June 21, 2016

Bulan Izinkan Aku Bercerita

Bulan Izinkan Aku Bercerita

Oleh: Nasrullah Alif (Divisi Riset LKISSAH dan Mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam)
Selamat pagi rembulan yang mulai tenggelam. Yang cahayanya mulai redup dan temaram, Yang selalu menghibur kala diri kelam. Setidaknya sebelum mentari menyingsing, izinkan aku untuk menumpahkan kesedihan dengan bercerita secuil kisah yang amat tidak penting.
Aku jatuh hati. Rasa ini amat mengangguku dari saban hari, Mengoyak pikiranku hingga menulusuk dalam sukmawi. Semua cara kulakukan untuk menguapkan rasa, hingga aku temui rasa jemu dalam raga. Tapi sebaliknya rasa ini semakin mengakar kuat hingga puncaknya, yang membuatku makin gilasengsara dan nelangsa.
Tapi kenapa hatiku selalu jatuh kepada insan yang sedang dirundung rasa? bukan untukku tapi kepada kekasihnya. Kenapa kisahku tak pernah semulus kisah dalam dongeng Cinderella? yang akhirnya bersatu, memadu kasih dalam kisah yang tak lagi sendu. Aku iri melihat dua sejoli saling merajut harap satu sama lain, merajutnya perlahan hingga jenjang pernikahan.
Dan, Bukan maksudku ingin melukai dirinya lagi kekasihnya. Pernahkah kamu rasakan bulan? menjadi pihak ketiga selalu saja menyesakkan dada, menusuk rasaku dengan amat keji dan tega. Aku hidup dengan rasa seperti itu, yang mengikisku dan membuat tulangku lantak dan parau.
Dia yang membuatku menaruh harap, yang membuat sukmaku makin hari main kalap. Merasuki pikiranku dengan perlahan, mengoyaku hingga mampus dalam kesepian. Aku lebih baik dihujam sebilah belati tajam, daripada terkoyak mampus dengan hunusan harapan yang terus saja menikam.
Setiap pagi hanya harapan saja yang kujadikan sarapan. Setiap siang hanya janji yang kutelan. Setiap malam hanya kepastian yang kujadikan teman dalam kegelapan. Batinku tersiksa, menusuk ke batin yang paling perasa. Mengulitiku dengan jemari kesadisan hingga aku sekarat dalam kenestapaan. Hanya untuk menunggu kamu menyelamatku dari kepedihan.
Bualanku kusadari memang berlebihan, Terlalu berharap mati untuk jadikanmu pasangan. Walaupun kutahu bahwa kamu sudah miliknya, tertawan oleh dirinya. Tetap saja dengan teganya rasa ini kupaksakan. Padahal Kutahu kau dirinya sedang mabuk dalam asmara keindahan. Dengan kejamnya aku harap pasanganmu mati, Agar aku bisa menggantikanya untuk dirimu menemani hari.
Dengan kejinya pikiran itu selalu berulang dipiranku, menari-nari dengan ringanya berputar di otakku. Padahal kuyakin aku tak ingin ada yang menghancurkanku, jika aku hidup bersamamu.
Bulan, pernahkah kau rasakan sedikit saja apa yang kurasa? pernahkah kau pahami yang aku selalu pendam di sepanjang hayatku bersamanya? ingin rasanya aku pergi dari bumi, menghampirimu hingga aku tewas secara perlahan. Ditemani oleh kamu dalam kesendirianku yang amat hina iniperlahan.
Sepertimu bulan, keadaanku memang penuh kesedihan. Terlihat cantik dari luarnya, sayangnya rapuh dan hancur dalam serta isinya. Menangis pun hanya akan menyayat lukaku semakin dalam. Meracau pun hanya akan buatku tambah gila. Mengutuk diri pun hanya buat diriku makin tak jelas dari keranaan. Memendam rasa ini juga tak akan pernah buatku hidup dalam kebahagiaan. Sekarat, dalam kehancuran.
Bagi kalian yang belum dirundug oleh makhluk yang bernama "Cinta". Kuharap kau tak pernah salah dalam menjatuhkanya, melabuhkanya. Sekali kau salah dalam menyusurinya, kau akan temui penyesalan yang amat menyiksa lagi selamanya. Hingga kau terkoyak dengan hunusan pedang yang amat tajam.


Semoga, tulisanku bisa meredam apa yang kurasa. Khususnya kamu sang bulan, yang selalu dirundung dalam kesepian. Dalam gelapnya malam.

[full_width]
LKISSAH
LKISSAH

Forum Pecinta Ilmu Sosial dan Sejarah

No comments:

Post a Comment