May 15, 2016

Lentera Merah



Review
Judul Buku: Lentera Merah
Pengarang: Soe Hok Gie
Penerbit: Yayasan Bentang Budaya
Tempat: Yogyakarta
Tahun: 1999
Jumlah Hal: 68 Hal

Gagasan Penulisan:
            Buku Lentera Merah adalah sebuah usaha penulisan sejarah, yang melihat tentang bentuk pergerakan rakyat Indonesia di awal abad ke-20, yang dikhususkan kepada gerakan yang berbau sosialistik. Tetapi dalam buku ini, pembahasan yang dijelaskan oleh penulis dipersempit, hanya menjelaskan tentang pergerakan Sarekat Islam di Semarang antara tahun 1917 M – 1920 M.
            Alasan penulis memulai pembahasan dari tahun 1917 M, dikarenakan pada tahun tersebut mulai bermunculan kecenderungan pemikiran pemikiran sosialisme, dalam tubuh Sarekat Islam Semarang. Sedangkan alasan penulis membatasi sampai dengan tahun 1920 M, dikarnakan pada tahun tersebut berdirilah sebuah partai yang berhaluan komunis (PKI).
Bab I: Pendahuluan
            Bab ini menjelaskan tentang alasan penulis, untuk membahas pergerakan kaum kiri dalam perjuangan melawan kolonialisme. Dalam bab ini juga, sang penulis menjelaskan tentang sumber-sumber sejarah yang diperoleh untuk penulisan buku ini.
Bab II : Latar Belakang Sosial
            Dalam bab ini penulis menjelaskan tentang latar belakang munculnya gerakan gerakan sosialistik, karena dipicu oleh keadaan sosial masyarakat yang memprihatinkan pada saat itu, khususnya pada golongan kaum menegah ke bawah ( kaum buruh dan petani).
            Pada tanggal 6 Mei 1917, Peresiden sarekat Islam Semarang yang lama, Moehamad Joesoef, menyerahkan kedudukannya kepada Presiden yang baru. Nama pemimpin tersebut adalah Semaoen, yang pada saat itu masih berumur sembilan belas tahun.
Maka pada hari itu juga diumumkan struktur kepengurusan yang baru, yang terdiri dari:
Presiden: Semaoen
Wakil Presiden: Noorsalam
Sekertaris: Kadarsiman
Komisaris: Soepardi, Aloei, Jahja Aldjoefri, H. Boesro, Amathadi, Mertodidjojo, Kasrin.
Dari susunan kepengurusan ini, enam orang merupakan wajah baru. Mereka adalah Semaoen, Noorsalam, Soepardi, Aloei, H. Boesro, Amathadi, Mertodidjojo, dan Karsin. Peristiwa perpindahan kepengurusan ini, mencerminkan adanya perubahan dalam masyarakat pendukung SI di Semarang. Pada mulanya SI Semarang dipimpin oleh kalangan menengah dan pegawai negeri yang mulai keluar dari SI, termaksud Soedjono. Kini dibawah kepemimpinan Semaoen, pendukung SI Semarang berasal dari golongan Buruh dan Petani.
Proses perubahan tersebut, dikarnakan situasi sosial pada masyarakat Indonesia pada saat itu menjelang berakhirnya Perang Dunia I. Permasalahan sosial yang timbul pada saat itu adalah permasalah Agraria, Volksraad dan Indie Weerbaar ( gerakan yang menginginkan diadakannya milisi Bumi putra untuk melindungi Hindia Belanda), dan wabah Pes yang menyerang masyarakat pribumi di Semarang pada tahun triwulan pertama 1917 M.
Bab III: Dari Kongres Nasional Central Sarekat Islam ke-2 Sampai ke-3
Pada bab ini penulis menjelaskan tentang cara yang di tempuh SI Semarang, dalam melawan kolonialisme dan kapitalisme Belanda. Dalam bab ini juga diperlihatkan, pertentangan antara Semaoen dan Abdoel Moeis ( Wakil Presiden Central Sarekat Islam).
Pada awalnya SI Semarang, adalah organisasi yang lembek dalam mengambil kebijakan. Tetapi setelah Semaoen mempengaruhi pemikiran para tokoh SI Semarang, Semaoen segera merubah haluan SI Semarang ke arah yang lebih Sosialis Revolusioner, dalam menentang kaptalisme dan kolonialisme Belanda.
Salah satu cara yang dilakukan oleh Semaoen, adalah menguasai koran Sinar Hindia yang dikemudian hari berubah menjadi Sinar Djawa. Sinar Hindia adalah salah satu organ, yang masih dinaungi oleh SI Semarang.
            Salah satu kebijakan yang dilakukan oleh Semaoen, ialah merubah setruktural redaksi Sinar Hindia, orang orang lama digantikan dengan orang orang muda yang berjiwa militan. Dalam kata pengantarnya sendiri, koran Sinar Djawa akan lebih radikal dalam menghadapi pemerintah, sedangkan terhadap para kapitalis dan para priyayi yang memeras akan mereka musuhi.
            Selain mengeritik pemerintah dan para kapitalis dengan cara melalui tulisan, SI Semarang juga melakukan aksi terhadap pihak pihak yang menyiksa rakyat. cara pertama yang ditempuh oleh SI Semarang, ialah dengan membawa permasalahan kapitalisme kedalam kongres SI Semarang yang kedua diselenggarakan dari 20 sampai 27 Oktober 1917 di Jakarta .
            Pada kongres ini Semaoen dan kelompok dari SI Semarang, mencoba mempengaruhi audien dengan cara cara Marxis. Tetapi usaha tersebut mendapat perlawanan dari Abdoel Moeis Wakil Presiden Central Sarekat Islam.
Mereka berdebat tentang Indie Weerbar, dimana Semaoen tidak setuju dengan adanya gerakam milisi Bumiputra, yang menurut Semaoen menjadikan Bumiputra sebagai tameng peluru untuk membela kepentingan kaum penjajah. Sedangkan Abdoel Moeis setuju dengan gerakan ini dikarnakan, gerakan ini juga melindungi tanah air.
            Tetapi dalam hal kapitalisme, Semaoen dan Abdoel Moeis mempunyai pemikiran yang sama, yaitu untuk mencapai kemerdekaan diperlukan penumpukan kapital. Tetapi perbedaannya Abdoel Moeis menginginkan kapital dipeggang oleh orang Indonesia, sedangkan Semaoen ingin kapital dipegang oleh koprasi.
            Pada akhirnya kesimpulan yang diambil oleh kongres, bahwa SI harus melawan kapitalisme jahat. Pengertian ini memberikan bahwa adanya kapitalisme baik, yaitu kapitalisme yang dipegang oleh BumiPutra.
Hasil kongres SI yang kedua ini menurut penulis,  banyak terpengaruh oleh pemikiran sosialisme didalamnya. Argumen ini diperkuat dengan pendapat Abdoel Moeis dalam koran Kaoem Moeda terbitan 29 Oktober1917 , yang mengatakan bahwa SI sekarang sudah berbau Sosialis.
            Setelah kongres SI yang kedua selesai, dan hasil kongres tersebut lebih berpihak kepada Semaoen dan kawan kawan. Pada bulan Desember tahun 1917 SI Semarang melakukan rapat, yang membahas tentang ketidak beresan di tanah tanah partikulir. Selain itu SI Semarang juga mengkordinir buruh untuk menjadi lebih militan, dan mengadakan pemogokan terhadap pabrik pabrik yang sewenang wenang terhadap kaum buruh.
            Korban dari pemogokan ini terjadi di perusahaan  mebel yang memecat 15 buruhnya, atas nama SI Semaun dan Kadarisman mengkordinir pemogokan massal dan menuntut 3 hal. Isi tuntutan tersebut ialah pengurangan jam kerja, selama aksi pemogokan gaji tetap dibayar, memberi pesangon sebesar gaji 3 bulan terhadap buruh yang dipecat.
            Model pemogokan ini sangat ampuh dalam melawan kaum kapitalis, karena dalam waktu 5 hari akhirnya tuntutan yang diberikan, dipenuhi oleh pihak perusahaan mebel tersebut. Setelah kejadian tersebut banyak kejadian mogok yang terjadi di Semarang, yang pada akhirnya dimenangi oleh pihak buruh.
Bab IV: Dari Kongres nasional CSI ke-3 sampai PKI
             Dalam bab ini, penulis menjelaskan tentang kendala kendala, yang dialami oleh SI Semarang dalam perjuangannya, khususnnya tekanan dari pemerintah. Kendala yang dialami oleh SI Semarang  membuat Semaoen dan kawan kawan membuat pergerakan baru, yang berhaluan Sosialisme yaitu PKI.
            Kongres SI yang ke 3 dilaksanakan, karena berhubungan erat dengan kondisi sosial masyarakat yang memburuk padasaat itu. Ditambah lagi sikap pemerintah Hindia Belanda yang menekan kaum pergerakan, seperti dipenjaranya Darsono di Surabaya, diusirnya Sneevlit dari Hindia Belanda dan melambungnya harga makanan di pasar.
 Dalam kongres SI yang ke-3, SI Semarang berhasil mempengaruhi audien dan menguasai jalannya persidangan. Ini dilihat dari hasil persidangan, yang tidak setuju terhadap Indie Weerbar, di angkatnya Sneevlite sebagai wakil SI di Nederlans, dan perdamaian dengan orang Tionghoa. Mungkin karena ketidak hadiran Abdoel Moeis, telah membuat sidang berjalan dengan lancar.
            Tetapi keberhasilan SI Semarang dalam menyebarkan paham kiri di dalam tubuh Sarekat Islam, menyebabkan pemerintah Hindia Belanda tidak tinggal diam. Pergerakan SI Semarang banyak dicekal oleh pemerintah, seperti ditangkapnya tokoh tokoh revolusioner SI Semarang.
            Dalam perkembangannya Sarekat Islam pada tahun 1911 hingga 1919 terjadi perubahan dalam pergerakannya, yang pada awalnya SI merupakan pergerakan perdagangan berubah menjadi pergerakan rakyat.
            Akhirnya pada tahun 23 Mei 1920 berdirilah PKI, yang dimana notabennya PKI adalah lanjutan dari ISDV. Semaoen sendiri menjadi ketua pertamanya, dan Darsono menjadi wakilnya.
Bab V: Sekedar Catatan
            Pada bab terakhir, sang penulis lebih menekankan, tentang penjelasan asal usul  tokoh tokoh SI Semarang, seperti asal usul Semaoen yang merupakan buruh kereta api lokomotif. penjelasan  
Selain itu penulis juga menjelaskan tentang ciri ciri Komunis yang tercampur oleh alam pikiran tradisonal Jawa. Salah satu pengaruhnya seperti nama samaran penulis yang berbau Marxis dalam koran Sinar Hindia menggunakan nama pewayangan, tulisan Mas Marco yang menganggap bahwa perjuangan melawan kapitalisme seperti peperangan Baratayudha.                            
            Penilaian terhadap Buku:
Buku ini sangat bagus untuk pembaca yang ingin mengetahui, tentang pergerakan kaum kiri pada masa Hindia Belanda. Tetapi sayangnya buku ini hanya mengambil sumber sejarah yang berupa koran yang pro terhadap satu pihak saja, seperti koran Sinar Hindia atau Sinar Djawa. Dimana sumber sumber tersebut berasal dari satu pihak, yang bersifat subjektif dalam penulisannya.

Abdurrahman Heriza
[full_width]



 



LKISSAH
LKISSAH

Forum Pecinta Ilmu Sosial dan Sejarah

No comments:

Post a Comment