Bulan
bundar bersandar pada langit yang pekat, bentuknya masih sama, selalu membuat
Mei berdecak kagum acapkali memandangnya. Purnama menjadi salah satu
kesukaannya, sejak saat ia terlahir sebagai hantu yang gemar duduk menyilang
kaki di dahan pohon jambu. Itu tempat favoritnya, sebab hanya di pohon itu ia
bisa menyaksikan bulan yang utuh dan suara jangkrik menyanyi dengan merdu. Sebagai
hantu, Mei merupakan hantu yang berkeadaban, seperti manusia, ia punya keluarga
dan cinta. Mei juga hidup dalam aturan-aturan layaknya manusia, tak boleh
keluar dari fajar hingga petang, menghormati yang lebih tua, dan tidak boleh
mengganggu manusia.
“Lihatlah,
betapa indahnya jika hantu dan manusia dapat hidup berdampingan, tak ada yang
saling mengganggu satu sama lain” Ayah Mei mengambil tempat di dekat anak
gadisnya yang kini beranjak remaja, ia menatap wajah Mei yang bersinar diterpa
terang bulan. Kemudian pandangannya beralih pada kelompok-kelompok mahasiswa
yang masih sibuk berkegiatan sampai larut malam. Student Center memang tak pernah absen dipenuhi oleh kerumunan
mahasiswa yang aktif dalam kegiatan yang mereka suka.
“Iya
Ayah” Mei menundukan kepala, ia tahu betul kalau ayahnya tengah menyindir
dirinya. Beberapa hari lalu Mei sempat melanggar peraturan, ia mengambang di
sekitar Student Center pada malam
minggu yang berhiaskan gerimis, suasana tampak sepi, tapi Mei tak tahu bahwa
sepi bukan berarti tidak ada orang. Dengan berdalih bahwa ia hanya ingin
melihat-lihat, Mei bergentayangan ke seantero Student Center yang disisipi
oleh berbagai ruang sekretariat dari pelbagai Unit Kegiatan Mahasiswa. Sambil
menyanyi Mei menoleh ke kanan dan kiri, ia larut dalam kesadaran utopis di
kampus UIN Jakarta.
Saat
itulah Mei tidak menyadari bahwa ada sosok selain dirinya yang secara tiba-tiba
keluar dari sebuah toilet kampus. Sambil meletakan kacamata minusnya, laki-laki
berambut klimis itu tak sengaja bertemu muka dengan Mei.
“Ha..Haa...Haaantuuuuu!”
Seketika wajahnya diliputi ketakutan, otot-otot matanya menegang, sejurus
kemudian ia telah berlari secepat kilat. Pontang-panting ia berlari dan menepi
ke salah satu ruang sekretariat, tubuhnya menggigil, kawan-kawannya bertanya
akan sikapnya yang tak wajar. Mei dengan lugu mengintip dari balik pintu,
laki-laki itu tergagap-gagap menjelaskan.
“Gu...gue
ketemu hantu guys, gila seram banget,
mukanya pucat, jalannya nggak nepak
tanah”
“Hah
serius?” kawan-kawannya yang sedang asyik membuat proposal kegiatan seketika mengalihkan
pandangan ke arah kawannya.
“Iya,
seram banget!” Bulu kuduknya meremang, wajahnya pucat pasi.
Dan
Mei tak ingin mendengarkan kelanjutan percakapan itu. Hatinya teriris, baru
kali ini ia mendapatkan hujatan yang demikian pedas.
Apa
benar wajahnya meyeramkan? Seseram apa? Ayah ibunya tidak pernah bilang begitu,
saudara-saudara dan teman-temannya malah mengatakan bahwa ia cantik. Apakah
standar kecantikan hantu dan manusia memang berbeda? Entahlah, berbagai
pertanyaan pun timbul tenggelam di benaknya, Mei menangis, tapi tangisannya malah
menambah nuansa seram bagi para mahasiswa itu. Sontak mereka berteriak
ketakutan, Ayah Mei yang baru menyadari itu pun menghampiri anak gadisnya dan lekas
membawanya pulang.
Mei
diadili di pengadilan hantu atas tuduhan melanggar etika, mengganggu dan sampai
menampakkan rupa pada manusia merupakan hal yang amat tercela, maka Mei
dianggap pantas menerima sanksi atas perbuatannya itu. Sidang pun dilakukan
secara terbuka yang disaksikan oleh para hantu, di atas gedung Fakultas
Tarbiyah dan Keguruan yang tingginya mencapai tujuh lantai.
“Apa
kau tahu mengganggu manusia tanpa sebab itu merupakan pelanggaran terhadap etika
hantu?” Mei menunduk, diusapnya air mata yang keluar dari sudut matanya. Pertanyaan
sang Hakim hanya dijawabnya dengan anggukan. Hakim terus mengajukan pertanyaan,
dan Mei menjawab sekenanya, sampai akhirnya sebuah keputusan diambil, Mei divonis
bebas dari hukuman karena perbuatannya yang terbukti tak disengaja dan
dilakukan oleh hantu yang masih dibawah umur. Hanya saja, Mei harus terus diawasi
oleh kedua orang tuanya dan tidak boleh pergi terlalu jauh, ia hanya boleh
berada di satu tempat, dan Mei memilih Pohon Jambu yang tumbuh di dekat Student Center.
Kembali
ke dahan pohon jambu.
Bulan
masih bundar dan cahayanya berpendar indah di langit malam.
“Ayah,
sebenarnya apa yang dipikirkan manusia terhadap kita?” tiba-tiba pertanyaan itu
muncul dari bibir Mei. Ayahnya mendegut ludah.
“Mengapa
kau bertanya begitu anakku?”
“Manusia
itu aneh, mereka takut pada kita, tapi sangat gemar menonton film-film yang
mengikutsertakan kita di dalamnya.” Kilah Mei, ia ingat pernah diam-diam
mengintip beberapa mahasiswa yang asyik berkerumun memandang layar komputer
jinjing. Film horror diputar, menyuguhkan
sosok hantu yang gemar mengganggu dan menakuti manusia.
“Kita
tak bisa menilai seperti itu karena kita bukan mereka, kita tak pernah tahu apa
yang mereka pikirkan tentang kita, begitu pula sebaliknya”
“Tapi
Ayah, mereka selalu menggambarkan sosok kita dengan citra meyeramkan. Apakah
kita memang benar-benar menyeramkan?” Tanya Mei, kedua alisnya bertaut.
“Anakku,
manusia hanya melihat apa yang ingin mereka lihat, terlepas dari pertanyaan
apakah kita memang menyeramkan atau tidak” Kalimat Ayahnya menggantung, Mei
mengerutkan kening.
“Jadi,
secara tidak langsung Ayah mengatakan bahwa kita cuma proyeksi yang dibuat manusia?
sebenarnya kita benar-benar ada atau cuma ilusi? Jangan-jangan kita hanya hidup
di kepala manusia” Mata Mei terbelalak, Ayahnya menyunggingkan senyum.
“Atau
jangan-jangan mereka yang hanya ilusi dan hidup di kepala kita” Ujar Ayahnya sambil
terbahak, anak gadisnya menatap ayahnya dengan sebal.
“Ayah
menertawaiku?” Mei melipat wajahnya.
“Tidak
nak, Ayah hanya mengikuti pola pikirmu” Ia mengacak anak rambut Mei, dibiarkannya
anak gadisnya itu menjawab pertanyaan-pertanyaannya sendiri.
“Semua
orang berhak untuk melakukan penilaian, hantu seperti kita juga begitu kan?”
kata ayahnya lagi, Mei mengangguk.
“Mari kita pulang, sudah hampir pagi.” Ajak
Ayahnya, Mei menurut meskipun kepalanya masih dipenuhi tanda tanya.
“Yang
terpenting kau harus ingat pesan ayah, patuhi semua aturan, jangan ganggu
manusia. Jadilah hantu yang baik, tak peduli bagaimana cara pandang mereka
terhadap kita” katanya. Mei mengangguk, keduanya tertawa.
Tapi
pada purnama selanjutnya, Mei tak lagi bisa tertawa. Sesaat setelah mengetahui
pohon jambu kesayangannya ditebang bersama pohon-pohon yang tumbuh di sana,
hatinya bagai tercabik-cabik. Di atas tanah itu kemudian dibangun gedung parkir
baru setinggi empat lantai, tak ada lagi rutinitas duduk menyilang kaki di
dahan pohon jambu yang kokoh, tak ada lagi nyanyian jangkrik, juga tak ada lagi
sudut pandang paling menarik dalam mengamati bulan bundar di langit malam.
Mei
berubah menjadi gadis yang pemurung, ia tak pernah beranjak dari puncak gedung
parkir dan menangis di malam-malam yang panjang. Dipandanginya orang-orang yang
berlalu-lalang dari atas sana. Mei ketakutan, seketika ia merasa betapa
orang-orang itu terlihat amat menyeramkan.
***
Profil:
Chitra
Sari Nilalohita, lahir dan besar di Sawangan, Depok. Kini mengenyam pendidikan
di jurusan PGMI UIN Jakarta sejak tahun 2013. Pencinta hujan, senja, kucing, serta
segala sesuatu berwarna pink. Bisa dikunjungi di Fb: Chitrasari Nilalohita atau
no.hp: 08567549492 ;):)
.



No comments:
Post a Comment