Tanggal 10 Dzulhijjah merupakan
salah satu hari penting bagi umat Islam. Masyarakat pada umumnya,
memperingatinya sebagai Hari Raya ‘Idul Adha atau Hari Berkurban. Biasanya,
bagi orang-orang yang sedang melakukan ibadah haji, tanggal 10 dzulhijjah juga
sering disebut Hari Raya Haji karena pada tanggal ini para calon haji sedang
melakukan prosesi ibadah haji yang utama yaitu wukuf di padang Arafah. Perayaan ‘Idul Adha tentunya memiliki nilai
historis bagi umat Islam. Karena pelaksanaan ‘Idul Adha saat ini merupakan
ibrah dari peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Suatu ketika Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah
melalui mimpi untuk menyembelih anaknya yaitu Nabi Ismail. Awalnya, dari mimpi
yang pertama itu dianggap Nabi Ibrahim hanya sebatas godaan setan saat
tidurnya. Akan tetapi, Nabi Ibrahim terus mendapat mimpi yang sama pada malam
kedua begitupun pada malam ketiga. Akhirnya setelah mimpi di malam ketiga, barulah Nabi
Ibrahim sadar bahwa mimpi tersebut memang langsung datang dari Allah. Lalu Nabi
Ibrahim menceritakan kepada anaknya, Nabi
Ismail perihal mimpi tersebut. Pada waktu mendapat perintah itu, Nabi Ismail masih
berusia sangat muda sekali yaitu berusia 7 tahun. Tentunya Nabi Ibrahim sebagai
ayah merasa berat sekali untuk menyampaikan perintah ini. Namun apa daya, Nabi Ibrahim
tetap harus melaksanakan perintah Allah ini.
Singkat cerita, akhirnya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
melaksanakan perintah dari Allah ini.
Lalu Nabi Ibrahim memantapkan niatnya Nabi Ismail pun pasrah, seperti ayahnya.
Sedetik setelah pisau
nyaris digerakkan, tiba-tiba Allah berseru dengan firmannya, menyuruh
menghentikan perbuatannya. Allah
telah meridloi ayah dan anak yang
memasrahkan jiwa
mereka. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan
penyembelihan seekor kambing sebagai kurban, sebagaimana diterangkan dalam
Al-Qur’an surat As-Saffat ayat 107-110 yang artinya : “Dan kami tebus anak itu dengan
seekor sembelihan yang besar.” ( 107 ). “Kami abadikan untuk Ibrahim
(pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.” ( 108 ),
“Yaitu kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim.”( 109 )
“Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”( 110 ).
Begitulah peristiwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail,
keteguhan hati mereka dan tawakal mereka kepada perintah Allah, membuat Allah
tidak jadi menyembelih Ismail namun diganti
dengan seekor kambing. Itulah syariat kurban yang kini masih dilaksanakan oleh
seluruh umat Islam di dunia
tak terkecuali di Indonesia. Pelaksanaan kurban di Indonesia, biasanya setelah
menunaikan ibadah sholat ‘Idul Adha, para masyarakat berbondong-bondong pergi
ke masjid, mushola, surau atau lapangan
terdekat untuk memotong hewan qurban. Setelah melakukan kegiatan pemotongan,
daging kurban tersebut disalurkan kepada orang-orang yang berhak menerimanya.
Ternyata hari raya kurban bukan hanya sarana untuk melaksanakan perintah
pemotongan hewan kurban dan menyalurkan kepada yang berhak menerimanya, namun
mempunyai sebuah potensi yang besar, yaitu potensi untuk mengerakkan
perekonomian umat.
Menurut Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Ahli Ekonomi
Islam, momentum Idul Adha dengan menyembelih hewan kurban untuk miskin hanyalah
makna simbolik. Pada dasarnya semangat untuk berbagi dan membantu kaum miskin
untuk bisa hidup mandiri adalah filosofi sebenarnya. Seharusnya hal itu
dilakukan setiap saat, tidak hanya waktu Idul Adha. Pengelolaan zakat setiap
tahun, katanya, seharusnya juga menjadi gerakan pemberdayaan ekonomi rakyat.
Menurut dia, dengan penduduk 230 juta lebih dan sekitar 200 juta di antaranya
umat muslim, potensi kurban, zakat, infaq, sadaqah bisa mencapai Rp 100 triliun
per tahun. Dari angka Rp 100 triliun itu, sebagian bisa dipakai untuk menafkahi
warga tidak mampu, misalnya lanjut usia, janda, ataupun anak yatim. Sebagian
lainnya membangun fasilitas umum. “Warga miskin lain yang masih bisa bekerja
hendaknya diberikan pelatihan kerja, pelatihan wirausahawan, dan diberi
pinjaman modal kerja,” katanya. Hal ini bisa terlihat setiap tahunnya ketika
ada menjelang hari raya idul adha, banyak sekali masyarakat yang mendirikan
tempat untung menjual hewan kurban baik itu perseorangan, kelompok atau
lembaga-lembaga swasta yang mengelola kurban seperti Dompet Dhuafa, Baziz,
Rumah Zakat Indonesia dan lain sebagainya.
Dompet Dhuafa misalnya, telah mengubah gerakan berkurban untuk
santunan menjadi gerakan ekonomi rakyat. Begitu pula Rumah Zakat Indonesia,
memasuki tahap industrialisasi, mengelola daging kurban menjadi produk olahan
tahan lama. Dengan demikian, dua tujuan mendasar dapat tercapai, yakni
menyantuni kaum miskin dan memberdayakan ekonomi rakyat. “Inilah
yang dinamakan kurban sebenarnya. Tidak hanya menyembelih hewan dan membagi
daging, tetapi mampu membuat suatu gerakan perekonomian kuat dan meningkatkan
pendapatan keluarga miskin,” kata Agustianto ahli ekonomi Islam menanggapi
gerakan sejumlah badan zakat dan sosial yang mengelola gerakan berkurban
menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat.
Tentunya momentum kurban ini dalam menggerakan perekonomian umat
menemui tantangan dan kendala didalamnya. Namun kita berharap agar
lembaga-lembaga pengelolaan kurban dan zakat mampu mengatasi hal tersebut dan
menjalankan fungsinya sebagai roda penggerak perekonomian umat. Meskipun belum
terlalu dirasakan oleh semua masyarakat kita bisa berharap bahwa kedepannya
nanti, ada perbaikan dan kepedulian pemerintah terhadap pelaksanaan kurban agar
nantinya seluruh masyarakat di Indonesia mampu merasakan manfaat dari kurban
dan mampu sebagai salah satu tumpuan untuk menggerakan perekonomian bangsa.
Rifqi Fadillah, SKI semester I


No comments:
Post a Comment