pusbangsitek.uinjkt.ac.id/
Pada bulan Agustus ini hampir semua
jalur pendaftaran masuk perguruaan tinggi sudah ditutup. Sebagian besar
perguruan tinggi sudah mengantongi daftar nama mahasiswa baru yang sudah lulus
ujian masuk. Setelah sebelumnya, setiap ujian masuk perguruan tinggi selalu
dijejali oleh para pendaftar terutama untuk perguruan tinggi yang masuk
kategori favorit. Seiring perkembangan pendidikan Indonesia, maka minat
masyarakat untuk masuk perguruan tinggipun ikut meningkat. Data statistik yang
diunggah oleh Direktorat Pendidikan Tinggi menunjukan jumlah mahasiswa
Indonesia saat ini mencapai 4 juta lebih.
Meningkatnya minat masyarakat untuk
masuk perguruan tinggi tentunya dilatar belakangi oleh motivasi yang kompleks.
Motivasi terbesar yang dapat diamati adalah tertanamnya paradigma tentang
pentingnya pendidikan untuk kehidupan manusia secara individu dan manusia
sebagai bagian dari masyarakat. Paradigma terkait pentingnya pendidikan
kemudian memiliki turunan, misalkan saja pentingnya pendidikan untuk
meningkatkan taraf ekonomi, pendidikan untuk meningkatkan strata sosial, dan
pentingnya pendidikan untuk memperluas wawasan pengetahuan. Apapun motivasi
yang melandasi seseorang untuk masuk perguruan tinggi hukumnya sah-sah saja,
karena sebenarya hasil akhir dari proses pendidikan yang dilalui di perguruan
tinggi sangat tergantung kepada usahanya. Hasil akhir dari pendidikan di kampus
tidak akan selalu linear dengan rencana dan program studi yang diambil, karena
ada banyak kemungkinan yang akan terjadi seusai lulus. Kemungkinan-kemungkinan
yang terjadi misalkan, seorang sarjana sejarah belum tentu menjadi seorang
sejarawan karena pada faktanya hanya sebagian kecil yang menjadi sejarawan dan
sisanya ada yang menjadi wartawan, pengusaha, aparatur pemerintahan dan bahkan
banyak juga yang jadi pengangguran.
Pada proses menempuh jenjang
pendidikan di perguruan tinggi pastinya ada tahapan-tahapan yang harus dilewati
sebelum menyabet gelar sarjana. Tahap pertama adalah diterima masuk,
pada tahap inilah proses transisi terjadi, maksudnya adalah peralihan dari
jenjang pendidikan yang lebih rendah ke pendidikan yang lebih tinggi. Fase
transisi ini adalah termasuk fase yang sangat sulit karena ada proses adaptasi
yang harus dilakukan, adaptasi terhadap lingkungan sosial yang baru. Lingkungan
sosial baru yang tidak terprediksi sebelumnya, karena ketidaksesuaian antara
konsep kampus yang ada dalam alam pikiran yang terbentuk karena pengaruh media
dengan realita yang ada. Setiap perguruan tinggi mempunyai ciri khas yang
berbeda, artinya setiap kampus memiliki perbedaan pada iklim sosialnya.
Perbedaan iklim sosial inilah yang harus diketahui oleh setiap mahasiswa baru
agar adaptasi terhadap lingkungan tidak berjalan sulit karena fase ini adalah
tahap terpenting yang akan mempengaruhi langkah kaki seterusnya hingga lulus
bahkan sampai setelah lulus.
Tahap adaptasi ini akan berimbas
pada langkah-langkah selanjutnya dalam menempuh jalan terjal di kampus,
analoginya adalah langkah awal seorang mahasiswa bagaikan pondasi bangunan yang
disusun di atas tanah untuk membangun rumah idaman. Rumah idaman itu adalah
cita-cita yang telah direncanakan sebelum masuk kampus. Pondasi rumah idaman
didominasi oleh unsur-unsur baru yang ditemui di dalam lingkungan kampus yang
disebut dengan keadalan sosial kemasyarakat. Mahasiswa baru harus mulai
mengetahui kondisi budaya, politik, dan ekonomi yang telah mapan di lingkungan
kampus. Informasi tentang kondisi-kondisi itu bisa didapatkan dengan mencari
informasi langsung kepada masyarakat yang sudah lebih duluan tinggal misalkan,
kepada mahasiswa lama, dosen, dan pegawai. Sejauh pengalaman penulis sangat
kecil kemungkinan masyarakat kampus non-mahasiswa bisa memberikan pengetahuan
tentang iklim kampus secara komperhensif, karena interkasi dengan non-mahasiswa
sangat terbatas artinya pengetahuan tentang kampus akan sangat mudah didapatkan
melalui mahasiswa lama.
Mahasiswa lama sebagai kalangan yang
sudah lebih dahulu mengenyam rasa pahit asam garam lebih tahu dan lebih mudah
untuk dijadikan narasumber tentang pengetahuan kondisi sosial kemasyarakatan di
kampus. Sebagian mahasiswa lama pada setiap momen penerimaan dan masa orientasi
mahasiswa baru akan dengan senang hati menyambut “adik-adiknya” , karena
sebagai mahasiswa lama tentunya memiliki motivasi tersendiri sama dengan
mahasiswa baru yang masuk kampus. Motivasi mahasiswa lama inilah yang juga
harus diketahui oleh mahasiswa baru sebelum menggali informasi darinya agar
tidak terjadi kesalahan yang tidak diinginkan. Motivasi mahasiswa lama juga
sangat beragam tapi secara umum dapat dibagi menjadi dua yaitu, motivasi
individu dan motivasi kelompok. Motivasi individu adalah misi terselubung yang
ditujukan pada mahasiswa baru. Misi terselubung ini sulit untuk dipahami namun
setidaknya sebagai mahasiswa baru harus cermat membaca gerak-geriknya. Kedua
adalah motivasi kelompok, motivasi ini sangat berkaitan erat dengan komunitas,
organisasi atau apapun itu yang melibatkan orang banyak. Motivasi kelompok
mempunyai misi yang sangat mendasar yaitu, misi perekrutan menjadi bagian dari
anggotanya. Baik motivasi pribadi atau motivasi kelompok kedua-duanya harus
diketahui dengan cermat karena keduanya akan memberikan efek langsung pada
berlangsungnya proses pendidikan di kampus bisa saja berdampak positif ataupun
negatif.
Mahasiswa baru diharuskan agar aktif
dan kritis dalam beradaptasi dengan lingkungan baru, tidak boleh pasif dengan
mengonsumsi informasi mentah-mentah. Informasi yang diterima harus dicari
kebenarannya, karena pada masa adaptasi mahasiswa baru sangat rentan terkena
penyakit apatis, penyakit ini adalah penyakit yang berbahaya karena bisa
mengubur cita-cita yang telah digantung tinggi. Penyakit apatis adalah penyakit
yang timbul karena kegagalan memahami realitas kampus, kegagalan ini
diakibatkan karena ketidak cermatan dalam mengonsumsi pengetahuan tentang
kampus. Sampai ulasan sejauh ini sudah mulai timbul pikiran betapa sulitnya
menjadi mahasiswa baru? memang kuliah tidak semudah yang digambarkan oleh
sinetron di televisi, ada banyak persoalan yang harus dijawab. Menjadi bagian
dari mahasiswa pengidap penyakit apatis sangat tidak menguntungkan karena
mahasiswa apatis adalah golongan yang tidak memperdulikan kondisi sekitarnya
yang pada akhirnya golongan ini juga tidak akan diperdulikan oleh golongan
mahasiswa yang sehat, ibarat manusia yang, hidup enggan mati tak mau. Dampak
jangka panjangnya adalah pengidap penyakit ini hanya akan menambah daftar
pengangguran Indonesia.
Menjadi bagian dari kalangan
terdidik bukanlah hal yang mudah, melainkan harus ada usaha keras yang dilakukan.
Kampus sebagai tempat menuntut ilmu juga bukan jalan lurus dengan permukaan
yang rata, kampus ibarat jalan berliku dan terjal yang harus dilewati oleh
seorang mahasiswa. Bukan hanya gelar kesarjanaan yang menjadi target utama dari
seorang mahasiswa sebagai tunas bangsa melainkan ada hal lain yang tidak kalah
penting dari selembar ijazah yaitu, ilmu pengetahuan yang luas dan bisa
bermanfaat untuk kehidupan masyarakat. Proses untuk menggapai semua yang dicita-citakan
tergantung pondasi yang dibangun, dunia kampus yang terjal bukan untuk
diacuhkan namun untuk dipelajari. Menjadi mahasiswa berarti menjadi bagian dari
manusia yang bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsa, karena mahasiswa
adalah agen perubahan (agen of change).
oleh: Hida


No comments:
Post a Comment