September 09, 2016

Sejarah Imam Bukhari



oleh : Muhammad Ikbar Ishomi (Mahasiswa SKI Semester 1 UIN Jakarta)


Imam Bukhari adalah ahli hadist yang termasyhur diantara para ahli hadist sejak dulu hingga kini, bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, an-Nasai dan Ibnu Majah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadist, hadist-hadist beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian masyarakat muslim menyebutnya dengan julukan amirul mukminin fil hadist. Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya. 

Bukhari juga didik dan dibesarkan keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab as-siqat, Ibnu Hibban menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang wara dalam arti berhati-hati terhadap hal-hal yang sifatnya haram. Perhatianya kepada ilmu hadist yang sulit dan rumit itu sudah tumbuh sejak usia 10 tahun, hingga dalam usia 16 tahun beliau sudah menghafal dan menguasai buku-buku seperti al-mubarak dan al-wakili. Pada usia 18 tahun beliau sudah menerbitkan kitab pertamanya’’qudhaya as shahabah wat tab’ien bersama gurunya syekh Ishaq. Beliau juga menghimpun hadist-hadist shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadist yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadist.

Bukhari juga diakui memiliki daya hafalan tinggi, yang diakuinya oleh kakaknya Rasyid bin Ismail. Ketika sedang berada di Baghdad, Imam Bukhari pernah didatangi oleh 10 orang ahli hadist yang ingin menguji ketinggalan ilmu beliau. Dalam pertemuan tersebut, 10 ulama mengajukan 100 buah hadist yang sengaja ‘’diputar-balikkan’’untuk menguji hafalan Imam Bukhari. Imam Bukhari juga ternyata tidak melupakan kegiatan lain,yakni olahraga. Ia misalnya sering belajar memanah, sehingga dikatakan sepanjang hidupnya. Dalam keadaan tersebut timbul sebagai pengalaman Sunnah rasul yang mendorong dan menganjurkan kaum muslimin belajar menggunakan anak panah dan alat-alat perang lainnya.

Bukhari juga mebuat karya-karyanya seperti kitab al-jami ash shahih,al-adab al mufrad,at tharikh as shagir, at tarikh al awsat, at tharikh al kabir, asami as sahabah dan al hibah. Diantara semua karyanya tersebut yang paling monumental adalah kitab al-jami ash-shahi yang lebih dikenal dengan dengan shahih bukhari.

Dalam sebuah riwayat hadist diceritakan, Imam Bukhari berkata: ‘’aku bermimpi melihat rasullah saw, seolah-olah aku berdiri di hadapanya, sambil memegang kipas yang kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanykan mimpi itu kepada sebagian ahli ta’bir, ia menjelaskan bahwa aku akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan dari hadist-hadist Rasullah SAW. Mimpi inilah, antara lain, yang mendorongku untuk melahirkan kitab al jami’ as-sahih.

Dalam menghimpun hadist-hadist shahih dalam kitabnya tersebut, Imam Bukhari menggunakan kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahian hadist-hadistnya dapat dipertanggungjawabkan. Imam Bukhari juga senantiasa membandingkan hadist-hadist yang diriwayatkan, satu dengan lainnya, menyaringnya paling shahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring hadist-hadist tersebut. Hal ini tercermin dari perkataanya : ‘’aku susun kitab al jami ini yang dipilih dari 600.000 hadist selama 16 tahun.

Imam Bukhari juga dikenal sebagai pengarang kitab yang produktif. Karya-karyanya tidak hanya dalam disiplin ilmu lain, seperti tafsir,fikih,dan tarikh. Fatwa-fatwanya selalu menjadi pegangan umat sehingga ia menduduki derajat sebagai mujtahid mustaqil, tidak terikat pada madzhab tertentu, sehingga mempunyai otoritas tersendiri dalam berpendapat dalam hal hukum.

Imam Bukhari juga selalu berpegang teguh pada tingkat keshahian paling tinggi dan tidak akan turun dari tingkat tersebut, kecuali terhadap beberapa hadist yang bukan merupakan materi pokok dari sebuah bab. Menurut ibnu shalah,dalam kitab shahih bukhari itu memuat 7275 hadist. Selain itu ada hadist-hadist yang dimuat secara utuh tanpa pengulangan. Adapun jumlah semua hadist shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7379 buah. Perhitungan ini berbeda diantara para ahli hadist tersebut dalam mengomentari kitab shahih bukhari semata-mata karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu hadist.

Imam Bukhari wafat pada tanggal 31 agustus 870 (256 H) pada malam idul fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Sebelum meniggal, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dan tidak memakai sorban. Ia dimakamkan selepas Salat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri.

LKISSAH
LKISSAH

Forum Pecinta Ilmu Sosial dan Sejarah

No comments:

Post a Comment