November 26, 2015

Tantangan Menghadapi Jihad Freelance Di Indonesia

Tantangan Menghadapi Jihad Freelance Di Indonesia

    Aksi teror yang terjadi di Paris, Prancis pada 13-14 November 2015 menjadi santer diberitakan berbagai media nasional dan internasional. Teror yang tak kurang menewaskan 129 orang kembali berhasil menyedot perhatian dunia, tak terkecuali  di Indonesia. Beritanya muncul diberbagai media, mulai dari berita cepat lewat jejaring sosial media, televisi dan koran. Respon masyarakat dari berbagai kalanganpun bermunculan, mereka mengecam keras peristiwa teror ini. Menurut berita yang tersebar di berbagai media, aksi ini dilancarkan oleh NIIS (Negara Islam Iraq dan Suriah) dengan alasan membalas serangan udara yang dilayangkan Prancis terhadap pejuang NIIS di Irak dan Suriah. Aksi teror yang mereka lakukan di Paris menimbulkan banyak kekhawatiran di Indonesia, trauma masa lalu muncul kembali kepermukaan, teror bom Bali satu dan dua, dan teror bom bunuh diri di Hotel JW Marriot, teringat kembali dibenak masyarakat Indonesia.
    Jumlah warga Indonesia yang mengikuti NIIS tidak kurang dari 500 orang, jumlah yang  cukup banyak untuk negara sekaliber Indonesia yang dikenal sebagai negara Islam yang moderat. Banyaknya warga Indonesia yang ikut berpartispasi melancarkan misi NIIS tidak terlepas dari tingginya intensitas berita tentang NIIS yang dipengaruhi oleh kecanggihan teknologi. Sekarang semua orang dari berbagai kalangan dan usia bisa dengan cepat mengakses informasi dari berbagai belahan dunia. Jaringan internet bisa diakses dimana saja dan kapan saja, melalui berbagai macam gadget canggih yang sekarang sudah menjadi barang yang dimiliki oleh banyak orang Indonesia. Perkembangan teknologi internet ini tentunya dimanfaatkan baik oleh NIIS dalam melancarkan aksinya. Mereka dengan mudah menyebarkan ideologi mereka tentang jihad melawan kelompok-kelompok yang tidak mengikuti ideologinya, hal ini terjadi sejak Al-Adnani setahun yang lalu mengeluarkan fatwa untuk menyerang musuh-musuhnya dimanapun mereka berada. 
  Dengan melalui jaringan internet seperti, facebook, twitter, instagram, dan youtube NIIS meyebarkan ideologinya dengan sangat mudah. Jejaring sosial seperti yang disebutkan tadi adalah yang paling banyak diakses oleh orang-orang Indonesia, dengan kontinuitas yang tinggi maka secara perlahan tapi pasti ideologi mereka merasuk dalam mindset masyarakat, terutama pada golongan anak muda yang setiap harinya pasti mengakses internet, dan ditambah dengan daya kritis yang lemah terhadap suatu informasi. Sebagai contoh pada bulan Juli 2014 Indonesia dikejutkan dengan video orang Indonesia di youtube yang mengajak warga Indonesia bergabung dengan NIIS, hal ini telah membuktikan bahwa efektifitas jaringan Internet sebagai media informasi ideologi mereka. 
    Masalah yang sangat dikhawatirkan dari derasnya informasi tentang NIIS adalah, jihad freelance dimana jihad ini bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja,  orang yang melakukan jihad tipe ini bisa dengan cara meniru teknik pembuatan bom dari kelompok teroris yang bisa diaksesnya lewat internet dan juga meniru teknis pengebomannya, yang melakukanya bisa siapa saja tanpa di organisir. Hal ini dimungkinkan terjadi karena ideologi NIIS telah meresap secara masif dimasyarakat. Para aktor atau perilaku jihad rela mati karena mereka menggap bahwa mati fisabilillah adalah jalan terbaik untuknya dan untuk kemajuan Islam. Jihad freelance ini  bisa saja hadir dan merebak di Indonesia seiring dengan meningkatnya aksi yang di lancarkan oleh NIIS diseluruh dunia dengan motif keagamaan yang mereka bawa dan secara historis Indonesia mempunyai perjalan panjang mengenai aksi radikal atas nama agama. Mulai dari Darul Islam yang motori oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo , Jemaah Islamiyah dan kelompok-kelompok radikal lainya. Meskipun pemerintah sudah sejak dulu berusaha mengantisipasi adanya gerakan ini namun perlu diwaspadai bahwa daerah-daearah yang pernah di duduki oleh kelompok-kelompok tadi masih meninggalkan jejak ideologinya dalam kalangan masyrakat sekitar, karena sesungguhnya ilmu-ilmu yang mereka telah tanamakan tidak akan hilang melainkan beranak-pinak dan berkembang tanpa bisa dikontrol.
   Jihad freelence yang dikhawatirkan timbul di Indonesia ini menjadi tantangan untuk pemerintah dan seluruh warga Indonesia. Karena wujudnya telah terlihat secara jelas dengan menganilisis peristiswa yang sudah terjadi, tercatat sejak tahun 1981 sampai tahun 2012 aksi teror bom telah terjadi diberbagai wilayah di Indonesia. Dalam mengantisipasi terorisme, terutama terorisme yang disebut dengan jihad freelance harus dibentuk kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat. Melakukan sosialisasi terkait pentingnya menjaga kerukunan dalam beragama, dan keutuhan negara Indonesia dan menegakan hukum yang sesuai dengan UU No 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Terorisme. Tindakan preventif ini sangat berguna untuk menjaga kestabilan negara, sehingga pada akhirnya jihad freelance tidak terjadi dan kalaupun nanti jihad freelance ini terjadi pemerintah dan masyarakat harus merapatkan barisan demi keutuhan bangsa dan negara IndonesiaIH
LKISSAH
LKISSAH

Forum Pecinta Ilmu Sosial dan Sejarah

No comments:

Post a Comment