Perasaan menggumpal, kesal dan marah bersarang di dadaku. Kata-kata
saling berdesakan ingin keluar dari mulut. Dari awal aku beritahu ini adalah
cerita dimana kata-kata yang keluar dari mulut tak berlaku, kalimat yang
tertulis tak berarti, dan isyarat tubuh
hanyalah sia-sia belaka, ya….ini adalah cerita dimana bahasa tidak bermakna
lagi, dia tinggal tradisi masa lalu yang tak perlu dianggap dan diperdebatkan
lagi.
Cerita ini berawal dari hujan yang tak ada niat untuk berhenti, dia terus
menghujam tanah yang tak bersalah, tanah yang hanya menginginkan ada kesejukan
menyentuh dan merasap kedalam pori-porinya yang paling halus. Hujan yang datang serentak bergerombolan
terus mengguyur hingga pori-pori tanah tak mampu lagi meresapnya, dan lihat apa
yang terjadi? Air menggenang di atas permukaan tanah.
Setelah air menggenang hingga ketinggian satu meter lebih hujan
berhenti, mungkin dia mulai kelelahan dan tak ada tenaga yang cukup untuk terus
mengguyur tanah. Di atas genangan air itulah aku menemukan satu sosok perempuan
yang baru pertama kali aku temui, diatas perahu karet yang dibawa oleh petugas
penanggulangan bencana milik pemerintah kota. Perempuan itu cantik rupawan,
wajahnya elok mempesona, aku bisa menaksir umurnya hanya beda satu tahun dari
ku dan dengan perasaan yang sangat percaya diri aku coba berkenalan dengannya.
“Halo
aku Hida!, sapa ku.
Perempuan
itu tidak menjawab, tatapannya kosong seolah tak melihat apapun di depannya.
Sekali lagi aku coba berkenalan dengannya. Kali ini aku menulis nama ku di atas
selembar kertas putih “ aku Hida”. Alama, dia masih terdiam, tak ada kata yang
keluar dari mulutnya, menulis namanyapun tidak, bahkan tidak ada isyarat tubuh
yang dia berikan.
Tak terasa perahu karet yang aku tumpangi sudah sampai ke tempat
pengungsian, aku mengungsi bersama warga lainnya di tenda pleton buatan Tim
Basarnas. Ternyata perempuan itu juga mengungsi di tempat yang tak jauh dari
tendaku, aku menghampirinya dan mencoba untuk berkomunikasi dengannya.
Kali ini dia merespon komunikasi ku, dia tersenyum sambil melihat wajah
ku dan di sanalah aku melihat ada harapan di wajahnya. Dia memberikan harapan
kepada ku untuk mengenalnya lebih baik. Senyumnya yang manis menusuk hati aku
balas dengan senyum manis pula sebagai reaksi balik dari ku. Senyum itu
satu-satunya bahasa yang aku terima darinya, laki-laki mana yang tak jatuh di
lembah penuh pengharapan jika diberi senyum perempuan cantik seperti dia.
Senyum itu terpatri di dalam hati ku, senyumnya menjadi secercah cahaya penerang
hati di kala bencana banjir menimpa ku.
Tiga hari air surut, nampaknya tanah berhasil menyerap air hujan dengan
perlahan. Pengungsipun kembali ke rumahnya masing-masing, tidak terkecuali aku.
Aku kembali ke rumah yang tidak besar dan tidak mewah. Aku sudah dua tahun
hidup sebatangkara, ayah dan bunda ku sudah mati karena ditikam belati oleh dua
orang penjahat yang datang ke ruamahku malam-malam dua tahun lalu. Di kesendirianku
ini aku kembali mengenang senyuman perempuan di tenda pengungsian tiga hari yang
lalu, nampaknya dia menjadi candu, aku seperti orang sakau yang butuh sabu
untuk dihisap.
Setelah dua hari diam di rumah sekedar untuk merapikan barang-barang
yang tergenang banjir aku pun keluar rumah. Niat ku adalah mencari perempuan
itu, dengan mudah aku pun menemukannya, rumahnya hanya sejauh satu kilo meter
dari arah Barat rumah ku. Aku menghampirinya dan aku bertanya tentang kabarnya.
“Halo,
apa kabar?”
Lagi-lagi dia diam, bibirnya tak lagi tersungging manis. Kali ini malah
tidak ada gerak sedikitpun dari tubuhnya, sempat terbesit di kepala “apakah
perempuan ini lumpuh”. Ternyata dia tidak lumpuh dia bergerak, setelah aku
meninggalkannya beberapa saat. Hampir putus asa berkomunikasi dengan perempuan
itu, kenapa dia tidak mau membalas bahasa lisanku dan bahkan bahasa tulisan ku.
Tapi aku bukanlah laki-laki yang mudah menyerah. Satu minggu setelah
pertemuan itu, aku kirimkan dia sajak yang aku buat untuknya, aku menaruh
lembaran kertas itu di kotak surat rumahnya, dan setelah aku tinggal dia pun
mengambilnya. Nampaknya dia adalah perempuan yang pemalu, dia pun terlihat
membaca sajak ku. Aku menunggu balasan darinya, tapi sudah hampir satu minggu
sajak itu tidak di respon.
Usaha
tak cukup sampai di sana, waktu itu hari Senin sekitar pukul 21.00. Aku nekat
ke rumahnya dan aku bertemu langsung dengan dia. Aku mengulang kata-kata dalam
sajak ku, naas dia sama sekali menanggapinya.
Sudah aku bilang di awal cerita ini adalah cerita dimana bahasa tak bermakna. Memang sepanjang
aku berteman dengan perempuan itu, tidak ada lagi bahasa yang dia berikan
kecuali senyuman di tenda pengungsian itu. Lantas harus dengan apa aku
berkomunikasi dengannya jika bahasa lisan, tulisan dan isyarat tak berguna dan
bermakna di hadapannya. Jika bahasa tak punya guna maka cerita ini pun tak ada
guna, untaian huruf ini pun tak ada guna dan tak bermakna, karena saat dibaca
tulisan ini semuanya menguap keudara karena tokoh dalam tulisan inipun hanya
khayalan, dia hanya ada dalam ide ku sebagai penulis dan kau yang membaca tak
usah heran karena tulisan ini aku persembahkan kepada dia perempuan yang tak
berbahasa.


No comments:
Post a Comment