September 09, 2016

Krisis Budaya Penyebab Timbulnya Masalah Multidimensional Bangsa Indonesia

Krisis Budaya Penyebab Timbulnya Masalah Multidimensional Bangsa Indonesia
https://triadarabarlian.files.wordpress.com/2011/06/indonesia-culture.jpg

Oleh: Irvan Hidayat
Masalah yang terus mendera negara Indonesia tak kunjung surut, mulai dari masalah pendidikan, politik, dan ekonomi. Semua persoalan menghujam seolah hujan tak akan pernah reda, dengan kondisi seperti ini maka bisa dipastikan ungkapan gemah ripah loh jinawi sudah tidak relevan lagi untuk Indonesia. semboyan-semboyan kebanganggan yang dahulu sering keluar dari mulut untuk memuji kekayaan sumberdaya alam dan manusia di Indonesia, kini tak lagi bermakna karena keadaan sudah berbanding terbalik.

Keadaan yang berbanding terbalik seperti sekarang ini disebabkan oleh krisis budaya yang sedang melanda bangsa Indonesia, sebagaimana yang dijewantahkan oleh para pakar budaya di Universitas Indonesia baru-baru ini. Riris K. Toha Sarumpaet mengatakan bahwa krisis budaya menimbulkan masalah yang kompleks dan multidimensional sehingga hal ini harus mendapatkan tanggapan yang serius dari pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia. Krisis budaya adalah, keadaan kebudayaan yang sudah mencapai titik berbahaya. Titik berbahaya yang dimaksdukan adalah kondisi dimana kebudayaan yang sudah lama ada tidak lagi diindahkan atau bahkan ditinggalkan. Sebagai negara yang multi etnis, Indonesia memiliki banyak budaya yang berbeda dan mengandung nilai-nilai kebaikan yang masih relevan untuk kehidupan sekarang.

Terjadinya krisis budaya sehingga rakyat Indonesia banyak yang meninggalkan budayanya sendiri disebabkan oleh arus globalisasi dan modernisasi yang telah terjadi sejak awal abad ke-20 yang kian pesat sejak ada revolusi informasi pada tahun 1960. Identitas diri sebagai sebuah bangsa yang berbudaya kian memudar seiring dengan pengaruh budaya populer yang diimpor dari negara-negara lain seperti, Amerika, Inggris, Jepang dan Korea. Pengaruh budaya asing memang tidak sepenuhnya salah, namun yang terjadi di Indonesia budaya materialistis yang berujung pada budaya konsumerismelah yang terbentuk akibat pengaruh dominan budaya asing.

Budaya materealistis atau konsumerisme adalah penyakit akut yang menyebabkan beragam masalah. Masalah yang timbul akibat budaya materealistis mengakar disemua bidang kehidupan, dilembaga pemerintahan hampir semuanya pernah terjerat kasus korupsi. Kasus korupsi yang dilakukan oleh oknum-oknum lembaga pemerintahan semuanya bermotif sama yaitu motif kekuasaan dan motif mengumpulkan harta. Selain korupsi perselisihan kerap terjadi antar anak bangsa dalam memperebutkan kekuasaan dengan menjadikan politik sebagai alat utamaya.

Kasus kriminalitas yang terjadi tempo hari juga kian bertambah jenisnya mulai dari, terorisme, korupsi, kejahatan seksual, konflik antara guru dan murid, bentrok antar pelajar dan sebagainya. Tingginya kasus kriminalitas tak mampu terbendung karena kian hari jumlahnya  kian bertambah, tindakan kriminal yang dilakukan oleh anak bangsa sendiri secara perlahan meruntuhkan persatuan bangsa yang telah lama dibangun oleh para founding father bangsa ini.

Cikal bakal atau pondasi awal persatuan bangsa ini terbentuk sejak Oktober 1928 ditandai dengan diselenggarakannya kongres pemuda kedua yang menghasilkan kesepakatan bersama, atau yang lebih dikenal dengan “sumpah pemuda”. Tiga poin keputusan hasil kongres yaitu; pertama, kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia. Kedua, kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Ketiga kami putra dan putri Indonesia menjujung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ketiga poin tersebut menjadi pijakan dari lahirnya Pancasila dan UUD 1945. Namun kesepakatan yang telah dibangun dengan susah payah itu perlahan-lahan mulai dihianati oleh bangsanya sendiri. Penghianatan yang dilakukan berimbas pada mulai retaknya hubungan sesama rakyat Indonesia, perbedaan suku, ras, agama dan golongan makin lebih kentara.

Identitas sebagai bangsa yang ber-Bhineka tunggal ika semakin terlihat absurd karena yang lebih jelas terlihat adalah masing-masing individu dan kelompok masyarakat lebih mementingkan tujuannya sendiri daripada tujuan bangsanya. Bangsa ini kian tidak menemukan arah tujuan yang sama karena hubungan antara pemerintah dengan masyarakat tidak berjalan harmonis. Aparat pemerintah menjalankan perannya bagai pemain drama yang jelas penuh rekayasa, politik dimonopoli oleh pemilik modal dan demokrasi hanya berjalan sebagai formalitas saja. Karena kelakuan pemerintah yang seperti sekarang ini, rakyat hidup dalam ketidak pastian, angin kebahagian hanya berhembus sesaat ketika janji para politisi merebab dimusim pemilu.

Setelah delapan belas tahun reformasi Indonesia tidak kunjung menemukan bentuk idealnya dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan dan budaya. Keran demokrasi yang terbuka luas malah menumbuhkan persoalan-persoalan baru, Daniel Sparingga mengatakan bahwa keadaan masyarakat Indonesia sekarang lebih memuliakan materi dan meremehkan semua yang bersifat sosial dan spiritual. Sebagai bangsa yang kuat seharusnya dengan segera kita menyadari kondisi kriris budaya ini, kemudian bertindak dengan mengembalikan budaya bangsa yang masih relevan dengan mengaplikasikannya pada kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tangsel Post edisi 7 September 2016









LKISSAH
LKISSAH

Forum Pecinta Ilmu Sosial dan Sejarah

No comments:

Post a Comment