July 24, 2016

Perspektif Hantu


Bulan bundar bersandar pada langit yang pekat, bentuknya masih sama, selalu membuat Mei berdecak kagum acapkali memandangnya. Purnama menjadi salah satu kesukaannya, sejak saat ia terlahir sebagai hantu yang gemar duduk menyilang kaki di dahan pohon jambu. Itu tempat favoritnya, sebab hanya di pohon itu ia bisa menyaksikan bulan yang utuh dan suara jangkrik menyanyi dengan merdu. Sebagai hantu, Mei merupakan hantu yang berkeadaban, seperti manusia, ia punya keluarga dan cinta. Mei juga hidup dalam aturan-aturan layaknya manusia, tak boleh keluar dari fajar hingga petang, menghormati yang lebih tua, dan tidak boleh mengganggu manusia.
“Lihatlah, betapa indahnya jika hantu dan manusia dapat hidup berdampingan, tak ada yang saling mengganggu satu sama lain” Ayah Mei mengambil tempat di dekat anak gadisnya yang kini beranjak remaja, ia menatap wajah Mei yang bersinar diterpa terang bulan. Kemudian pandangannya beralih pada kelompok-kelompok mahasiswa yang masih sibuk berkegiatan sampai larut malam. Student Center memang tak pernah absen dipenuhi oleh kerumunan mahasiswa yang aktif dalam kegiatan yang mereka suka.
“Iya Ayah” Mei menundukan kepala, ia tahu betul kalau ayahnya tengah menyindir dirinya. Beberapa hari lalu Mei sempat melanggar peraturan, ia mengambang di sekitar Student Center pada malam minggu yang berhiaskan gerimis, suasana tampak sepi, tapi Mei tak tahu bahwa sepi bukan berarti tidak ada orang. Dengan berdalih bahwa ia hanya ingin melihat-lihat, Mei bergentayangan ke seantero Student Center  yang disisipi oleh berbagai ruang sekretariat dari pelbagai Unit Kegiatan Mahasiswa. Sambil menyanyi Mei menoleh ke kanan dan kiri, ia larut dalam kesadaran utopis di kampus UIN Jakarta.
Saat itulah Mei tidak menyadari bahwa ada sosok selain dirinya yang secara tiba-tiba keluar dari sebuah toilet kampus. Sambil meletakan kacamata minusnya, laki-laki berambut klimis itu tak sengaja bertemu muka dengan Mei.
“Ha..Haa...Haaantuuuuu!” Seketika wajahnya diliputi ketakutan, otot-otot matanya menegang, sejurus kemudian ia telah berlari secepat kilat. Pontang-panting ia berlari dan menepi ke salah satu ruang sekretariat, tubuhnya menggigil, kawan-kawannya bertanya akan sikapnya yang tak wajar. Mei dengan lugu mengintip dari balik pintu, laki-laki itu tergagap-gagap menjelaskan.
“Gu...gue ketemu hantu guys, gila seram banget, mukanya pucat, jalannya nggak nepak tanah”
“Hah serius?” kawan-kawannya yang sedang asyik membuat proposal kegiatan seketika mengalihkan pandangan ke arah kawannya.
“Iya, seram banget!” Bulu kuduknya meremang, wajahnya pucat pasi.
Dan Mei tak ingin mendengarkan kelanjutan percakapan itu. Hatinya teriris, baru kali ini ia mendapatkan hujatan yang demikian pedas.
Apa benar wajahnya meyeramkan? Seseram apa? Ayah ibunya tidak pernah bilang begitu, saudara-saudara dan teman-temannya malah mengatakan bahwa ia cantik. Apakah standar kecantikan hantu dan manusia memang berbeda? Entahlah, berbagai pertanyaan pun timbul tenggelam di benaknya, Mei menangis, tapi tangisannya malah menambah nuansa seram bagi para mahasiswa itu. Sontak mereka berteriak ketakutan, Ayah Mei yang baru menyadari itu pun menghampiri anak gadisnya dan lekas membawanya pulang.
Mei diadili di pengadilan hantu atas tuduhan melanggar etika, mengganggu dan sampai menampakkan rupa pada manusia merupakan hal yang amat tercela, maka Mei dianggap pantas menerima sanksi atas perbuatannya itu. Sidang pun dilakukan secara terbuka yang disaksikan oleh para hantu, di atas gedung Fakultas Tarbiyah dan Keguruan yang tingginya mencapai tujuh lantai.
“Apa kau tahu mengganggu manusia tanpa sebab itu merupakan pelanggaran terhadap etika hantu?” Mei menunduk, diusapnya air mata yang keluar dari sudut matanya. Pertanyaan sang Hakim hanya dijawabnya dengan anggukan. Hakim terus mengajukan pertanyaan, dan Mei menjawab sekenanya, sampai akhirnya sebuah keputusan diambil, Mei divonis bebas dari hukuman karena perbuatannya yang terbukti tak disengaja dan dilakukan oleh hantu yang masih dibawah umur. Hanya saja, Mei harus terus diawasi oleh kedua orang tuanya dan tidak boleh pergi terlalu jauh, ia hanya boleh berada di satu tempat, dan Mei memilih Pohon Jambu yang tumbuh di dekat Student Center.
Kembali ke dahan pohon jambu.
Bulan masih bundar dan cahayanya berpendar indah di langit malam.
“Ayah, sebenarnya apa yang dipikirkan manusia terhadap kita?” tiba-tiba pertanyaan itu muncul dari bibir Mei. Ayahnya mendegut ludah.
“Mengapa kau bertanya begitu anakku?”
“Manusia itu aneh, mereka takut pada kita, tapi sangat gemar menonton film-film yang mengikutsertakan kita di dalamnya.” Kilah Mei, ia ingat pernah diam-diam mengintip beberapa mahasiswa yang asyik berkerumun memandang layar komputer jinjing. Film horror diputar, menyuguhkan sosok hantu yang gemar mengganggu dan menakuti manusia.
“Kita tak bisa menilai seperti itu karena kita bukan mereka, kita tak pernah tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita, begitu pula sebaliknya”
“Tapi Ayah, mereka selalu menggambarkan sosok kita dengan citra meyeramkan. Apakah kita memang benar-benar menyeramkan?” Tanya Mei, kedua alisnya bertaut.
“Anakku, manusia hanya melihat apa yang ingin mereka lihat, terlepas dari pertanyaan apakah kita memang menyeramkan atau tidak” Kalimat Ayahnya menggantung, Mei mengerutkan kening.
“Jadi, secara tidak langsung Ayah mengatakan bahwa kita cuma proyeksi yang dibuat manusia? sebenarnya kita benar-benar ada atau cuma ilusi? Jangan-jangan kita hanya hidup di kepala manusia” Mata Mei terbelalak, Ayahnya menyunggingkan senyum.
“Atau jangan-jangan mereka yang hanya ilusi dan hidup di kepala kita” Ujar Ayahnya sambil terbahak, anak gadisnya menatap ayahnya dengan sebal.
“Ayah menertawaiku?” Mei melipat wajahnya.
“Tidak nak, Ayah hanya mengikuti pola pikirmu” Ia mengacak anak rambut Mei, dibiarkannya anak gadisnya itu menjawab pertanyaan-pertanyaannya sendiri.
“Semua orang berhak untuk melakukan penilaian, hantu seperti kita juga begitu kan?” kata ayahnya lagi, Mei mengangguk.
 “Mari kita pulang, sudah hampir pagi.” Ajak Ayahnya, Mei menurut meskipun kepalanya masih dipenuhi tanda tanya.
“Yang terpenting kau harus ingat pesan ayah, patuhi semua aturan, jangan ganggu manusia. Jadilah hantu yang baik, tak peduli bagaimana cara pandang mereka terhadap kita” katanya. Mei mengangguk, keduanya tertawa.
Tapi pada purnama selanjutnya, Mei tak lagi bisa tertawa. Sesaat setelah mengetahui pohon jambu kesayangannya ditebang bersama pohon-pohon yang tumbuh di sana, hatinya bagai tercabik-cabik. Di atas tanah itu kemudian dibangun gedung parkir baru setinggi empat lantai, tak ada lagi rutinitas duduk menyilang kaki di dahan pohon jambu yang kokoh, tak ada lagi nyanyian jangkrik, juga tak ada lagi sudut pandang paling menarik dalam mengamati bulan bundar di langit malam.
Mei berubah menjadi gadis yang pemurung, ia tak pernah beranjak dari puncak gedung parkir dan menangis di malam-malam yang panjang. Dipandanginya orang-orang yang berlalu-lalang dari atas sana. Mei ketakutan, seketika ia merasa betapa orang-orang itu terlihat amat menyeramkan.
***


Profil:
Chitra Sari Nilalohita, lahir dan besar di Sawangan, Depok. Kini mengenyam pendidikan di jurusan PGMI UIN Jakarta sejak tahun 2013. Pencinta hujan, senja, kucing, serta segala sesuatu berwarna pink. Bisa dikunjungi di Fb: Chitrasari Nilalohita atau no.hp: 08567549492 ;):)
.



LKISSAH
LKISSAH

Forum Pecinta Ilmu Sosial dan Sejarah

No comments:

Post a Comment