June 09, 2017

Perempuan Tak Berbahasa



Perempuan Tak Berbahasa
Oleh: Irvan Hidayat

Perasaan menggumpal, kesal dan marah bersarang di dadaku. Kata-kata saling berdesakan ingin keluar dari mulut. Dari awal aku beritahu ini adalah cerita dimana kata-kata yang keluar dari mulut tak berlaku, kalimat yang tertulis tak berarti,  dan isyarat tubuh hanyalah sia-sia belaka, ya….ini adalah cerita dimana bahasa tidak bermakna lagi, dia tinggal tradisi masa lalu yang tak perlu dianggap dan diperdebatkan lagi.
Cerita ini berawal dari hujan yang tak ada niat untuk berhenti, dia terus menghujam tanah yang tak bersalah, tanah yang hanya menginginkan ada kesejukan menyentuh dan merasap kedalam pori-porinya yang paling halus.  Hujan yang datang serentak bergerombolan terus mengguyur hingga pori-pori tanah tak mampu lagi meresapnya, dan lihat apa yang terjadi? Air menggenang di atas permukaan tanah.
Setelah air menggenang hingga ketinggian satu meter lebih hujan berhenti, mungkin dia mulai kelelahan dan tak ada tenaga yang cukup untuk terus mengguyur tanah. Di atas genangan air itulah aku menemukan satu sosok perempuan yang baru pertama kali aku temui, diatas perahu karet yang dibawa oleh petugas penanggulangan bencana milik pemerintah kota. Perempuan itu cantik rupawan, wajahnya elok mempesona, aku bisa menaksir umurnya hanya beda satu tahun dari ku dan dengan perasaan yang sangat percaya diri aku coba berkenalan dengannya.
“Halo aku Hida!, sapa ku.
Perempuan itu tidak menjawab, tatapannya kosong seolah tak melihat apapun di depannya. Sekali lagi aku coba berkenalan dengannya. Kali ini aku menulis nama ku di atas selembar kertas putih “ aku Hida”. Alama, dia masih terdiam, tak ada kata yang keluar dari mulutnya, menulis namanyapun tidak, bahkan tidak ada isyarat tubuh yang dia berikan.
Tak terasa perahu karet yang aku tumpangi sudah sampai ke tempat pengungsian, aku mengungsi bersama warga lainnya di tenda pleton buatan Tim Basarnas. Ternyata perempuan itu juga mengungsi di tempat yang tak jauh dari tendaku, aku menghampirinya dan mencoba untuk berkomunikasi dengannya.
Kali ini dia merespon komunikasi ku, dia tersenyum sambil melihat wajah ku dan di sanalah aku melihat ada harapan di wajahnya. Dia memberikan harapan kepada ku untuk mengenalnya lebih baik. Senyumnya yang manis menusuk hati aku balas dengan senyum manis pula sebagai reaksi balik dari ku. Senyum itu satu-satunya bahasa yang aku terima darinya, laki-laki mana yang tak jatuh di lembah penuh pengharapan jika diberi senyum perempuan cantik seperti dia. Senyum itu terpatri di dalam hati ku, senyumnya menjadi secercah cahaya penerang hati di kala bencana banjir menimpa ku.
Tiga hari air surut, nampaknya tanah berhasil menyerap air hujan dengan perlahan. Pengungsipun kembali ke rumahnya masing-masing, tidak terkecuali aku. Aku kembali ke rumah yang tidak besar dan tidak mewah. Aku sudah dua tahun hidup sebatangkara, ayah dan bunda ku sudah mati karena ditikam belati oleh dua orang penjahat yang datang ke ruamahku malam-malam dua tahun lalu. Di kesendirianku ini aku kembali mengenang senyuman perempuan di tenda pengungsian tiga hari yang lalu, nampaknya dia menjadi candu, aku seperti orang sakau yang butuh sabu untuk dihisap.
Setelah dua hari diam di rumah sekedar untuk merapikan barang-barang yang tergenang banjir aku pun keluar rumah. Niat ku adalah mencari perempuan itu, dengan mudah aku pun menemukannya, rumahnya hanya sejauh satu kilo meter dari arah Barat rumah ku. Aku menghampirinya dan aku bertanya tentang kabarnya.
“Halo, apa kabar?”
Lagi-lagi dia diam, bibirnya tak lagi tersungging manis. Kali ini malah tidak ada gerak sedikitpun dari tubuhnya, sempat terbesit di kepala “apakah perempuan ini lumpuh”. Ternyata dia tidak lumpuh dia bergerak, setelah aku meninggalkannya beberapa saat. Hampir putus asa berkomunikasi dengan perempuan itu, kenapa dia tidak mau membalas bahasa lisanku dan bahkan bahasa tulisan ku.
Tapi aku bukanlah laki-laki yang mudah menyerah. Satu minggu setelah pertemuan itu, aku kirimkan dia sajak yang aku buat untuknya, aku menaruh lembaran kertas itu di kotak surat rumahnya, dan setelah aku tinggal dia pun mengambilnya. Nampaknya dia adalah perempuan yang pemalu, dia pun terlihat membaca sajak ku. Aku menunggu balasan darinya, tapi sudah hampir satu minggu sajak itu tidak di respon.
Usaha tak cukup sampai di sana, waktu itu hari Senin sekitar pukul 21.00. Aku nekat ke rumahnya dan aku bertemu langsung dengan dia. Aku mengulang kata-kata dalam sajak ku, naas dia sama sekali menanggapinya.
Sudah aku bilang di awal cerita ini adalah cerita  dimana bahasa tak bermakna. Memang sepanjang aku berteman dengan perempuan itu, tidak ada lagi bahasa yang dia berikan kecuali senyuman di tenda pengungsian itu. Lantas harus dengan apa aku berkomunikasi dengannya jika bahasa lisan, tulisan dan isyarat tak berguna dan bermakna di hadapannya. Jika bahasa tak punya guna maka cerita ini pun tak ada guna, untaian huruf ini pun tak ada guna dan tak bermakna, karena saat dibaca tulisan ini semuanya menguap keudara karena tokoh dalam tulisan inipun hanya khayalan, dia hanya ada dalam ide ku sebagai penulis dan kau yang membaca tak usah heran karena tulisan ini aku persembahkan kepada dia perempuan yang tak berbahasa.

LKISSAH
LKISSAH

Forum Pecinta Ilmu Sosial dan Sejarah

No comments:

Post a Comment