Diskusi II
Kajian Mukaddimah Ibnu Khaldun
Peradaban Manusia Secara Umum
Kita
sering mendengar kata “peradaban” dalam diskusi-diskusi sejarah atau budaya.
Namun, sangat jarang dari kita mengetahui apa makna dari peradaban tersebut.
Terkadang malah dengan sombongnya kita memperdebatkan makna dari kata tersebut,
yang padahal kita sendiri belum mengetahuinya secara konsepsi ilmu pengetahuan
yang benar. Ada pula beberapa orang dari kenalan penulis dengan percaya dirinya
menyatakan bahwa peradaban tak ada bedanya dengan kebudayaan. Ia berpendapat
bahwa kebudayaan dan peradaban terlahir secara bersamaan.
Untuk
menghindari kekeliruan tersebut, penulis mencoba menukil beberapa tokoh filusuf
dan sejarawan terkait makna dari peradaban.
1.
Arnold
Toynbee menyatakan bahwa peradaban adalah kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknologi
yang sudah lebih tinggi.
2.
Albion Small, adalah kemampuan manusia dalam mengendalikan dorongan dasar
kemanusiaannya untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
3.
Huntington, adalah sebuah identitas terluas dari budaya, yang
teridentifikasi melalui dalam unsur-unsur obyektig umum, seperti bahasa,
sejarah, agama, kebiasaan, institusi, maupun melalui identifikasi diri yang
subyektif.
Dari pendapat beberapa
tokoh di atas, secara khusus, peradaban dapat diartikan bagian-bagian dari
kebudayaan yang mencapai tingkat tinggi, halus, dan maju. Akan tetapi kata
peradaban kerap digunakan dengan makna yang lain. Maksudnya adalah kata
peradaban menurut umum mempunyai makna yang berbeda, yaitu berhubungan dengan
setiap peninggalan budaya pada kelompok dan wilayah tertentu.
Manusia
dan Peradaban
Dalam
memaknai peradaban, Ibnu Khaldun berpendapat bahwa manusia merupakan faktor
terpenting atas terbentuknya suatu peradaban. Manusia terdiri oleh dua unsur
yang bertolak belakang. Pada satu sisi, manusia memiliki roh dan di sisi
lain manusia memiliki jasad. Roh adalah sesuatu yang halus tidak,
terindra yang bersemayam di dalam diri manusia. Roh bersifat suci tak ternodai.
Pada sisi lainnya, Jasad berbentuk dan bersifat kotor. Kasarnya, jasad adalah
bagian terlihat dari manusia. Dengan memiliki dua unsur ini, manusia mempunyai
kecenderungan untuk berpihak kepada yang suci (roh) dan yang kotor (jasad).
Tarik menarik antar dua sisi inilah yang disebut akal pikiran, salah satu unsur
atas terbentuknya sebuah peradaban.
Salah
satu lainnya yang membentuk peradaban adalah manusia juga makhluk sosial.
Diantara sesama makhluk sosial, manusia akan saling membutuhkan dan serba
membutuhkan. Hal ini terlihat dari cara hidup manusia yang mengelompok. Dari
zaman primitif hingga ke zaman modern, manusia selalu mengelompok. Dan selalu
yang berkelompok yang mengahasilkan peradaban.
Bagian-bagian
Bumi yang Berperadaban
Selanjutnya
Ibnu Khaldun menjelaskan tentang bagian-bagian bumi yang berperadaban. Ibnu
Khaldun adalah satu orang yang mendahului zamannya. Pada masa itu ia telah
menyatakan bahwa bumi itu bulat. Kemungkinan ia mengikuti pendapat ulama-ulama
Islam pada abad ke-9 yang menyatakan bahwa bumi itu bulat.
Pada
mulanya, menurut Ibnu Khaldun, Allah menciptakan bumi diselimuti air. Lalu, air
yang menyelimuti bumi disurutkan sehingga timbul sebagian sisi dari bumi yang
disebut daratan. Penciptaan daratan untuk menciptakan makhluk hidup, seperti
hewan dan tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan manusia sebagai khalifah di dunia.
Bumi
terdiri dari empat sisi, utara-selatan dan barat-timur. Daratan merupakan
sebagian atau lebih sedikit dari bumi. Dari seluruh daratan, lebih banyak
daratan yang tidak berpehuni dibandingkan yang berpehuni. Dan daratan yang
kosong lebih banyak dibumi bagian selatan dari pada bumi bagian utara, sehingga
kemakmuran lebih condong ke bumi bagian utara. Namun kawasan yang dimakmurkan
dibelahan utara hanya kawasan dalam ukuran enam puluh derajat dari garis
khatulistiwa.
Meskipun
masih terdapat beberapa kekeliruan jika disandingkan dengan tradisi dan
teknologi modern. Namun, memandang Ibnu Khaldun secara sejarah bukan melalui
kaca mata zaman sekarang yang berjarak tujuh abad dari masanya. Ibnu Khaldun
adalah emas pada masanya, dengan keterbelakangan fasilitas dan tradisi budaya,
ia mampu menulis karya yang sangat fenomenal, yang mana melampau tradisi
keilmuan pada masanya.
Pemateri: Arief Muhayyan
Notulen: Ubaidillah
[full_width]
[full_width]


No comments:
Post a Comment