Perjuangan
untuk mencapai kemerdekaan tumbuh dengan cepat dalam setiap generasi, muncul
bentuk-bentuk perjuangan dalam berbagai bentuk seperti, perlawanan rakyat,
perlawanan bersenjata, dan perlawanan politik, baik yang kooperatif dan non-kooperatif.
Tentunya perjuangan yang dilakukan rakyat Nusantara melawan kolonialisme
mengandung berbagai resiko yang tinggi, mulai dari pengasingan, hukum penjara,
hukum cambuk, hukum mati, dan lain sebagainya. Perjuangan yang penuh dengan
pengorbanan itu akhirnya dapat membawa bangsa Indonesia meraih kemerdekaan
sampai kepada pembentukan Republik Indonesia.
Kota
Jakarta menjadi tempat utama dalam menjawab proses perjuangan tersebut.
Historisitas perjuangan menjadikan kota ini menjadi kota yang sangat dihormati.
Selain itu banyaknya suku dan budaya yang terdapat di kota ini menjadikan
Jakarta sebagai miniatur dari Indonesia.
Perjuangan
kota Jakarta sudah dimulai semenjak kedatangan VOC ke kota ini yang dahulu
dinamakan Jayakarta. VOC datang melalui pelabuhan Sunda kelapa yang niat
awalnya hanyalah berdagang dan mencari rempah-rempah. Namun, niat mereka
berubah melihat kekayaan alam di Nusantara, hingga beralih untuk
mengeksploitasi sumber daya alam dan masyarakat pribumi. Jayakarta yang
dianggap sebagai wilayah yang paling strategis dijadikan sebagai pos dagang
sekaligus tempat bongkar muat kapal kapal.[1]
Kolonialisme
terus di tanamkan, pemberontakan terjadi dimana-mana. Saat itu terdapat seorang
tokoh pemberani, dikala masyarakat pribumi menangis dibawah ketertindasan
kolonialisme, ia hadir menghimpun masyarakat pribumi untuk melakukan
perlawanan. Namanya adalah Untung Surapati. Singkat cerita Untung Surapati
merupakan budak dari seorang pedagang kaya raya, karena kebiasaanya melawan
koloni ia dua kali dijatuhkan hukuman pasung, namun karena keberuntungannya ia
berhasil lolos dan menjadi pemimpin dikalangan budak-budak Bugis dan Bali di
Batavia.[2] Selain itu ada kisah yang
begitu melegenda dan juga termasuk pejuang lokal yang bernama si Pitung dan
Entong Gendut, yang pergerakannya sangat menyulitkan pemerintahan JP Coen.[3]
Eksistensi
dan peran masyarakat lokal tidak terlepas dari perjuangan melawan koloni,
terutama peran ulamanya. Bahkan Prof. Dr. Azyumardi Azra memberikan keterangan
bahwa, para ulama telah menyiarkan Islam sejak zaman VOC di Sunda kelapa. Ulama
tersebut datang langsung dari Arab, Champa, India, dan China. Hal tersebut yang
menjadikan ciri khas masyarakat lokal atau dikenal dengan Betawi yang sangat Islamis. Sebagai contoh Syaikh Junaid Al-Batawi
yang belajar langsung dari Makkah.[4]
Kemudian
sebagai pusat pemerintahan, Jakarta menjadi tempat pelopor gerakan politik.
Tokoh-tokoh nasionalis yang memiliki kesamaan sejarah berhimpun melakukan
perlawanan kepada koloni sekaligus mernacang konsep Negara Republik Indonesia. Sebagai
salah satu contoh, tokoh nasionalis dari masyarakat lokal Jakarta adalah
Muhammad Husni Thamrin. Ia adalah wakil wali kota Batavia pada tahun 1929.
Namanya harum setelah perjuangannya membela masyarakat pribumi dibawah ketertindasan.
Selain itu ia juga kerabat dekat Ir. Soekarno ketua Partai Nasionalis Indonesia
(PNI) saat itu. Mereka bersama merancang konsep Negara Republik Indonesia.
Karena pergerakannya yang meresahkan pemerintahan Hindia Belanda, rumahnya
terpaksa dijaga ketat oleh polisi rahasia belanda (PID). Keluarganya tidak
boleh keluar dari rumah tanpa seizin dari kepolisian. Ditengah perjuangannya,
pada tanggal 11 Januari 1941 MH Thamrin wafat. Kematiannya sangat
kontroversial, dan memicu kemarahan masyarakat pribumi. Ada yang berpendapat ia
sakit, bunuh diri, dan ada pula yang berpendapat ia dibunuh oleh polisi Hindia
Belanda. Masyarakat berbondong-bondong mengatarkan jenazah ke pesemayaman
terakhirnya. Seorang tokoh sekaliber DN. Aidit pun ikut serta menguburkannya.[5]
Puncak
gerakan politik yang terjadi di Jakarta adalah saat Ir. Sukarno
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di kediamannya didampingi Bung Hatta dan
segenap masyarakat Indonesia di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.
Proklamasi tersebut disusul dengan penyebaran berita ke seluruh pelosok tanah
air.
Seperti
itulah sedikit gambaran perjuangan masyarakat lokal Jakarta guna membebaskan
diri dari kolonialisme. Yang dimulai dari kedatangan VOC hingga pristiwa proklamasi
Kemerdekaan Indonesia. ARS
[2]
Jakarta Kota Joang, Jakarta: Dinas Kebudayaan dan
Permuseuman Propinsi DKI Jakarta, 2003, hal 39
[3] Saidi. Ridwan, Sejarah Jakarta dan peradaban Melayu-Betawi,
Jakarta: Perkumpulan Renaissance Indonesia, 2010, hal 132.
[4] Kata pengantar dalam buku, Rakhmad
Zailani Kiki, Genealogi Intelektual Ulama
Betawi (Melacak Jaringan Ulama Betawi dari awal Abad ke-19 sampai Abad ke-21),
Jakarta: Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta, 2011, hal. 13
[5] Di dalam sebuah buku Kitab Merah, dengan referensi Majalah
Tempo, Edisi. 32/XXXVI/01 - 7 Oktober 2007 yang saya dapatkan dirumah teman
saya.
[full_width]


No comments:
Post a Comment