(dok. sosok.id)
Oleh: Istiani Ulfa dan Hanif Maurits Rahman
Layaknya selebriti tersohor, miliarder kelas kakap atau buronan aparat, Covid-19 mencuri perhatian banyak mata sampai berhasil menguasai layar kaca Indonesia, bahkan dunia. Tidak ada perbincangan menarik, laporan terbaru yang paling dicari selain topik virus ini. Tidak perlu waktu lama, sejak pertama kali kehadirannya per Desember 2019 di Wuhan, Provinsi Hubei, China, hanya butuh 3 bulan untuk berada di puncak eksistensinya. Siapa sangka, bahkan dunia perpolitikan, perkorupsian, perperangan ekonomi, kalah eksis olehnya. Dari stasiun berita ternama, sampai ruang publik yang sepi peminat, pembahasannya masih sama. Tulisan ini bukan sedang mengulas kronologi atau laporan pasien terdeteksi, itu sudah terlalu banyak dibicarakan, mari kita bahas sesuatu yang lain. Tentang siapa lagi yang pernah menarik perhatian sebegitu besar selain Covid-19, sebelum hari ini. Dengan kacamata sejarah, mari kita mulai!
Kita mulai dari wabah katak (frog plague) yang cukup terkenal dalam judul cerita Paskah “10 plagued Egypth”. Berawal dari penolakan Firaun atas permintaan Musa agar membiarkan orang Israel yang diperbudak bebas, serangkaian sepuluh tulah atau kutukan terjadi, air berubah menjadi darah, wabah katak, serangga kutu, lalat, bisul, hujan es, belalang, kegelapan, sampai wabah kematian, ini terjadi masa Nabi Musa sekitar abad 13-12 SM. Selanjutnya ada Wabah Athena 430 SM, sebagai pandemik yang paling awal tercatat. Gejalanya meliputi demam, haus, tenggorokan dan lidah berdarah, kulit merah melesu.
Kita pergi ke era Masehi awal, ada yang dikenal Wabah Anthonius tahun 165 M, diawali sejenis penyakit cacar dari orang Hun yang kemudian menyebar ke seluruh kekaisaran Romawi dan menewaskan 5 juta orang. Disebut wabah Antonius setelah seorang kaisar Romawi, Marcus Aurelius Antonius terjangkit dan tewas. Wabah ini berlanjut sampai 266 M, klimaksnya adalah ketika 5000 orang meninggal perharinya di Roma. Setelah Antonius selanjutnya Uskup Kristen Kartago, Cyprian, yang gantian terjangkit. Sebuah wabah baru yang diduga berasal dari Ethiophia, lalu kearah utara. Alih alih melarikan diri, penduduk Kartago kala itu malah menyebarkan wabah Cyprian lebih besar. Wabah ini dimulai tahun 250 M, dan terulang pada 444 M di Inggris.
Lanjut, ada Wabah Justinian di tahun 541 M yang menewaskan sekitar 50 juta orang atau 26 persen populasi dunia, wabah ini diyakini sebagai potret awal penyakit Pes, karna sama sama dibawa oleh tikus dan disebarkan oleh kutu. Di abad ke 7 M, sejarawan muslim klasik tidak ada yang melewatkan sebuah peristiwa dahsyat tentang wabah di Amwas, Palestina. Tepatnya 639 M, namanya Tha’un, mirip dengan kusta atau lepra, menyebabkan borok di kulit, kurang lebih 30.000 orang Syam meninggal akibat ini. Di abad 11, kusta ini menjadi pandemik di Eropa yang menyebabkan rumah sakit khusus kusta dibangun besar besaran. Sampai saat ini kusta masih eksis, menimpa puluhan ribu orang pertahun, ganti panggilan menjadi penyakit Hansen.
Di abad 13 M ada wabah yang paling eksis dari segala wabah, malapetaka besar yang hampir memusnakan Eropa, disebut sebagai Black Death. Sebuah bakteri Yersinia Pestis di kutu yang menyebar ke barat lewat migrasi tikus Rusia, awalnya hanya menyebabkan kematian massal tikus, lalu menjalar ke tubuh manusia. Virus ini mematikan jaringan seperti, jari tangan, kaki, ujung hidung menjadi warna hitam. Ole Jorgen Benedictown dalam bukunya The Black Death 1346-1353 menyatakan wabah ini masuk lewat Laut Kaspia pada musim semi 1346 M. Wabah yang lebih familiar dipanggil Pes ini diyakini menyebar ke seluruh penjuru Eropa berkat jalur perdagangan dari kapal kapal Italia. Jumlah korbannya lebih dari 200 juta jiwa. Bangkai berserakan seperti eksekusi manusia, potret tragisnya bisa kita lihat dari lukisan Pieter Brugel bertajuk “The Triumph of Death”.
Ada satu lagi yang hampir menyaingi eksistensi Pes, Smallpox namanya, atau kita mengenalnya sebagai wabah cacar. Dimulai pada tahun 1520 M, masuk ke ibu kota bangsa Aztek, Tenpchtitlan. Sepertiga penduduk disana mati, tak terkecuali raja Aztek. Penjajah Spanyol membawa virus ini ke benua Amerika dan menewaskan puluhan juta orang disana, sampai kota menjadi kosong dan berubah menjadi hutan dan padang rumput, cacar dianggap sebagai pembunuh terbesar yang dibawa Eropa ke Amerika. Kalau ditotalkan sampai abad 20 M, lebih dari 300 juta jiwa melayang.
Tahun 1642 M di China wabah Pagebluk melanda, bersamaan dengan kekeringan dan serangan serangga, di satu wilayah bisa sampai 40% penduduknya meninggal. Krisis pangan terjadi, saking laparnya orang memakan jenazah korban epidemi. 1690 M di Amerika Serikat, Yellow Fever atau Demam kuning lahir, dan menjadi semakin eksis setelah menjadi epidemi di tahun 1800-an ketika masa pemberontakan budak Haiti dengan korban sekitar 500.000 orang. Di masa yang sama, Malaria juga sedang naik daun, di Batavia saja dalam kurun 53 tahun 72.816 orang Eropa meninggal, sejak 1714 M. Budidaya Kina di Indonesia berawal disini, tepatnya tahun 1800-an ketika CH. F. Pahud menginstruksikan penanaman massal obat tradisional yang dipercaya menyebuhkan Malaria itu.
Abad 19 – 20, cukup banyak yang unjuk gigi disini, saling berlomba lomba siapa yang paling mematikan. Dimulai dari Rinderpest di tahun 1888-1897, yang mematikan 90% ternak di Afrika. Influenza atau Spanish Flu 1918 yang disebut virologis Amerika, Jeffery Taubenberger, sebagai The Mother of All Pandemics, betapa tidak sepertiga populasi dunia sebanyak 500 juta orang terinfeksi, dengan kematian lebih dari 50-100 juta. Bersamaan itu, Cholera yang muncul sejak 1817 di India kini menjadi pandemik dan memakan korban 800.000.
Meskipun pada saat itu mendapat julukan Flu Spanyol, bukan berarti virus tersebut berasal dari Spanyol, hanya saja pada saat itu Spanyol merupakan negara pertama yang mengumumkan adanya virus ini. Saat itu Spanyol tidak terlibat dalam Perang Dunia I (PD I), sehingga leluasa untuk memberikan informasi ini ke khalayak luas, dengan kata lain kebebasan pers masih terjamin. Flu Spanyol ini menyerang saluran pernafasan khususnya paru-paru, orang yang terkena virus ini memiliki gejala hampir sama dengan Covid-19 yaitu , sakit kepala dan kelelahan, diikuti batuk kering, hilang nafsu makan, dan keringat berlebih. Selanjutnya mempengaruhi organ pernafasan dan berkembang menjadi peneumonia atau komplikasi pernafasan lainnya yang menjadi penyebab kematian.
Titik kemunculan Flu Spanyol ini belum bisa dipastikan namun sebagian ada yang mengatakan bahwa virus ini mulai mewabah di kompleks militer Fort Rilley Amerika Serikat pada Maret 1918, di awal kemunculan virus tersebut, 700 orang dinyatakan positive disertai gejalanya, 40 orang dinyatakan meninggal dan sisanya dinyatakan sembuh namun dengan keadaan paru-paru yang sulit untuk dipulihkan.
Titik penyebaran virus ini yaitu saat PD I ketika tentara Amerika Serikat berperang di Eropa. Sehingga Eropa menjadi titik penyebaran terluas saat itu. Faktor lain penyebaran virus ini yaitu ketika para tentara pulang kerumah masing-masing dan menyebarkan virus tersebut kepada keluarga, desa, kota dan terus menyebar, ditambah dengan alat kesehatan yang saat itu belum lengkap dan memadai untuk penanganan virus, sehingga sulit untuk melakukan penyembuhan dan penemuan anti-virusnya, berbeda dengan Covid-19 yang kebenyakan menyerang usia lansia, justru virus Fllu Spanyol ini menyerang usia remaja usia 20 - 30 tahun.
Selanjutnya ada Pageblug Jrong atau Pes Jawa dan wabah Rabies di tahun 1920. Dengeu 1950, dari Thailand dan Filiphina. Marburgvirus di 1967, dan menjangkit Jerman, 80% penduduk Congo jadi korban. Ebola 1976 dari Congo, Afrika. HIV 1980 dari Haiti, menewaskan lebih dari 36 juta orang. Hantavirus 1993 di Amerika Serikat masa Perang Korea, 300-an korban. SARS 2002, Swin flu di tahun 2009, Rotavirus 2008, MERS 2012 di Arab Saudi dan Korsel, Monkeypox 2019 di Singapura, dan yang terakhir ini Covid-19 di 2020.
“Pandemi ataupun endemi, keduanya akan mempengaruhi stabilitas struktur sosial dan ekonomi, dan berimbas kepada gejala politik”, sebut Prof Emeritus, bidang Sejarah Pengobatan di Universitas Yalefrank. Wabah wabah ini sudah dapat dipastikan mempengaruhi arus gerak roda sejarah. Mari kita lihat contohnya. Wabah Athena yang akhirnya berujung pada kematian Sparta, Wabah Cyprian menggangu pertahanan Inggris dari serangan Kerajaan Pict dan Skotlandia, Saxon yang membantu Inggris kemudian menjadi penguasa pulau Inggris. Efek Wabah Justinian memadamkan rencana Kaisar Justinian untuk menyatukan kekaisaran Romawi, ekonomi kesulitan, menciptakan suasana apokaliptik dan penyebaran agama Kristen yang lebih cepat.
Masih dengan roda sejarah, Pes menyebabkan runtuhnya feodal, mendorong Eropa Barat menuju komersialisasi dan menjadi lebih modern dengan mengembangkan sistem ekonomi berdasarkan uang kontan. Smallpox menyebabkan ekspansi Eropa dan menurunkan populasi Amerika, 5-6 juta dalam kurun waktu 100 tahun. Pagebluk di China menjatuhkan Dinasti Ming dari kursi kekuasaan, sebelum akibat fatal dari serbuan Dinasti Qing, Manchuria. Yellow fever membuat Prancis mundur dari Amerika Serikat, kemerdekaan Haiti yang menang karena imunnya lebih tingga dibanding pasukan Napoleon. Rinderpest yang mempercepat penjajahan Eropa di Afrika.
Cholera yang meyebabkan perang Franco-Prussia, menurut Richar J. Evans juga sebab Revolusi Prancis 1832. HIV yang menyebabkan kemerosotan Haiti. Wabah HIV menyebabkan Revolusi sosial dan melengserkan Duvalier di 1986. Dan banyak lagi yang belum tersebutkan merinci disini. Kalau-kalau kita mengamini pepatah Prancis L’Histoire se Repete dari Keny Arkana, bahwa sejarah mengulang dirinya sendiri, apa yang akan terulang di masa COVID19 ini? Berani prediksi?
Cholera yang meyebabkan perang Franco-Prussia, menurut Richar J. Evans juga sebab Revolusi Prancis 1832. HIV yang menyebabkan kemerosotan Haiti. Wabah HIV menyebabkan Revolusi sosial dan melengserkan Duvalier di 1986. Dan banyak lagi yang belum tersebutkan merinci disini. Kalau-kalau kita mengamini pepatah Prancis L’Histoire se Repete dari Keny Arkana, bahwa sejarah mengulang dirinya sendiri, apa yang akan terulang di masa COVID19 ini? Berani prediksi?
RUJUKAN :
https://time.com/5561441/passover-10-plagues-real-history/
https://www.businessinsider.sg/coronavirus-pandemic-timeline-history-major-events-2020-3?r=US&IR=T
https://www.history.com/topics/middle-ages/pandemics-timeline
https://historia.id/sains/articles/wabah-wabah-penyakit-pembunuh-massal-P7eL5
https://historia.id/sains/articles/kala-black-death-hampir-memusnahkan-eropa-P4neV
https://wahdah.or.id/thaun-black-death-wabah-mematikan-abad-tengah/
https://www.bbc.com/indonesia/majalah-51959113
https://historia.id/article/tag/%20virus/1
https://www.mphonline.org/worst-pandemics-in-history/
https://www.livescience.com/56598-deadliest-viruses-on-earth.html
https://www.history.com/news/pandemics-end-plague-cholera-black-death-smallpox
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3291398/
https://katadata.co.id/berita/2020/03/25/sejarah-pandemi-dan-epidemi-di-dunia-yang-memicu-gejolak-politik


No comments:
Post a Comment