Masih dalam suasana kemerdekaan
Indonesia (Walaupun, sudah akhir Agustus), sebuah negara kepulauan yang di mana
saya lahir, tumbuh, hingga mencintai negeri ini. Walau bagaimana pun, bentuk
negeri ini dan se isinya, dan berbagai kekurangannya. Saya tetap mencintainya.
Kembali ke masalah tanah air ini,
Indonesia tanah air beta. Beberapa hari yang lalu, saat merasa sedang bosan, gabut, dan tidak ada kerjaan. Biasanya
saya membuka banyak socmed macam
facebook, twitter, dan yang paling sering adalah instagram.
Tak sengaja, ada sebuah video yang
amat menarik berjudul “Indonesia Pusaka”, iya, saya tahu ini adalah lagu
kebangsaan yang di populerkan oleh komposer yang terkenal pada masanya, Ismail
Marzuki. Namun, video ini bukan di gubah oleh Ismail Marzuki. Tetapi, oleh
seorang komposer kontemporer bernama Jaya Suprana, yang mana dia amat hebat
saya katakan. Kenapa bisa begitu?
Jika kalian tengok video itu,
orang-orang yang menyanyikannya yang membuat lagu ini mejadi “hebat”. Mulai
dari Presiden Indonesia sekarang, Pak Joko Widodo, mantan Ketua Mahkamah
Konstitusi Mahfud MD, hingga Ketua ormas Islam FPI Habib Riziq menyanyikan lagu
Indonesia Pusaka bersama. Tanpa
memandang satu sama lain, para orang “hebat” ini sama-sama menyanyikanya dengan
khidmat.
Walau hanya beberapa menit, saya
sadar bahwa sila ke-3 dari Pancasila
itu benar amat indah, dengan persatuanlah kita bisa hidup damai, tentram, dan
tanpa di hantui rasa takut. Dengan lagu Indonesia
Pusaka, Jaya Suprana menyampaikan pesan tersirat bahwa kita sebagai satu
bangsa, yaitu bangsa Indonesia harus selalu bersatu, tanpa memandang status
kita. Menjadi satu kesatuan.
Omong kosong dengan isu rasialis,
jangan terpancing para imperialis, dan tersiram air barang se pipis. Lepaskan
diri kita, dari kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat, dan juga maya.
Secara garis besar, itulah makna yang ingin di sampaikan Jaya Suprana. Dengan
“susah payah” mengumpulkan semua Tokoh Bangsa di Indonesia.
Jangan ada lagi kerusuhan,
vandalisme, dan huru-hara yang berdasarkan agama, suku, ras, ataupun isu
sensitif lainnya. Saya memang tak pintar, dan mungkin sok pintar dan terkesan menggurui dalam tulisan kali ini. Tetapi,
saya minta kepada kalian wahai para orang yang Maha Bijak. Ayo, kita intropeksi
diri, benahi diri, dan jadikan cita-cita para pahlawan mendirikan negeri ini
menjadi negeri “Madani”. Tentunya, di ridhoi oleh Tuhan pencipta alam.
Bukankah amat indah, jika kita bisa
bersatu padu seperti yang di inginkan para pionir bangsa ini? Hidup akan serasa
damai, tentram dan pastinya sejahtera. walaupun, saya paham hakikatnya manusia
adalah makhluk Tuhan yang paling rakus, dan juga keji. Tidak semuanya, sebagian
besar saja. Apakah kita tak kasihan, kepada diri kita, kepada saudara kita, dan
kepada penerus kita di masa yang akan datang. Jika, kita selalu berperang dan
melantakan tulang ke jurang kehancuran.
Setidaknya, mencoba bersatu lebih
baik daripada tidak sama sekali. Perbedaan bukanlah suatu hal yang patut di
tengkari, apalagi di jadikan bahan perpecahan. Justru, dengan perbedaan
Nusantara menjadi lebih beragam, tidak monoton, dan menjadi lebih indah. Lebih
mempesona dan plural dalam lingkar kehidupan kita. Perbedaan menjadi Rahmatan Lil Aalamin untuk umat manusia
di bumi pertiwi ini.
Penulis harap, tulisan ini tidak
semata hanya menjadi bacaan saja. Tetapi, menjadi gugahan kepada kalbu kita
masing-masing (walaupun, penulis masih awam dan banyak kebodohannya). Di
tekankan melalui lagu Indonesia Pusaka, NKRI
milik bersama. Mari kita bersatu, bangun bersama.
Yakinkan, maka kita pasti.
Nasrullah Alif, div. riset Lkissah


No comments:
Post a Comment