August 30, 2016

Tanah Air Beta


Masih dalam suasana kemerdekaan Indonesia (Walaupun, sudah akhir Agustus), sebuah negara kepulauan yang di mana saya lahir, tumbuh, hingga mencintai negeri ini. Walau bagaimana pun, bentuk negeri ini dan se isinya, dan berbagai kekurangannya. Saya tetap mencintainya.

Kembali ke masalah tanah air ini, Indonesia tanah air beta. Beberapa hari yang lalu, saat merasa sedang bosan, gabut, dan tidak ada kerjaan. Biasanya saya membuka banyak socmed macam facebook, twitter, dan yang paling sering adalah instagram.

Tak sengaja, ada sebuah video yang amat menarik berjudul “Indonesia Pusaka”, iya, saya tahu ini adalah lagu kebangsaan yang di populerkan oleh komposer yang terkenal pada masanya, Ismail Marzuki. Namun, video ini bukan di gubah oleh Ismail Marzuki. Tetapi, oleh seorang komposer kontemporer bernama Jaya Suprana, yang mana dia amat hebat saya katakan. Kenapa bisa begitu?

Jika kalian tengok video itu, orang-orang yang menyanyikannya yang membuat lagu ini mejadi “hebat”. Mulai dari Presiden Indonesia sekarang, Pak Joko Widodo, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, hingga Ketua ormas Islam FPI Habib Riziq menyanyikan lagu Indonesia Pusaka bersama. Tanpa memandang satu sama lain, para orang “hebat” ini sama-sama menyanyikanya dengan khidmat.

Walau hanya beberapa menit, saya sadar bahwa sila ke-3 dari Pancasila itu benar amat indah, dengan persatuanlah kita bisa hidup damai, tentram, dan tanpa di hantui rasa takut. Dengan lagu Indonesia Pusaka, Jaya Suprana menyampaikan pesan tersirat bahwa kita sebagai satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia harus selalu bersatu, tanpa memandang status kita. Menjadi satu kesatuan.

Omong kosong dengan isu rasialis, jangan terpancing para imperialis, dan tersiram air barang se pipis. Lepaskan diri kita, dari kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat, dan juga maya. Secara garis besar, itulah makna yang ingin di sampaikan Jaya Suprana. Dengan “susah payah” mengumpulkan semua Tokoh Bangsa di Indonesia.

Jangan ada lagi kerusuhan, vandalisme, dan huru-hara yang berdasarkan agama, suku, ras, ataupun isu sensitif lainnya. Saya memang tak pintar, dan mungkin sok pintar dan terkesan menggurui dalam tulisan kali ini. Tetapi, saya minta kepada kalian wahai para orang yang Maha Bijak. Ayo, kita intropeksi diri, benahi diri, dan jadikan cita-cita para pahlawan mendirikan negeri ini menjadi negeri “Madani”. Tentunya, di ridhoi oleh Tuhan pencipta alam.

Bukankah amat indah, jika kita bisa bersatu padu seperti yang di inginkan para pionir bangsa ini? Hidup akan serasa damai, tentram dan pastinya sejahtera. walaupun, saya paham hakikatnya manusia adalah makhluk Tuhan yang paling rakus, dan juga keji. Tidak semuanya, sebagian besar saja. Apakah kita tak kasihan, kepada diri kita, kepada saudara kita, dan kepada penerus kita di masa yang akan datang. Jika, kita selalu berperang dan melantakan tulang ke jurang kehancuran.

Setidaknya, mencoba bersatu lebih baik daripada tidak sama sekali. Perbedaan bukanlah suatu hal yang patut di tengkari, apalagi di jadikan bahan perpecahan. Justru, dengan perbedaan Nusantara menjadi lebih beragam, tidak monoton, dan menjadi lebih indah. Lebih mempesona dan plural dalam lingkar kehidupan kita. Perbedaan menjadi Rahmatan Lil Aalamin untuk umat manusia di bumi pertiwi ini.

Penulis harap, tulisan ini tidak semata hanya menjadi bacaan saja. Tetapi, menjadi gugahan kepada kalbu kita masing-masing (walaupun, penulis masih awam dan banyak kebodohannya). Di tekankan melalui lagu Indonesia Pusaka, NKRI milik bersama. Mari kita bersatu, bangun bersama.


Yakinkan, maka kita pasti.

Nasrullah Alif, div. riset Lkissah
LKISSAH
LKISSAH

Forum Pecinta Ilmu Sosial dan Sejarah

No comments:

Post a Comment