September 14, 2016

The Power Of Kurban : Menggerakkan Perekonomian Umat


            Tanggal 10 Dzulhijjah merupakan salah satu hari penting bagi umat Islam. Masyarakat pada umumnya, memperingatinya sebagai Hari Raya ‘Idul Adha atau Hari Berkurban. Biasanya, bagi orang-orang yang sedang melakukan ibadah haji, tanggal 10 dzulhijjah juga sering disebut Hari Raya Haji karena pada tanggal ini para calon haji sedang melakukan prosesi ibadah haji yang utama yaitu wukuf di padang Arafah.  Perayaan ‘Idul Adha tentunya memiliki nilai historis bagi umat Islam. Karena pelaksanaan ‘Idul Adha saat ini merupakan ibrah dari peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim  dan Nabi Ismail.
Suatu ketika Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah melalui mimpi untuk menyembelih anaknya yaitu Nabi Ismail. Awalnya, dari mimpi yang pertama itu dianggap Nabi Ibrahim hanya sebatas godaan setan saat tidurnya. Akan tetapi, Nabi Ibrahim terus mendapat mimpi yang sama pada malam kedua begitupun pada malam ketiga. Akhirnya setelah mimpi di malam ketiga, barulah Nabi Ibrahim sadar bahwa mimpi tersebut memang langsung datang dari Allah. Lalu Nabi Ibrahim menceritakan kepada anaknya, Nabi Ismail perihal mimpi tersebut. Pada waktu mendapat perintah itu, Nabi Ismail masih berusia sangat muda sekali yaitu berusia 7 tahun. Tentunya Nabi Ibrahim sebagai ayah merasa berat sekali untuk menyampaikan perintah ini. Namun apa daya, Nabi Ibrahim tetap harus melaksanakan perintah Allah ini.
Singkat cerita, akhirnya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail melaksanakan perintah dari Allah ini. Lalu Nabi Ibrahim memantapkan niatnya Nabi Ismail pun  pasrah, seperti ayahnya. Sedetik setelah pisau nyaris digerakkan, tiba-tiba Allah berseru dengan firmannya, menyuruh menghentikan perbuatannya. Allah telah meridloi ayah dan anak yang memasrahkan jiwa mereka. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai kurban, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an surat As-Saffat ayat 107-110 yang artinya : “Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” ( 107 ). “Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.” ( 108 ), “Yaitu kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim.”( 109 ) “Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”( 110 ).
Begitulah peristiwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, keteguhan hati mereka dan tawakal mereka kepada perintah Allah, membuat Allah tidak jadi menyembelih Ismail namun diganti dengan seekor kambing. Itulah syariat kurban yang kini masih dilaksanakan oleh seluruh umat Islam di dunia tak terkecuali di Indonesia. Pelaksanaan kurban di Indonesia, biasanya setelah menunaikan ibadah sholat ‘Idul Adha, para masyarakat berbondong-bondong pergi ke masjid, mushola, surau atau lapangan terdekat untuk memotong hewan qurban. Setelah melakukan kegiatan pemotongan, daging kurban tersebut disalurkan kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Ternyata hari raya kurban bukan hanya sarana untuk melaksanakan perintah pemotongan hewan kurban dan menyalurkan kepada yang berhak menerimanya, namun mempunyai sebuah potensi yang besar, yaitu potensi untuk mengerakkan perekonomian umat.
Menurut Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam, momentum Idul Adha dengan menyembelih hewan kurban untuk miskin hanyalah makna simbolik. Pada dasarnya semangat untuk berbagi dan membantu kaum miskin untuk bisa hidup mandiri adalah filosofi sebenarnya. Seharusnya hal itu dilakukan setiap saat, tidak hanya waktu Idul Adha. Pengelolaan zakat setiap tahun, katanya, seharusnya juga menjadi gerakan pemberdayaan ekonomi rakyat. Menurut dia, dengan penduduk 230 juta lebih dan sekitar 200 juta di antaranya umat muslim, potensi kurban, zakat, infaq, sadaqah bisa mencapai Rp 100 triliun per tahun. Dari angka Rp 100 triliun itu, sebagian bisa dipakai untuk menafkahi warga tidak mampu, misalnya lanjut usia, janda, ataupun anak yatim. Sebagian lainnya membangun fasilitas umum. “Warga miskin lain yang masih bisa bekerja hendaknya diberikan pelatihan kerja, pelatihan wirausahawan, dan diberi pinjaman modal kerja,” katanya. Hal ini bisa terlihat setiap tahunnya ketika ada menjelang hari raya idul adha, banyak sekali masyarakat yang mendirikan tempat untung menjual hewan kurban baik itu perseorangan, kelompok atau lembaga-lembaga swasta yang mengelola kurban seperti Dompet Dhuafa, Baziz, Rumah Zakat Indonesia dan lain sebagainya.
Dompet Dhuafa misalnya, telah mengubah gerakan berkurban untuk santunan menjadi gerakan ekonomi rakyat. Begitu pula Rumah Zakat Indonesia, memasuki tahap industrialisasi, mengelola daging kurban menjadi produk olahan tahan lama. Dengan demikian, dua tujuan mendasar dapat tercapai, yakni menyantuni kaum miskin dan memberdayakan ekonomi rakyat. “Inilah yang dinamakan kurban sebenarnya. Tidak hanya menyembelih hewan dan membagi daging, tetapi mampu membuat suatu gerakan perekonomian kuat dan meningkatkan pendapatan keluarga miskin,” kata Agustianto ahli ekonomi Islam menanggapi gerakan sejumlah badan zakat dan sosial yang mengelola gerakan berkurban menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat.
Tentunya momentum kurban ini dalam menggerakan perekonomian umat menemui tantangan dan kendala didalamnya. Namun kita berharap agar lembaga-lembaga pengelolaan kurban dan zakat mampu mengatasi hal tersebut dan menjalankan fungsinya sebagai roda penggerak perekonomian umat. Meskipun belum terlalu dirasakan oleh semua masyarakat kita bisa berharap bahwa kedepannya nanti, ada perbaikan dan kepedulian pemerintah terhadap pelaksanaan kurban agar nantinya seluruh masyarakat di Indonesia mampu merasakan manfaat dari kurban dan mampu sebagai salah satu tumpuan untuk menggerakan perekonomian bangsa.


Rifqi Fadillah, SKI semester I



LKISSAH
LKISSAH

Forum Pecinta Ilmu Sosial dan Sejarah

No comments:

Post a Comment