Aktifitas Mengerenyitkan Dahi dan Menggelengkan Kepala
Oleh: Irvan Hidayat (Divisi Riset LKISSAH)
Tidak bosan-bosannya media cetak, dan media elektronik setiap harinya menerbitkan berita yang berisikan beragam masalah negara ini. Pesatnya perkembangan media informasi menambah tumpukan masalah yang terus menggunung. Belumlah satu masalah selesai timbul masalah lain, yang kemudian terpampang di dalam kolom berita, selalu demikian setiap harinya keadaan media sekarang ini.
Masyarakat sipil sebagai penonton, pendengar dan pembaca, mungkin lebih sering mengerenyitkan keningnya sambil menggelengkan kepala meyaksikan berbagai menu berita yang di hidangkan oleh media. Mungkin kita sebagai salah satu pemirsa juga merasakan bagaimana ekspresi yang akan kita lakukan jika setiap hari kita disugguhkan masalah.
Hal ini lumrah terjadi karena sebagaimana kita ketahui tubuh manusia disusun oleh sistem syaraf yang terpusat di otak. Ketika kita mendengar berita baik maka ekspresi wajah akan tersenyum, dan bagian tubuh lainnya juga akan melakukan ekspresi yang bernilai positif.
Maka dapat dibayangkan jika setiap hari masyarakat Indonesia disuguhkan berita-berita yang mengandung masalah terus-menerus maka yang terjadi setiap orang akan mengerenyitkan kening dan menggelengakan kepalanya. Mengerenyitkan kening dan menggelengkan kepala adalah ekspresi tubuh yang tentunya mempunyai makna.
Umumnya manusia yang berekspresi seperti itu telah melalui proses pengindraan seperti melihat, mendengar, dan bersentuhan langsung dengan hal-hal yang lebih dari biasanya. Hal-hal itu bisa saja berkonotasi aneh, luar biasa, atau hal-hal lainnya yang membuat sang pengindra harus berlaku seperti itu.
Namun dalam hal ini harus digaris bawahi bahwa yang mengerenyitkan kening dan menggelengkan kepala adalah orang-orang yang telah mendengar, membaca, dan bersentuhan langsung dengan berita-berita negatif yang ada di media cetak dan elektronik. Jika diperhatikan dengan seksama maka penulis berpendapat bahwa, setiap hari masyarakat Indonesia meluangkan waktunya untuk mengerenyitkan kening dan menggelengkan Kepala.
Masyarakat Indonesia meluangkan waktunya untuk menerima masalah-masalah yang terus mengelilingi bangsa dan negaranya. Masyarakat Indonesia yang aktif dalam mengakses informasi maka secara tidak langsung telah terlibat dalam mengawal jalannya pemerintahan. Tapi di sisi lain, bagaimana kondisi umum psikologi masyarakat?, pengalaman empiris penulis ada tiga jenis respon yang sering ditemukan.
Respon pertama adalah respon positif yaitu, orang yang mengakses berita-berita negatif akan terstimulus untuk bertindak memperbaiki atau menyelesaikan masalah sesuai kemampuannya. Respon kedua adalah respon apatis yaitu, tidak peduli dengan berita-berita yang beredar dan akan diam saja tanpa bertindak apa-apa.
Respon ketiga adalah respon negatif yaitu, akan melakukan sebuah respon destruktif terhadap suatu masalah yang bisa saja menambah masalah bukan menyelesaikan masalah. Dalam era dimana berita bisa diakses dengan secepat kilat ada beragam keuntungan dan kerugian yang harus disadari agar bisa dimanfaatkan dalam partisipasinya membangun negara.
Pihak pemilik media cetak dan elektronik harus serius dan bertanggung jawab juga memberitakan hal-hal yang benar. Jangan sampai media menjadi tunggangan pihak-pihak yang ingin mendulang keuntungan pribadi atau kelompoknya. Karena pada hakikatnya fungsi media adalah medium untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusia.
Bukan hanya media sebagai penyedia berita yang harus berperan aktif, namun masyarakat pada umumnya harus juga ikut berperan aktif dengan cara berfikir kritis terhadap berita-berita yang beredar, sehingga akan terjadi hubungan simbiosis mutalisme. Hubungan simbiosis mutualisme ini maka akan bisa dimanfaatkan sebagai salah satu basis utama dalam membangun kedaulatan bangsa dan negara.
[full-width]
[full-width]


No comments:
Post a Comment