seperti ini.  Lahir? Mungkin kata yang lebih tepat adalah dilesatkan, dilesatkan dari perut ibunda sebagai telur dan menunggu sampai telurku siap ditetaskan. Dengan kepakan sayap kecil, hinggap ke sana-kemari tanpa pernah ada yang peduli. Jangan berpikir aku kupu-kupu, yang meski berasal dari ulat bulu tapi tetap menjadi primadona dan sering diabadikan dalam bait-bait puisi. Siapa peduli dengan masa lalu kupu-kupu? Yang terpenting adalah yang tampak saat ini, bukan?
Jangan pula berpikir kalau aku seekor lalat, yang kedatangannya amat dibenci para ibu-ibu yang tak ingin anak-anaknya sakit perut akibat ulah lalat yang hinggap di jajanan mereka. Sekalipun aku juga insekta macamnya, aku lebih menjaga kebersihan dan tak hinggap di sisa makanan atau kotoran manusia.
Aku seekor nyamuk. Perangaiku adalah citra buruk yang orang-orang sematkan, katanya aku dan sebangsaku pembawa petaka, tak peduli dari golongan mana keluargaku berasal. Padahal, ada banyak jenis nyamuk di dunia ini, Anopheles, Culex, Aedes, atau apapun, dan sepengetahuanku keluargaku bukan berasal dari jenis pembawa penyakit itu. Keluargaku hanya menyebabkan bentol kecil yang akan hilang sepersekian detik saja, tapi manusia tak pernah mau mendengarkan. Nyamuk ya nyamuk, mesti dibasmi hingga jentik-jentiknya. Kalau begitu ku pikir ada yang keliru, jika manusia bisa mengatakan semua nyamuk sama saja, mengapa mereka mengkotak-kotakkan diri dalam golongan-golongan dan merasa paling benar? Apakah penggolongan-penggolongan itu hanya berlaku untuk manusia?
Betapa enaknya jadi manusia. Selama ini aku selalu memimpikan menjadi manusia yang diberkati dengan akal budi, dengan segala kuasa bisa melakukan apa saja yang disuka. Ah, andai saja, tapi aku tetaplah seekor nyamuk jantan yang hidup nomaden di sekitar kos-kostan. Pekerjaanku adalah mengawal nyamuk-nyamuk betina berburu setetes darah segar manusia karena memang hanya nyamuk betinalah yang minum darah. Aku berpatroli, berjaga-jaga agar jangan sampai nyamuk-nyamuk betina itu dirundung bahaya, takut-takut kalau sampai ketahuan, bisa-bisa kami digeprak dengan sapu lidi atau disemprot dengan cairan obat nyamuk. Sebenarnya aku dan kawan-kawanku bisa tahan, lama-lama kami memang kebal dengan pelbagai obat nyamuk murahan itu, tapi akhir-akhir ini aku dengar ibu pemilik kost-kostan di sini sudah berencana akan memanggil petugas fogging bila nyamuk-nyamuk semakin mewabah.
Aku bergidik ngeri, aku memang tak tahu fogging itu apa, tapi yang jelas ayahku pernah bercerita kalau ibuku meninggal karenanya. Meninggal? Ah, kurasa untuk insekta macam kami tak tepat menggunakan kata meninggal. Baiklah, kalau begitu ku ralat: ibuku mati karenanya. Begitu lebih baik bukan? Huft..aku benar-benar takut kalau sampai itu terjadi, sebagai anak tertua aku sudah memperingatkan adik-adik dan sepupuku untuk lebih waspada, yakni jangan berterbangan terlalu sering dan mewanti-wanti para nyamuk betina agar tak bertelur di bak mandi, aku pernah melihat ibu kost memasukkan bubuk abate ke dalamnya.
Manusia itu memang aneh, tak habis pikir dengan kelakukan mereka dalam memerangi sebangsaku. Katanya keluargaku penyebab malaria dan demam berdarah, padahal siapa pula yang mengundang keluargaku untuk menetap di sini? Lihat saja, kamar kost yang selalu berantakan itu, tumpukkan baju lembab dan kaus kaki kumal yang tak ganti seminggu, itu sudah cukup menjadi undangan untuk kami bertandang, lalu setelahnya mereka seenaknya menghakimi sebangsaku sebagai penebar teror penyakit.
Bumi tak lagi nyaman untukku, aku rindu dengan cerita ayah dan kakek tentang masa lalu nyamuk puluhan tahun silam. Katanya, nyamuk hidup tenteram di dalam hutan yang tak pernah terjamah manusia. Terbang bebas tanpa khawatir obat nyamuk cair dan fogging.  Nyamuk bebas makan apa saja, serta bertelur di air yang tergenang tanpa takut teracuni abate. Nyamuk hidup berdampingan dengan mahkluk hidup lain, dalam siklus rantai makanan yang memang sudah menjadi hukum alam.
Tiba-tiba manusia memperkosa hutan kami, merenggut masa depan ekosistem hutan, merampas semua yang ada atas nama pembangunan. Persetan dengan pembangunan, kalau ternyata hanya penghalusan kata dari eksploitasi hutan perawan. Terpaksa keluargaku menggalakkan urbanisasi, tak ada lagi tempat tinggal nyaman dan kebahagiaan di kampung halaman. Yang tersisa hanya kenangan, itu yang selalu Ayah dan Kakekku ceritakan.
Begitulah riwayat nyamuk-nyamuk terdahulu, dan sebagai nyamuk muda aku tak ingin terbunuh dengan sia-sia. Maka, aku selalu berdoa agar aku bisa menghabiskan sisa umurku ini untuk sesuatu yang berguna, tapi apalah daya seekor nyamuk pejantan sepertiku? Andai aku  jadi manusia...betapa enaknya jadi mereka..
“Jangan mimpi, bagaimanapun kita tetap nyamuk. Buyut dan nenek moyangmu juga nyamuk!” ujar ayah saat aku berandai-andai jadi manusia. Sepengetahuanku ayah memang menyimpan kebencian yang dalam terhadap manusia sepeninggal ibuku yang keracunan fogging.
“Semua manusia itu sama saja, jahat!” Ayah murka, wajahnya merah padam.
“Tak semua manusia jahat, ayah. Aku pernah melihat manusia yang baik, tak mencoba membunuhku meskipun aku sering berterbangan di kamar kostnya” aku mendebat, sementara ayah tak menerima jajak pendapat. Ayah merasa paling benar dan menganggap anaknya yang belum lama menetas ini paling bersalah. Tak ada demokrasi dalam kamus ayah, selama ini ayah mendidikku menjadi seekor nyamuk pejantan yang hanya bisa manut pada perintah Ayah.
“Kalau begitu apa beda Ayah dengan manusia? Ayah menganggap semua mausia sama saja, seperti manusia yang mengangap semua nyamuk sama saja” Cercauku, Ayah benar-benar naik pitam, baru kali ini aku lihat Ayah sebegitu marah.
“Cukup manusia saja yang punya jiwa kebinatangan, tidak dengan kita!” Untuk selanjutnya Ayah memilih mengepakkan sayapnya entah kemana, meninggalkanku sendiri dalam kemalangan sepi. Aku beringsut menemui Kakek, kurasa aku lebih suka berbicara dengan kakek, meskipun pendengarannya sudah mulai tak berfungsi dengan baik, kakek senang mendengarkan keluh kesahku.
“Nak, sekalipun kelihatannya jadi manusia itu menyenangkan, ketahuilah bahwa kau akan lebih berbahagia jadi dirimu sendiri, sebagai seekor nyamuk. Sejarah berulang nak, induk nyamuk akan menetaskan telur nyamuk, tidak yang lainnya” penekanan kakek terhadap statusku memberikan tamparan yang luar biasa, tapi itu cukup menguatkanku agar tetap menjadi diriku sendiri. Aku baru mengerti sekarang, sejatinya apa yang Kakek sampaikan tak jauh berbeda dengan Ayah, namun kemasan dalam penyampaian yang berbeda akan melahirkan respon yang berbeda pula. Ayah dan Kakek benar, seharusnya aku berpikir lebih rasional.
“Tak perlu berwujud lain untuk jadi lebih berguna, cukup menjadi dirimu, pergunakan hatimu, dan ikhlas.” Gumam Kakek pelan sambil terbatuk-batuk. Jangan bayangkan Kakekku terbatuk seperti manusia, batuk Kakek tak akan mungkin terdengar oleh telinga manusia yang lebih sering mendengarkan gosip di tv ketimbang mendengarkan suara hati mereka sendiri.
Usia kakek memang sudah renta, tapi Kakek masih eksis hidup di dunia. Tak ada yang tahu seberapa panjang usia kecuali sang pencipta, bisa jadi aku mati besok sementara Kakek akan kembali bugar seperti sediakala.
Mungkin, mimpi bertransformasi menjadi manusia hanyalah sebatas langit-langit kamar kost yang kusambangi malam ini. Dalam redup bola lampu lima belas watt, malam merangkul senyap yang mengantarkanku pada kehampaan. Tanpa sadar aku termenung sampai pagi, di balik sweater tebal yang tergantung lemah di sangkutan baju. Samar-samar kudengar kamar kost digedor, penghuni kost yang merupakan pria berpenampilan urakan membuka kunci pintu. Wajah bundar ibu pemilik kost menyembul, parfum murahan yang dikenakannya menyeruak, mengganggu indera penciuman pria urakan yang baru bangun dari tidurnya itu.
“Pukul delapan petugas fogging datang, mohon keluar sebentar dan tutupi makanan yang ada ya” pinta ibu kost, sementara yang dipinta mengangguk-angguk setuju. Aku terbelalak, pukul delapan! Itu berarti sepuluh menit lagi. Aku segera menyelinap dari sela-sela ventilasi untuk mengabarkan pada sebangsaku. Cukup sulit menemukan mereka, aku melesat cepat mengitari kamar kost yang jumlahnya belasan.
“Teman-teman, sebentar lagi akan ada fogging, cepat mengungsi!” aku berteriak-teriak, sebagian menurut untuk terbang menjauh, sebagian lagi tak percaya dengan ucapanku. Tak apa, yang penting aku sudah mengingatkan. Seketika aku teringat kakek, apakah ia bisa terbang cepat dengan penyakitnya yang kian parah? Kuputuskan untuk tak pergi sebelum membawa kakek, tapi setelah lelah berputar tak kutemukan kakek dimana-mana, apa mungkin sudah ada yang mengajaknya pergi? Kuharap begitu.

Dari kejauhan kulihat asap putih yang makin lama makin tebal, apakah kostan ini kebakaran? Pikirku.  Asap itu berbau sangit, makin lama makin memabukkanku. Aku hampir pingsan saat menyadari asap itu berasal dari seorang manusia berpakaian seperti makhluk luar angkasa yang diam-diam kulihat di tv. Di tangannya tergenggam alat berat yang menghembuskan asap putih mengepul. Aku ingin melarikan diri, terhuyung-huyung asap ini membuatku limbung, aku mereguk racun itu dan jatuh ke lantai. Mataku terpejam, semuanya terasa berputar-putar, dalam pekat kegelapan itu aku menyadari satu hal;  aku hanyalah seekor nyamuk jantan, tapi setidaknya ada yang kulakukan sebelum nyawa ini terenggut masa.*


Chitra Sari Nilalohita, lahir dan besar di Sawangan, Depok. Kini mengenyam pendidikan di jurusan PGMI UIN Jakarta sejak tahun 2013. Pencinta hujan, senja, kucing, serta segala sesuatu berwarna pink. Bisa dikunjungi di Fb: Chitrasari Nilalohita atau no.hp: 08567549492 ;):)*dimuat di mahasiswabicara.com
LKISSAH
LKISSAH

Forum Pecinta Ilmu Sosial dan Sejarah

No comments:

Post a Comment