Ketegangan dan konflik yang terjadi
antara doktrin agama dengan perkembangan dunia disisi lain memunculkan proses
sosiologis. Kemunculan suatu agama berserta pemikirannya kerap kali memberikan
landasan dasar bagi lembaga-lembaga sosial, politik, ekonomi dan budaya
dimasyarakat. Lembaga-lembaga yang bersangkutan itu kemudian akan merujuk pada
pemikiran agama yang berlaku dimasyarakatnya. Dijadikannya agama sebagai sumber
rujukan lembaga-lembaga sosial di masyarakat merupakan hal yang lumrah karena
menurut Sosiolog Prancis, Emile Durkheim
agama merupakan sumber kebudayaan yang sangat tinggi. Dari proses inilah
muncul elite agama yang sekaligus menjadi elite lembaga-lembaga sosial
dimasyarakat. Ketegangan dan konflik akan muncul ketika dalam proses sosiologis
ini ada orang atau sekelompok orang yang melakukan “pembaharuan pemikiran:”,
yang artinya mereka adalah kelompok yang ingin menggantikan pemikiran lama yang
dianggap sudah tidak relevan lagi. Kekuatan lama selalu ingin mempertahankan
posisinya dari ancaman kekuatan baru.
Demikianlah yang bisa
terinterperetasikan melalui kacamata sejarah dan sosiologi, walaupun tidak
semuanya konflik pemikiran agama terjadi seperti itu. Namun agama-agama besar
dunia seperti Kristen dan Islam telah dan sedang mengalami proses itu. Sejarah
dunia telah mencatat bahwa pada akhir abad pertengahan di Eropa terjadi pertentangan
antara institusi agama yaitu, gereja dengan para filusuf sehingga era ini dikenal
dengan era-pencerahan. Pada saat itu gereja dianggap sebagai institusi atau
lembaga yang telah memonopoli kebenaran dengan membelenggu rasionalitas karena
didasari oleh doktrin agama yang dianggapnya suci. Setelah melalui tahap
pencerahan kemudian Eropa melewati era Renaissance
yaitu suatu era dimana terjadi inovasi-inovasi imu pengetahuan dan
kesenian, kemudian setelahnya Eropa mengalami tahap Reformasi atau proses
modernisasi. Tiga tahapan yang dilalui oleh Eropa sejak masa pertengahan
dikenal dunia sebagai Zaman Kebangkitan.
Zaman kebangkitan Eropa ini kemudian
dijadikan suatu titik permulaan keberhasilan kemajuannya dalam bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi di zaman sekarang. Keberhasilan Eropa ini kemudian
dijadikan barometer oleh negara-negara yang penduduknyanya mayoritas muslim.
Negara yang mayoritas muslim seperti Mesir, Iran, Indonesia, Malaysia pada
umumnya telah mengalami masa kolonialisasi oleh bangsa Eropa sejak abad ke-15
sampai abad ke-20. Proses kolonialisasi inilah yang berperan penting dalam
mempengaruhi alam pikiran umat Islam karena, terjadi interaksi antara kaum
penjajah dengan kaum terjajah, ada semacam interaksi yang mentransmisikan
ilmu-ilmu pengetahuan kepada para kaum penjajah disamping aktifitasnya
mengeksplotasi kekakayaan sumber daya alam. Aktifitas transmisi ilmu
pengetahuan ini bisa kita ketahui dari didirikannya lembaga-lembaga pendidikan,
seperti d’Egypte yang didirikan oleh Napoleon Bonaparte di Mesir dan
sekolah-sekolah yang mengadopsi sistem pendidikan Barat lainnya.
Masa penjajahan yang dialami oleh
negara-negara mayoritas muslim ini membangkitkan kesadaran mereka untuk
mengejar ketertinggalannya dari Barat. Kesadaran inilah yang ditunjukan oleh
banyak tokoh intelektual muslim seperti, Muhammad Ali, Jamaludin al-Afghani,
dan Muhammad Abduh. Tokoh-tokoh intelektual muslim itu mengadopsi
gagasan-gagasan modern dari Barat, dari berbagai aspek diantaranya, aspek pendidikan, politik,
sosial dan ekonomi. Jamaludin al-Afghani, dan Muhammad Abduh melakukan pembaharuan
pemikiran Islam di latarbelakangi oleh ketertinggalan karena pada saat itu umat
Islam mengalami masa stagnan karena tertutupnya pintu ijtihad. Jamaludin
al-Afghani, dan Muhammad Abduh membawa sebuah gagasan baru untuk meenggantikan
tradisi pemikiran yang lama yang sudah tidak relavan lagi. Aktifitas
pembaharuan yang dilakukan oleh keduanya menyebar keseluruh dunia.
Meskipun
begitu sebelum Jamaludin al-Afghani, dan Muhammad Abduh telah ada dua tokoh
intelektual Islam yang lebih dahulu
menyebarkan gagasannya yaitu, Muhammad bin Abdul Wahab dan Sanusi. Muhammad
bin Abdul Wahab dan Sanusi memiliki karakter yang berbeda dengan Jamaludin
al-Afghani, dan Muhammad Abduh. Perbedaan karakternya adalah jika Jamaludin
al-Afghani, dan Muhammad Abduh melakukan pembaharuan dengan mengadopsi
gagasan-gagasan Barat atau lebih memandang kedapan, sedangkan Muhammad bin
Abdul Wahab dan Sanusi melakukan pembaharuannya dengan meniru pandangan zaman
Salafiyah (generasi awal Islam) atau bisa dikatakan dengan melihat kebelekang.
Pembaharuan
yang dilakukan oleh al-Afghani dan Abduh menyebar keseluruh dunia tidak
terkecuali Indonesia, begitupun dengan pembaharuan yang dilakukan Muhammad bin
Abdul Wahab. Pembaharuan yang terjadi di Indonesia didasari oleh beberapa
faktor penting diantarnya, Islam di Indonesia dianggap sinkretis karena
tercampur tradisi masyarakat pribumi sehingga ajarannya tidak murni lagi,
banyak orang-orang Indonesia yang belajar ke Haramyn yang kemudian disebut
dengan ulama Jawi pada abad ke-17 samapi abad ke-18 maka sepulangnya mereka
dari Haramyn ajaran yang didapat disana diseberluaskan di Indonesia, dan faktor
pendidikan modern yang dipekenalkan oleh para penjajah.
Ide-ide
pembaharuan ini kemudian menggantikan ide lama yang telah mapan dan melembaga
dimasyarakat. Pembaharuan pemikiran di Indonesia terjadi sejak gerakan yang
dilakukan oleh kaum Paderi pada 1845-an di Sumatra Barat, gerakan ini lebih
bertendensi kepada peniadaan bid’ah dan
khurafat. Kemudian pada awal abad ke-20
tepatnya pada tahun 1905 didirikanlah Sarekat Dagang Islam (SDI) sebuah
organisasi yang mewadahi pedagang-pedagang Islam yang menentang politik Belanda
karena memberikan keleluasaan untuk para pedagang asing teutama pedagang
Tionghoa yang waktu itu tengah menguasai perdagangan batik. Berdirinya SDI
adalah suatu manifestasi dari pembaharuan pemikiran Islam dalam aspek ekonomi
sebagaimana dikatakan oleh Deliar Noer. SDI ini kemudian pada tahun 1912 tidak
hanya terfokus pada aspek ekonomi saja melainkan memperluas jangkauannya kepada
bidang politik dan agama, pada masa ini SDI berubah nama menjadi Sarekat Islam
(SI) dibawah pimpinan H.O.S Tjokroaminoto.
Abad
ke-20 menjadi titik tolak kebangkitan umat Islam Indonesia dari penjajahan
dengan melakukan sebuah pembaharuan pemikiran dalam berbagai aspek, karena pada
masa ini berdiri juga organisasi-organisasi Islam seperti Muhammadiyah yang
berdiri pada 18 Nopember 1912, organisasi ini didirikan oleh Muhammad Darwis
atau lebih dikenal dengan panggilan Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Pada tahun 12
September 1923 didirikan juga Persatuan Islam (Persis) oleh Haji Zamzam dan
Haji Muhammad Yunus, selain itu ada juga Al-Irsyad yang didirikan pada 6
September 1914 oleh Syekh Ahmad Surkati seorang ulama yang berasal dari Sudan, dan
Nahdlatul Ulama yang berdiri pada 31 Januari 1926 didirikan oleh Kiyai Haji
Hasyim Asy’ari. Organisasi-organisasi ke-islaman ini pada umumnya mempunyai
tujuan yang sama yaitu ingin membangkitkan umat Islam dari keterpurukan melalui
pendidikan seperti pesantren dan sekolah-sekolah yang juga mengajarkan ilmu
pengetahuan umum. Selain itu pembentukan organisasi itu juga bertujuan untuk
menegakan hukum Islam yang pada waktu itu tercampur oleh tradisi pribumi, maka
dapat dikatakan bahwa organisasi-organisasi tersebut menggunakan Islam sebagai
semangat kemajuan (the spirit of
progress).
Gerakan
pembaharuan Islam yang diwujudkan dalam bentuk organisasi itu kemudian mampu
membuat banyak perubahan di berbagai bidang seperti pendidikan, politik, sosial
dan ekonomi yang terus berlanjut hingga sekarang. Kemudian pada pertengahan
sampai akhir abad ke-20 muncul para tokoh yang disebut oleh Fachry Ali dan
Bachtiar Effendy sebagai “kelompok pemikir baru”. Kemunculan “kelompok pemikir
baru” ini dimulai sejak tahun 1970, tokoh-tokohnya adalah Nurcholish Madjid,
Djohan effendi, Ahmad Wahib, M. Dawam Rahardjo, dan Abdurrahman Wahid.
Tokoh-tokoh tersebut mengusung tema pokok diantaranya, sekularisasi, kebebasan
berfikir, pluralisme, inklusivisme dan liberalisme. Tokoh-tokoh “kelompok
pemikir baru” ini mampu memperbaharui pemkiran sebelumnya meskipun banyak pro
dan kontra dalam perjalannya kelompok ini adalah kelanjutan dari jalan panjang
menuju kebangkitan Islam terutama di Indonesia.


No comments:
Post a Comment