Curahan
Si Cangkul
Oleh: Nasrullah Alif (Divisi Riset LKISSAH, Cerpenis dan Mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Ribuan tahun aku digunakan oleh para
petani, untuk menuai bibit pangan saat pagi, saat kalian masih terlelap dalam
mimpi. Oleh karena itu, aku pun bangga. Bagaimana tidak? membantu umat manusia
terbebas dari kelaparan, mengenyangkan perut kalian dari kesakitan, membuat
kalian bahagia walau hanya sepersekian. Namaku juga diabadikan dalam sebuah lagu anak-anak, yang
mana anak-anak pun riang gembira saat menyanyikanya. Bahagia sekali aku mendengarnya,
oleh karena itu, aku pun akan selalu ada untuk anak Adam, walaupun aku mulai
lantak dan perlahan merasakanya.
Sekian hari aku membantu, sekian hari
pula aku merasa bahagia di dalam sukmaku. Hanya kebahagiaan yang kini menjadi
cita dan tujuanku. Pudar tidak pernah ada dalam kamus hidupku. Rasanya hanya
bekerja, menolong, dan membuat kaum petani atau masyarakat yang ada dalam kamus
hidupku, hingga saat ini. Seandaikan
saja aku tak pernah diciptakan, mungkin manusia akan kewalahan lagi kepayahan.
Bukanya membual atau berlagak sombong, tapi denganku manusia mengalami semua
dengan kemudahan. Segala aktivitas pertanian berjalan lancar, aku pun turut
bahagia tak luput saat diciptakan.
Memang hanya sekedar benda mati, aku
juga sadar akan hal itu. Oleh sebab itu, karena aku benda mati yang tak
bernyawa, jangan pernah kalian buat aku menjadi benar-benar “mati”. Manfaatkan
lah aku sekiranya kalian butuhkan aku, tapi jangan hancurkan aku dengan cara
yang membuat ku makin rapuh dengan perbuatan, sikap, dan ucapanmu. Aku sadar kini aku tak mulai relevan dengan keadaan zaman. Teknologi
mulai membuat perubahan, yang mana terus dan makin mengikisku dengan perlahan, lalu
hapuskan aku dengan kesedihan.
Setidaknya jangan jadikan aku alat
perbuatan keji, saat iblis telah merasukimu ke dalam relung hati. Membuatmu
kalap tanpa memikirkan diri, kau pun tanpa sadar lukai jasadmu dan juga jiwamu
yang amat suci.
Jangan jadikan aku alat untuk
membunuh! Jangan pernah!
Kenapa dengan teganya kalian buat
aku jadi sebuah alat keji? kenapa dengan teganya kau buat aku menjadi alat yang
bergelimang dosa! tidak cukupkah saudaraku golok dan pisau? yang telah kau
jadikan alat pelampiasan dosa hina dan kejimu.
Lagu yang diciptakan untukku, kini jadi
lagu yang membuat stigma di khayalak ramai. Sebab, kini kata “cangkul” telah
berpindah makna, dari sesuatu yang amat positif menjadi amat dibenci dan banal.
Nasi sudah menjadi bubur, aku pun
tak bisa berbuat apapun, karena aku hanya barang mati tak berdaya, yang mudah
lantak lagi hancur. Cukupkan hanya aku yang jadi pelampiasan keji kalian. Masih
banyak barang suci lainya yang belum ternodai.
Sekali lagi, kumohon tak mencemari
kami, barang mati yang hanya ingin menyenangkan kalian di sepanjang hari.
Kumohon!.
[full-width]


No comments:
Post a Comment