May 04, 2016

Kajian Mukaddimah Ibnu Khaldun Peradaban Manusia Secara Umum


Diskusi II

Kajian Mukaddimah Ibnu Khaldun
Peradaban Manusia Secara Umum
Kita sering mendengar kata “peradaban” dalam diskusi-diskusi sejarah atau budaya. Namun, sangat jarang dari kita mengetahui apa makna dari peradaban tersebut. Terkadang malah dengan sombongnya kita memperdebatkan makna dari kata tersebut, yang padahal kita sendiri belum mengetahuinya secara konsepsi ilmu pengetahuan yang benar. Ada pula beberapa orang dari kenalan penulis dengan percaya dirinya menyatakan bahwa peradaban tak ada bedanya dengan kebudayaan. Ia berpendapat bahwa kebudayaan dan peradaban terlahir secara bersamaan.
Untuk menghindari kekeliruan tersebut, penulis mencoba menukil beberapa tokoh filusuf dan sejarawan terkait makna dari peradaban.
1.        Arnold Toynbee menyatakan bahwa peradaban adalah kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang sudah lebih tinggi.
2.        Albion Small, adalah kemampuan manusia dalam mengendalikan dorongan dasar kemanusiaannya untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
3.        Huntington, adalah sebuah identitas terluas dari budaya, yang teridentifikasi melalui dalam unsur-unsur obyektig umum, seperti bahasa, sejarah, agama, kebiasaan, institusi, maupun melalui identifikasi diri yang subyektif.
Dari pendapat beberapa tokoh di atas, secara khusus, peradaban dapat diartikan bagian-bagian dari kebudayaan yang mencapai tingkat tinggi, halus, dan maju. Akan tetapi kata peradaban kerap digunakan dengan makna yang lain. Maksudnya adalah kata peradaban menurut umum mempunyai makna yang berbeda, yaitu berhubungan dengan setiap peninggalan budaya pada kelompok dan wilayah tertentu.
Manusia dan Peradaban
Dalam memaknai peradaban, Ibnu Khaldun berpendapat bahwa manusia merupakan faktor terpenting atas terbentuknya suatu peradaban. Manusia terdiri oleh dua unsur yang bertolak belakang. Pada satu sisi, manusia memiliki roh dan di sisi lain manusia memiliki jasad. Roh adalah sesuatu yang halus tidak, terindra yang bersemayam di dalam diri manusia. Roh bersifat suci tak ternodai. Pada sisi lainnya, Jasad berbentuk dan bersifat kotor. Kasarnya, jasad adalah bagian terlihat dari manusia. Dengan memiliki dua unsur ini, manusia mempunyai kecenderungan untuk berpihak kepada yang suci (roh) dan yang kotor (jasad). Tarik menarik antar dua sisi inilah yang disebut akal pikiran, salah satu unsur atas terbentuknya sebuah peradaban.
Salah satu lainnya yang membentuk peradaban adalah manusia juga makhluk sosial. Diantara sesama makhluk sosial, manusia akan saling membutuhkan dan serba membutuhkan. Hal ini terlihat dari cara hidup manusia yang mengelompok. Dari zaman primitif hingga ke zaman modern, manusia selalu mengelompok. Dan selalu yang berkelompok yang mengahasilkan peradaban.
Bagian-bagian Bumi yang Berperadaban
Selanjutnya Ibnu Khaldun menjelaskan tentang bagian-bagian bumi yang berperadaban. Ibnu Khaldun adalah satu orang yang mendahului zamannya. Pada masa itu ia telah menyatakan bahwa bumi itu bulat. Kemungkinan ia mengikuti pendapat ulama-ulama Islam pada abad ke-9 yang menyatakan bahwa bumi itu bulat.
Pada mulanya, menurut Ibnu Khaldun, Allah menciptakan bumi diselimuti air. Lalu, air yang menyelimuti bumi disurutkan sehingga timbul sebagian sisi dari bumi yang disebut daratan. Penciptaan daratan untuk menciptakan makhluk hidup, seperti hewan dan tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan manusia sebagai khalifah di dunia.
Bumi terdiri dari empat sisi, utara-selatan dan barat-timur. Daratan merupakan sebagian atau lebih sedikit dari bumi. Dari seluruh daratan, lebih banyak daratan yang tidak berpehuni dibandingkan yang berpehuni. Dan daratan yang kosong lebih banyak dibumi bagian selatan dari pada bumi bagian utara, sehingga kemakmuran lebih condong ke bumi bagian utara. Namun kawasan yang dimakmurkan dibelahan utara hanya kawasan dalam ukuran enam puluh derajat dari garis khatulistiwa.

Meskipun masih terdapat beberapa kekeliruan jika disandingkan dengan tradisi dan teknologi modern. Namun, memandang Ibnu Khaldun secara sejarah bukan melalui kaca mata zaman sekarang yang berjarak tujuh abad dari masanya. Ibnu Khaldun adalah emas pada masanya, dengan keterbelakangan fasilitas dan tradisi budaya, ia mampu menulis karya yang sangat fenomenal, yang mana melampau tradisi keilmuan pada masanya.

Pemateri: Arief Muhayyan
Notulen: Ubaidillah


[full_width]
LKISSAH
LKISSAH

Forum Pecinta Ilmu Sosial dan Sejarah

No comments:

Post a Comment