Judul Buku: Lentera Merah
Pengarang: Soe Hok Gie
Penerbit: Yayasan Bentang Budaya
Tempat: Yogyakarta
Tahun: 1999
Jumlah Hal: 68 Hal
Gagasan Penulisan:
Buku Lentera Merah adalah sebuah usaha
penulisan sejarah, yang melihat tentang bentuk pergerakan rakyat Indonesia di
awal abad ke-20, yang dikhususkan kepada gerakan yang berbau sosialistik.
Tetapi dalam buku ini, pembahasan yang dijelaskan oleh penulis dipersempit,
hanya menjelaskan tentang pergerakan Sarekat Islam di Semarang antara tahun
1917 M – 1920 M.
Alasan penulis memulai
pembahasan dari tahun 1917 M, dikarenakan pada tahun tersebut mulai bermunculan
kecenderungan pemikiran pemikiran sosialisme, dalam tubuh Sarekat Islam
Semarang. Sedangkan alasan penulis membatasi sampai dengan tahun 1920 M,
dikarnakan pada tahun tersebut berdirilah sebuah partai yang berhaluan komunis
(PKI).
Bab I: Pendahuluan
Bab ini menjelaskan
tentang alasan penulis, untuk membahas pergerakan kaum kiri dalam perjuangan
melawan kolonialisme. Dalam bab ini juga, sang penulis menjelaskan tentang
sumber-sumber sejarah yang diperoleh untuk penulisan buku ini.
Bab II : Latar Belakang
Sosial
Dalam bab ini penulis
menjelaskan tentang latar belakang munculnya gerakan gerakan sosialistik,
karena dipicu oleh keadaan sosial masyarakat yang memprihatinkan pada saat itu,
khususnya pada golongan kaum menegah ke bawah ( kaum buruh dan petani).
Pada tanggal 6 Mei 1917,
Peresiden sarekat Islam Semarang yang lama, Moehamad Joesoef, menyerahkan
kedudukannya kepada Presiden yang baru. Nama pemimpin tersebut adalah Semaoen,
yang pada saat itu masih berumur sembilan belas tahun.
Maka pada hari itu juga diumumkan struktur kepengurusan yang baru, yang
terdiri dari:
Presiden: Semaoen
Wakil Presiden: Noorsalam
Sekertaris: Kadarsiman
Komisaris: Soepardi, Aloei,
Jahja Aldjoefri, H. Boesro, Amathadi, Mertodidjojo, Kasrin.
Dari susunan kepengurusan ini, enam orang merupakan
wajah baru. Mereka adalah Semaoen, Noorsalam, Soepardi, Aloei, H. Boesro,
Amathadi, Mertodidjojo, dan Karsin. Peristiwa perpindahan kepengurusan ini,
mencerminkan adanya perubahan dalam masyarakat pendukung SI di Semarang. Pada
mulanya SI Semarang dipimpin oleh kalangan menengah dan pegawai negeri yang
mulai keluar dari SI, termaksud Soedjono. Kini dibawah kepemimpinan Semaoen,
pendukung SI Semarang berasal dari golongan Buruh dan Petani.
Proses perubahan tersebut, dikarnakan situasi sosial
pada masyarakat Indonesia pada saat itu menjelang berakhirnya Perang Dunia I.
Permasalahan sosial yang timbul pada saat itu adalah permasalah Agraria,
Volksraad dan Indie Weerbaar ( gerakan yang menginginkan diadakannya milisi
Bumi putra untuk melindungi Hindia Belanda), dan wabah Pes yang menyerang
masyarakat pribumi di Semarang pada tahun triwulan pertama 1917 M.
Bab III: Dari Kongres
Nasional Central Sarekat Islam ke-2 Sampai ke-3
Pada bab ini penulis menjelaskan tentang cara yang di
tempuh SI Semarang, dalam melawan kolonialisme dan kapitalisme Belanda. Dalam
bab ini juga diperlihatkan, pertentangan antara Semaoen dan Abdoel Moeis (
Wakil Presiden Central Sarekat Islam).
Pada awalnya SI Semarang, adalah organisasi yang
lembek dalam mengambil kebijakan. Tetapi setelah Semaoen mempengaruhi pemikiran
para tokoh SI Semarang, Semaoen segera merubah haluan SI Semarang ke arah yang
lebih Sosialis Revolusioner, dalam menentang kaptalisme dan kolonialisme
Belanda.
Salah satu cara yang dilakukan oleh Semaoen, adalah
menguasai koran Sinar Hindia yang dikemudian hari berubah menjadi Sinar Djawa.
Sinar Hindia adalah salah satu organ, yang masih dinaungi oleh SI Semarang.
Salah satu kebijakan
yang dilakukan oleh Semaoen, ialah merubah setruktural redaksi Sinar Hindia,
orang orang lama digantikan dengan orang orang muda yang berjiwa militan. Dalam
kata pengantarnya sendiri, koran Sinar Djawa akan lebih radikal dalam
menghadapi pemerintah, sedangkan terhadap para kapitalis dan para priyayi yang
memeras akan mereka musuhi.
Selain mengeritik
pemerintah dan para kapitalis dengan cara melalui tulisan, SI Semarang juga
melakukan aksi terhadap pihak pihak yang menyiksa rakyat. cara pertama yang
ditempuh oleh SI Semarang, ialah dengan membawa permasalahan kapitalisme
kedalam kongres SI Semarang yang kedua diselenggarakan dari 20 sampai 27
Oktober 1917 di Jakarta .
Pada kongres ini Semaoen
dan kelompok dari SI Semarang, mencoba mempengaruhi audien dengan cara cara
Marxis. Tetapi usaha tersebut mendapat perlawanan dari Abdoel Moeis Wakil
Presiden Central Sarekat Islam.
Mereka berdebat tentang Indie Weerbar, dimana Semaoen
tidak setuju dengan adanya gerakam milisi Bumiputra, yang menurut Semaoen
menjadikan Bumiputra sebagai tameng peluru untuk membela kepentingan kaum
penjajah. Sedangkan Abdoel Moeis setuju dengan gerakan ini dikarnakan, gerakan
ini juga melindungi tanah air.
Tetapi dalam hal
kapitalisme, Semaoen dan Abdoel Moeis mempunyai pemikiran yang sama, yaitu
untuk mencapai kemerdekaan diperlukan penumpukan kapital. Tetapi perbedaannya
Abdoel Moeis menginginkan kapital dipeggang oleh orang Indonesia, sedangkan
Semaoen ingin kapital dipegang oleh koprasi.
Pada akhirnya kesimpulan
yang diambil oleh kongres, bahwa SI harus melawan kapitalisme jahat. Pengertian
ini memberikan bahwa adanya kapitalisme baik, yaitu kapitalisme yang dipegang
oleh BumiPutra.
Hasil kongres SI yang kedua ini menurut penulis, banyak terpengaruh oleh pemikiran sosialisme
didalamnya. Argumen ini diperkuat dengan pendapat Abdoel Moeis dalam koran
Kaoem Moeda terbitan 29 Oktober1917 , yang mengatakan bahwa SI sekarang sudah
berbau Sosialis.
Setelah kongres SI yang
kedua selesai, dan hasil kongres tersebut lebih berpihak kepada Semaoen dan
kawan kawan. Pada bulan Desember tahun 1917 SI Semarang melakukan rapat, yang
membahas tentang ketidak beresan di tanah tanah partikulir. Selain itu SI Semarang
juga mengkordinir buruh untuk menjadi lebih militan, dan mengadakan pemogokan
terhadap pabrik pabrik yang sewenang wenang terhadap kaum buruh.
Korban dari pemogokan
ini terjadi di perusahaan mebel yang
memecat 15 buruhnya, atas nama SI Semaun dan Kadarisman mengkordinir pemogokan
massal dan menuntut 3 hal. Isi tuntutan tersebut ialah pengurangan jam kerja,
selama aksi pemogokan gaji tetap dibayar, memberi pesangon sebesar gaji 3 bulan
terhadap buruh yang dipecat.
Model pemogokan ini
sangat ampuh dalam melawan kaum kapitalis, karena dalam waktu 5 hari akhirnya
tuntutan yang diberikan, dipenuhi oleh pihak perusahaan mebel tersebut. Setelah
kejadian tersebut banyak kejadian mogok yang terjadi di Semarang, yang pada
akhirnya dimenangi oleh pihak buruh.
Bab IV: Dari Kongres
nasional CSI ke-3 sampai PKI
Dalam bab ini, penulis menjelaskan tentang
kendala kendala, yang dialami oleh SI Semarang dalam perjuangannya, khususnnya
tekanan dari pemerintah. Kendala yang dialami oleh SI Semarang membuat Semaoen dan kawan kawan membuat
pergerakan baru, yang berhaluan Sosialisme yaitu PKI.
Kongres SI yang ke 3
dilaksanakan, karena berhubungan erat dengan kondisi sosial masyarakat yang
memburuk padasaat itu. Ditambah lagi sikap pemerintah Hindia Belanda yang
menekan kaum pergerakan, seperti dipenjaranya Darsono di Surabaya, diusirnya
Sneevlit dari Hindia Belanda dan melambungnya harga makanan di pasar.
Dalam kongres SI yang ke-3, SI
Semarang berhasil mempengaruhi audien dan menguasai jalannya persidangan. Ini
dilihat dari hasil persidangan, yang tidak setuju terhadap Indie Weerbar, di
angkatnya Sneevlite sebagai wakil SI di Nederlans, dan perdamaian dengan orang
Tionghoa. Mungkin karena ketidak hadiran Abdoel Moeis, telah membuat sidang
berjalan dengan lancar.
Tetapi keberhasilan SI
Semarang dalam menyebarkan paham kiri di dalam tubuh Sarekat Islam, menyebabkan
pemerintah Hindia Belanda tidak tinggal diam. Pergerakan SI Semarang banyak
dicekal oleh pemerintah, seperti ditangkapnya tokoh tokoh revolusioner SI Semarang.
Dalam perkembangannya
Sarekat Islam pada tahun 1911 hingga 1919 terjadi perubahan dalam
pergerakannya, yang pada awalnya SI merupakan pergerakan perdagangan berubah
menjadi pergerakan rakyat.
Akhirnya pada tahun 23
Mei 1920 berdirilah PKI, yang dimana notabennya PKI adalah lanjutan dari ISDV.
Semaoen sendiri menjadi ketua pertamanya, dan Darsono menjadi wakilnya.
Bab V: Sekedar Catatan
Pada bab terakhir, sang
penulis lebih menekankan, tentang penjelasan asal usul tokoh tokoh SI Semarang, seperti asal usul
Semaoen yang merupakan buruh kereta api lokomotif. penjelasan
Selain itu penulis juga menjelaskan tentang ciri ciri Komunis yang
tercampur oleh alam pikiran tradisonal Jawa. Salah satu pengaruhnya seperti
nama samaran penulis yang berbau Marxis dalam koran Sinar Hindia menggunakan
nama pewayangan, tulisan Mas Marco yang menganggap bahwa perjuangan melawan
kapitalisme seperti peperangan Baratayudha.
Penilaian terhadap Buku:
Buku ini sangat bagus untuk pembaca yang ingin mengetahui, tentang
pergerakan kaum kiri pada masa Hindia Belanda. Tetapi sayangnya buku ini hanya
mengambil sumber sejarah yang berupa koran yang pro terhadap satu pihak saja,
seperti koran Sinar Hindia atau Sinar Djawa. Dimana sumber sumber tersebut
berasal dari satu pihak, yang bersifat subjektif dalam penulisannya.
Abdurrahman Heriza
[full_width]
Abdurrahman Heriza
[full_width]


No comments:
Post a Comment