June 16, 2016

Sekilas Tokoh dan Perjuangan masyarakat Jakarta


Perjuangan untuk mencapai kemerdekaan tumbuh dengan cepat dalam setiap generasi, muncul bentuk-bentuk perjuangan dalam berbagai bentuk seperti, perlawanan rakyat, perlawanan bersenjata, dan perlawanan politik, baik yang kooperatif dan non-kooperatif. Tentunya perjuangan yang dilakukan rakyat Nusantara melawan kolonialisme mengandung berbagai resiko yang tinggi, mulai dari pengasingan, hukum penjara, hukum cambuk, hukum mati, dan lain sebagainya. Perjuangan yang penuh dengan pengorbanan itu akhirnya dapat membawa bangsa Indonesia meraih kemerdekaan sampai kepada pembentukan Republik Indonesia.
Kota Jakarta menjadi tempat utama dalam menjawab proses perjuangan tersebut. Historisitas perjuangan menjadikan kota ini menjadi kota yang sangat dihormati. Selain itu banyaknya suku dan budaya yang terdapat di kota ini menjadikan Jakarta sebagai miniatur dari Indonesia.
Perjuangan kota Jakarta sudah dimulai semenjak kedatangan VOC ke kota ini yang dahulu dinamakan Jayakarta. VOC datang melalui pelabuhan Sunda kelapa yang niat awalnya hanyalah berdagang dan mencari rempah-rempah. Namun, niat mereka berubah melihat kekayaan alam di Nusantara, hingga beralih untuk mengeksploitasi sumber daya alam dan masyarakat pribumi. Jayakarta yang dianggap sebagai wilayah yang paling strategis dijadikan sebagai pos dagang sekaligus tempat bongkar muat kapal kapal.[1]
Kolonialisme terus di tanamkan, pemberontakan terjadi dimana-mana. Saat itu terdapat seorang tokoh pemberani, dikala masyarakat pribumi menangis dibawah ketertindasan kolonialisme, ia hadir menghimpun masyarakat pribumi untuk melakukan perlawanan. Namanya adalah Untung Surapati. Singkat cerita Untung Surapati merupakan budak dari seorang pedagang kaya raya, karena kebiasaanya melawan koloni ia dua kali dijatuhkan hukuman pasung, namun karena keberuntungannya ia berhasil lolos dan menjadi pemimpin dikalangan budak-budak Bugis dan Bali di Batavia.[2] Selain itu ada kisah yang begitu melegenda dan juga termasuk pejuang lokal yang bernama si Pitung dan Entong Gendut, yang pergerakannya sangat menyulitkan pemerintahan JP Coen.[3]
Eksistensi dan peran masyarakat lokal tidak terlepas dari perjuangan melawan koloni, terutama peran ulamanya. Bahkan Prof. Dr. Azyumardi Azra memberikan keterangan bahwa, para ulama telah menyiarkan Islam sejak zaman VOC di Sunda kelapa. Ulama tersebut datang langsung dari Arab, Champa, India, dan China. Hal tersebut yang menjadikan ciri khas masyarakat lokal atau dikenal dengan Betawi yang sangat Islamis. Sebagai contoh Syaikh Junaid Al-Batawi yang belajar langsung dari Makkah.[4]
Kemudian sebagai pusat pemerintahan, Jakarta menjadi tempat pelopor gerakan politik. Tokoh-tokoh nasionalis yang memiliki kesamaan sejarah berhimpun melakukan perlawanan kepada koloni sekaligus mernacang konsep Negara Republik Indonesia. Sebagai salah satu contoh, tokoh nasionalis dari masyarakat lokal Jakarta adalah Muhammad Husni Thamrin. Ia adalah wakil wali kota Batavia pada tahun 1929. Namanya harum setelah perjuangannya membela masyarakat pribumi dibawah ketertindasan. Selain itu ia juga kerabat dekat Ir. Soekarno ketua Partai Nasionalis Indonesia (PNI) saat itu. Mereka bersama merancang konsep Negara Republik Indonesia. Karena pergerakannya yang meresahkan pemerintahan Hindia Belanda, rumahnya terpaksa dijaga ketat oleh polisi rahasia belanda (PID). Keluarganya tidak boleh keluar dari rumah tanpa seizin dari kepolisian. Ditengah perjuangannya, pada tanggal 11 Januari 1941 MH Thamrin wafat. Kematiannya sangat kontroversial, dan memicu kemarahan masyarakat pribumi. Ada yang berpendapat ia sakit, bunuh diri, dan ada pula yang berpendapat ia dibunuh oleh polisi Hindia Belanda. Masyarakat berbondong-bondong mengatarkan jenazah ke pesemayaman terakhirnya. Seorang tokoh sekaliber DN. Aidit pun ikut serta menguburkannya.[5]
Puncak gerakan politik yang terjadi di Jakarta adalah saat Ir. Sukarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di kediamannya didampingi Bung Hatta dan segenap masyarakat Indonesia di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Proklamasi tersebut disusul dengan penyebaran berita ke seluruh pelosok tanah air.
Seperti itulah sedikit gambaran perjuangan masyarakat lokal Jakarta guna membebaskan diri dari kolonialisme. Yang dimulai dari kedatangan VOC hingga pristiwa proklamasi Kemerdekaan Indonesia. ARS




[1] Blackburn. Susan, Jakarta: Sejarah 400 Tahun. Jakarta: Komunitas Bambu, 2011, hal 20
[2] Jakarta Kota Joang, Jakarta: Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta, 2003, hal 39
[3] Saidi. Ridwan, Sejarah Jakarta dan peradaban Melayu-Betawi, Jakarta: Perkumpulan Renaissance Indonesia, 2010, hal 132.
[4] Kata pengantar dalam buku, Rakhmad Zailani Kiki, Genealogi Intelektual Ulama Betawi (Melacak Jaringan Ulama Betawi dari awal Abad ke-19 sampai Abad ke-21), Jakarta: Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta, 2011, hal. 13
[5] Di dalam sebuah buku Kitab Merah, dengan referensi Majalah Tempo, Edisi. 32/XXXVI/01 - 7 Oktober 2007 yang saya dapatkan dirumah teman saya.

[full_width]
LKISSAH
LKISSAH

Forum Pecinta Ilmu Sosial dan Sejarah

No comments:

Post a Comment