Krisis Budaya Penyebab Timbulnya
Masalah Multidimensional Bangsa Indonesia
https://triadarabarlian.files.wordpress.com/2011/06/indonesia-culture.jpg
Oleh: Irvan Hidayat
Masalah
yang terus mendera negara Indonesia tak kunjung surut, mulai dari masalah
pendidikan, politik, dan ekonomi. Semua persoalan menghujam seolah hujan tak
akan pernah reda, dengan kondisi seperti ini maka bisa dipastikan ungkapan gemah ripah loh jinawi sudah tidak
relevan lagi untuk Indonesia. semboyan-semboyan kebanganggan yang dahulu sering
keluar dari mulut untuk memuji kekayaan sumberdaya alam dan manusia di
Indonesia, kini tak lagi bermakna karena keadaan sudah berbanding terbalik.
Keadaan
yang berbanding terbalik seperti sekarang ini disebabkan oleh krisis budaya yang
sedang melanda bangsa Indonesia, sebagaimana yang dijewantahkan oleh para pakar
budaya di Universitas Indonesia baru-baru ini. Riris K. Toha Sarumpaet
mengatakan bahwa krisis budaya menimbulkan masalah yang kompleks dan
multidimensional sehingga hal ini harus mendapatkan tanggapan yang serius dari
pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia. Krisis budaya adalah, keadaan
kebudayaan yang sudah mencapai titik berbahaya. Titik berbahaya yang
dimaksdukan adalah kondisi dimana kebudayaan yang sudah lama ada tidak lagi
diindahkan atau bahkan ditinggalkan. Sebagai negara yang multi etnis, Indonesia
memiliki banyak budaya yang berbeda dan mengandung nilai-nilai kebaikan yang
masih relevan untuk kehidupan sekarang.
Terjadinya
krisis budaya sehingga rakyat Indonesia banyak yang meninggalkan budayanya
sendiri disebabkan oleh arus globalisasi dan modernisasi yang telah terjadi
sejak awal abad ke-20 yang kian pesat sejak ada revolusi informasi pada tahun
1960. Identitas diri sebagai sebuah bangsa yang berbudaya kian memudar seiring
dengan pengaruh budaya populer yang diimpor dari negara-negara lain seperti,
Amerika, Inggris, Jepang dan Korea. Pengaruh budaya asing memang tidak
sepenuhnya salah, namun yang terjadi di Indonesia budaya materialistis yang
berujung pada budaya konsumerismelah yang terbentuk akibat pengaruh dominan
budaya asing.
Budaya
materealistis atau konsumerisme adalah penyakit akut yang menyebabkan beragam
masalah. Masalah yang timbul akibat budaya materealistis mengakar disemua
bidang kehidupan, dilembaga pemerintahan hampir semuanya pernah terjerat kasus
korupsi. Kasus korupsi yang dilakukan oleh oknum-oknum lembaga pemerintahan
semuanya bermotif sama yaitu motif kekuasaan dan motif mengumpulkan harta.
Selain korupsi perselisihan kerap terjadi antar anak bangsa dalam memperebutkan
kekuasaan dengan menjadikan politik sebagai alat utamaya.
Kasus
kriminalitas yang terjadi tempo hari juga kian bertambah jenisnya mulai dari, terorisme,
korupsi, kejahatan seksual, konflik antara guru dan murid, bentrok antar
pelajar dan sebagainya. Tingginya kasus kriminalitas tak mampu terbendung
karena kian hari jumlahnya kian
bertambah, tindakan kriminal yang dilakukan oleh anak bangsa sendiri secara
perlahan meruntuhkan persatuan bangsa yang telah lama dibangun oleh para founding father bangsa ini.
Cikal
bakal atau pondasi awal persatuan bangsa ini terbentuk sejak Oktober 1928
ditandai dengan diselenggarakannya kongres pemuda kedua yang menghasilkan
kesepakatan bersama, atau yang lebih dikenal dengan “sumpah pemuda”. Tiga poin
keputusan hasil kongres yaitu; pertama, kami putra dan putri Indonesia, mengaku
bertumpah darah satu, tanah air Indonesia. Kedua, kami putra dan putri
Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Ketiga kami putra dan putri
Indonesia menjujung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ketiga poin tersebut
menjadi pijakan dari lahirnya Pancasila dan UUD 1945. Namun kesepakatan yang
telah dibangun dengan susah payah itu perlahan-lahan mulai dihianati oleh
bangsanya sendiri. Penghianatan yang dilakukan berimbas pada mulai retaknya
hubungan sesama rakyat Indonesia, perbedaan suku, ras, agama dan golongan makin
lebih kentara.
Identitas
sebagai bangsa yang ber-Bhineka tunggal ika semakin terlihat absurd karena yang
lebih jelas terlihat adalah masing-masing individu dan kelompok masyarakat
lebih mementingkan tujuannya sendiri daripada tujuan bangsanya. Bangsa ini kian
tidak menemukan arah tujuan yang sama karena hubungan antara pemerintah dengan
masyarakat tidak berjalan harmonis. Aparat pemerintah menjalankan perannya bagai
pemain drama yang jelas penuh rekayasa, politik dimonopoli oleh pemilik modal
dan demokrasi hanya berjalan sebagai formalitas saja. Karena kelakuan
pemerintah yang seperti sekarang ini, rakyat hidup dalam ketidak pastian, angin
kebahagian hanya berhembus sesaat ketika janji para politisi merebab dimusim
pemilu.
Setelah
delapan belas tahun reformasi Indonesia tidak kunjung menemukan bentuk idealnya
dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan dan budaya. Keran demokrasi yang
terbuka luas malah menumbuhkan persoalan-persoalan baru, Daniel Sparingga
mengatakan bahwa keadaan masyarakat Indonesia sekarang lebih memuliakan materi
dan meremehkan semua yang bersifat sosial dan spiritual. Sebagai bangsa yang
kuat seharusnya dengan segera kita menyadari kondisi kriris budaya ini,
kemudian bertindak dengan mengembalikan budaya bangsa yang masih relevan dengan
mengaplikasikannya pada kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tangsel Post edisi 7 September 2016


No comments:
Post a Comment