December 03, 2015

Cerdas Menghadapi Pemira




    Oleh : Faishal Bagaskara

       Belum lama ini terdapat postingan berupa artikel yang mendiskreditkan perhelatan akbar tahunan, Pemira. Seperti mengatakan bahwa Pemira identik dengan politik kotor yang didalangi oleh organisasi – organisasi ekstra kampus. Namun amat disayangkan, bahwa yang menulis artikel tersebut juga merupakan salah seorang penggerak dari salah satu organisasi ekstra kampus. Sementara website yang digunakanpun juga dikendalikan oleh oknum – oknum yang berasal dari organisasi ekstra yang sama dengan si pembuat artikel. Tentu kita bertanya - tanya ada apa gerangan ? apakah ini juga merupakan bagian dari manuver atau taktik mereka dalam Pemira ? 
  
            Kemudian  manuver lain yang sudah dilancarkan adalah dengan melakukan sosialisasi kepada mahasiswa secara massive, di antaranya dengan pendekatan seperti ngobrol masalah kuliah, diskusi, dan lain – lain. Namun sangat disayangkan, di tengah pendekatan itu, masih saja  terdapat omongan yang menyudutkan salah satu calon kandidat dari salah satu orgasnisasi ekstra yang dilakukan oleh kader organisasi ekstra lain. Dengan memaparkan berbagai macam kekurangan dari pada calon kandidat tersebut walaupun kabar tersebut belum tentu benar. Meskipun sifatnya negative, namun Hal semacam ini sudah menjadi kultur, bahkan di ranah Pemilu nasional  hal ini lumrah terjadi. 

          Dari dua fenomena di atas,  tentu akan  menjadi peluru  yang akan memperburuk perhelatan Pemira. Melihat Kasus yang pertama,  Bukan berarti  mahasiswa  harus bingung atau terpengaruh dengan postingan apapun terkait Pemira, hingga memutuskan memilih untuk  Golput (Golongan Putih). Atau menjadi orang yang mudah diperdaya dengan isu – isu yang belum tentu benar dari mana datangnya hingga menjadikan kita manusia bermoral budak (sklavenmoral) jika mengacu kepada kasus yang kedua.  Teringat Rene Descartes, Segala yang ada di dunia ini harus dicurigai (de omnibus dubitandum) apa lagi menjelang Pemira. 

         Maka sudah sepatutnya kita sebagai pemilih yang cerdas haruslah memeriksa dengan teliti (tabayyun) berhati –hati dan tidak tergesa – gesa terhadap sebuah berita atau kabar yang datang (tatsabbut). Jadikan Pemira tahun ini sebagai miniatur politik sekaligus sebagai wahana belajar untuk menjadi pemilih yang cerdas dalam memilih pemimpin yang memiliki kredibilitas tinggi. Itulah raison d etre seorang intelegensia, yaitu mahasiswa.

LKISSAH
LKISSAH

Forum Pecinta Ilmu Sosial dan Sejarah

No comments:

Post a Comment